Wednesday, 6 May 2015

Tatapan 7 Menit



Aku sendiri sudah lupa dengan hitungan berapa lama Peter tidak menghubungi kembali semenjak kejadian malam natal tersebut. Memang, Josh tidak pernah alpa menengokku. Hubungannya dengan Margot juga tidak ada masalah meskipun, kau tahu kan, mereka seperti kapa diterpa badai alias berantakan dan kacau. Aku tidak mau ikut campur lebih jauh dengan masalah antara kakakku dengan Josh. Oh sudahlah, aku tidak mau Margot kembali ke Inggris dengan keadaan masih marah padaku (iya, aku tahu ia bukan Kitty yang betah marah berhari-hari). Tetapi ini berbeda. Meski aku tahu seharusnya sudah biasa saja perasaanku terhadap Peter tetapi hari ini aku rindu dirinya.

"Lara Jean, kau mau ikut aku dan Kitty makan siang? Dad sepertinya tidak bisa menemani. Ku rasa dirimu sedang tidak ada janji dengan siapapun", Margot, sebagai kakak yang baik dan mumpung masih ada di rumah, menawarkanku untuk santap siang di luar. Asyik maraton DVD semalaman membuat kami lupa menyiapkan makanan untuk hari ini. Sarapan pun hanya sereal sisa milik Kitty (tentu kami harus membujuknya agar ia mau berbagi), apalagi untuk makan siang. Untung saja, pagi tadi Dad mendapat telepon dari rumah sakit dan tampaknya tidak akan pulang hingga waktu makan malam.

"Hmm entahlah. Aku mungkin akan mencari makan sendiri. Kau pergi saja. Aku akan berkeliling blok menggunakan sepeda Kitty. Boleh kan?", aku hanya malas saja. Rasa rindu ini sepertinya terlalu berat. 

"Kau serius? Sejak kapan kau memilih untuk sendirian? Halo? Beberapa hari lagi aku akan kembali ke Inggris. Apa kau tidak ingin menghabiskan sisa liburanku dengan aku?", Margot bersikeras membujukku. Tetapi aku juga bersikukuh dengan pilihanku. Margot akhirnya menyerah. Ia mengambil kunci mobilnya yang tergelatak di atas meja ruang tamu. Kitty mengikuti di belakang dan tatapan herannya melekat ke arahku. Aku hanya melambaikan tangan dan mengucapkan hati-hati.

Tidak berselang lama, aku mengeluarkan sepeda milik Kitty dari garasi. Aku tidak malu meski sudah SMA tetapi aku masih menggunakan sepeda. Tragedi tabrakan itu masih menghantuiku dan aku masih tidak mau menyetir terlalu sering. Apalagi jika ada Margot. Dia bisa sama cerewetnya dengan Mom.

Aku memutuskan berkeliling sejauh kakiku mampu mengayuh. Siapa tahu aku menemukan kedai unik atau hanya sebatas tukang es krim keliling. Pikiranku sedang tidak menyenangkan, begitu pula dengan hatiku. Aku sudah tidak mau menghubungi Peter karena hasilnya akan sama saja. Dia tidak akan membalas pesanku. Jadi buat apa aku repot-repot menanyakan kabarnya. Toh, hubungan kami juga sudah berakhir. 

Tanpa sadar ternyata kaki dan tanganku mengarah pada kedai yang biasa kami singgahi selepas sekolah. Aku juga tidak menolak ketika otakku memerintahkan untuk memarkir sepeda dan masuk ke dalam. Aku, entahlah, berprasangka akan bertemu Peter disini. Melihatnya di kursi favorit kami.

sumber
Aku duduk. Tentu di tempat biasanya. Memesan makanan yang seperti biasa (dan kurasa mereka sebenarnya tidak perlu menanyakan pesananku). Sembari makan, mataku melihat sekeliling dengan harapan akan bertemu sosok Peter. Aku rindu wajah tampannya (aku menyesal mengatakan bahwa dirinya cantik) dan gaya angkuhnya itu. 

Ketika makananku tandas, aku juga tidak segera pergi. Hatiku masih ingin berlama-lama disini mempercayai bahwa pasti dia akan datang walaupun aku belum memutuskan apa yang aku lakukan jika benar dirinya mampir. 

Oh, well, sudah 20 menit aku menunggu tetapi hasilnya nihil. Aku pun menyerah. Meletakkan beberapa penny sebagai upah di atas meja dan melangkah pergi. Aku keluar dan mengambil sepeda Kitty, siap kembali pulang. Aku tidak begitu memperhatikan sekililingku. Aku sudah akan mengayuh sesaat ketika deru mobil yang sangat aku hafal mendekat. Iya. Itu pasti Peter, pikirku. 

Aku siap. Tunggu. Aku tidak siap. Aku masih tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Menghampirinya dan menanyakan kabarnya? Pura-pura tidak kenal seperti sebelum semuanya yang sudah kami lalui? Atau hanya menyapanya dari kejauhan? Aku tidak bisa memutuskan. Mobilnya berhenti. Pintunya terbuka dan kulihat sosok tinggi Peter melangkah turun. Oh syukurlah, dia datang sendirian rupanya. Sembari merapikan penampilannya tidak ku sangka mata kami bertatapan. Aku membeku seketika. Masih tidak melakukan apa-apa. Waktu berjalan sangat lambat. Aku kehilangan hitungan. Tujuh menit. Mungkin aku sudah bertatapan dengan Peter selama tujuh menit dan tidak ada satupun dari kami yang membuat langkah pertama.

Apa kau bisa menebak apa yang akan terjadi di antara kami setelah tujuh menit itu?

---

fan fiction ini terinspirasi dari novel To All The Boys I've Loved Before karya Jenny Han. Semua tokoh adalah milik Jenny Han.

No comments:

Post a Comment