Thursday, 7 May 2015

Pekerjaan Atas Nama Cinta



Pembaca setia blog ini pasti sudah tahu bahwa semenjak aku bergabung bersama tim Kompas MuDA semasa SMA dulu, kegiatanku tidak lagi hanya berkutat dengan bidang akademis. Aku pernah bergabung di dalam kepanitian kecil milik sekolah yang kala itu sedang mengadakan lomba debat bahasa Inggris. Lulus SMA, aku pernah mencicipi "bermain" dengan teman-teman dari TEDxTuguPahlawan selama kurang lebih 1,5 tahun. Kemudian mendapat koneksi baru lagi gara-gara bergabung dengan tim di Surabaya Youth Carnival. Belum lagi keaktifanku kala itu bersama Komunitas Tumblr Surabaya, Goodreads Indonesia Regional Surabaya, Klub Buku Surabaya, dan membantu operasional sebuah start up bernama Lendabook

Aku merasa deretan pengalamanku bermain-main itu masih belum cukup sebagai bekal untuk melamar pekerjaan setelah selesai menempuh pendidikan S1. Dari pengalaman itu juga, aku sedikit demi sedikit memahami diriku yang ternyata tidak bisa bekerja dalam organisasi yang kelewat "saklek", aturan seperti dalam pemerintahan yang kaku (cara berpakaian dll), atau perilaku-perilaku senioritas (termasuk di dalamnya durasi rapat atau meeting yang kelewat tidak masuk akal). Oh iya, aku pernah berpartisipasi dalam HIMA jurusan namun sayangnya tidak bertahan lama (ya, karena "saklek" itu tadi). Aku juga pemegang paham, "do what you love and the money will follow". Aku percaya bahwa mau sebesar apapun gaji yang akan diterima selama melakukannya dengan tidak ikhlas ya tidak akan barokah. Maka dari itu, aku dan salah seorang temanku, Astro namanya, sempat berpikiran bagaimana kalau lebih baik memiliki 2 pekerjaan: satu yang dijalankan atas nama pemenuhan kebutuhan hidup (membayar tagihan dan cicilan) dan satu lagi dijalankan atas nama kecintaan akan suatu bidang tertentu. Jadi, ketika sedang suntuk dengan pekerjaan-atas-nama-butuh-duit, kita masih bisa mendapat uang dari pekerjaan-atas-nama-cinta.

sumber

Aku tengah melakukan hal tersebut. Gara-gara pengalaman di Kompas MuDA, aku jadi ketagihan untuk menyelenggarakan acara, atau minimal, sebuah acara gathering sederhana. Bertemu orang-orang baru itu menyenangkan, istilah gaulnya, melebarkan koneksi (dan jangan lupa untuk menjaganya ya!). Well, aku kini sedang melakukannya bersama teman-teman dari Studentpreneur. Menjabat sebagai Community Manager, aku merasa tertantang dengan proyek-proyek yang diberikan kepada perusahaan (hmm...masih takut-takut sedikit sih). Ketika menerima tawaran untuk bergabung bersama mereka, aku sudah tahu konsekuensinya. Aku sedang berjuang untuk lulus. Namun yang tidak aku duga adalah pekerjaan lain yang harus aku lakukan untuk melancarkan studiku ini (bukan, topik penelitianku menyenangkan kok). Apabila gajinya dibandingkan dengan kerjaanku untuk menangani acara, memang yang ini lebih besar, tapi apakah aku hanya mencari gaji saja?

Kata orang (dan kata artikel di situs hits belakangan ini) mumpung masih muda, awal 20 hingga awal 30, tidak ada salahnya bekerja untuk mencari pengalaman, untuk memperluas jejaring (yang siapa tahu bisa membantu untuk mendapatkan beasiswa S2), bukan semata-mata untuk uang. Artikel tersebut juga diperkuat dengan buku-buku yang aku baca (baca bukunya Rhenald Kasali, Paul Arden, dan penulis self help asik lainnya) yang mengatakan bahwa pengalaman di masa muda yang bisa membantu di masa tua nanti adalah hal yang seharusnya dicari ketika masih berusia 20an

Sayangnya tidak semua orang setuju dengan hal itu. Orang tuaku? Oh mereka sangat setuju. Bagi mereka, ijazah S1 di Indonesia tidak bisa menjadi jaminan seseorang mendapat pekerjaan. Kalaupun mendapat pekerjaan, yah, tahu sendiri bagaimana kan? Maka dari itu, mereka yang awalnya sempat meragukan kemampuanku untuk membagi waktu antara pekerjaan di Studentpreneur dengan skripsi akhirnya kini percaya dan yakin. Malah mereka menyarankan agar aku bisa bertahan disana. Yang tidak setuju adalah pihak yang merasa bahwa sebagai mahasiswa ya sebaiknya belajar saja, buat apa bekerja. Baik secara eksplisit maupun implisit, saran untuk aku keluar dari posisi ini sudah sering dilontarkan. Dari yang sebatas saran hingga teguran. 

kalau terlalu banyak orang, bercandanya jadi kurang greget // sumber

Di samping itu, bekerja bersama teman-teman Studentpreneur ini punya atmosfer yang menyenangkan. Studentpreneur adalah sebuah start up yang bergerak di bidang media berbasis online dengan topik mengenai dunia kewirausahaan dan target pasarnya adalah anak muda (di bawah usia 30). Perlu diketahui, bekerja di start up dari kacamataku adalah seperti bekerja pada industri kreatif. Mungkin kamu perlu baca sebuah artikel asik tentang "Mengapa Kamu Sebaiknya Tidak Bekerja di Start Up". Di Studentpreneur, bosku malah menyarankan aku untuk mewarnai rambutku menjadi biru muda ketika aku bertanya apakah aku boleh mewarnai rambutku menjadi merah. Bosku juga malah menyarankan padaku untuk berpenampilan yang unik agar menonjol dan lebih mudah diingat ketika aku bertanya pakaian apa yang seharusnya aku kenakan untuk mengahadiri acara dan mewakili perusahaan. Belum lagi teman-teman yang (walaupun aku selalu di-bully sih...) sangat terbuka dengan berbagai hal. Setiap teguran yang diucapkan baik oleh tim maupun oleh bos disampaikan layaknya kami berada pada satu garis horizontal yang sama. 

Hal-hal tersebut (dan juga yang aku temukan dari bermain-main dengan organisasi di luar kampus) tidak bisa ditemukan dalam suatu departemen pemerintahan atau mugnkin perusahaan yang sudah kadung "saklek". Sehingga, wajar saja bagiku saat aku berada di dalamnya, aku merasa agak tidak betah. Aku juga merasa tidak nyaman untuk berpura-pura setuju atau berpura-pura suka (dan kemudian aku membaca How the World Works dan mereka harus setuju agar tetap hidup).  Dan aku rasa, hubungan dalam sebuah lingkungan kerja yang "saklek" ialah vertikal, bukannya horizontal (seperti yang disarankan oleh pak Hermawan Kartajaya).

Bisa saja kita jago dalam bidang akademis yang tengah kita tempuh, namun apakah hal tersebut menjadi jaminan bahwa bidang tersebut yang kita cintai jika nanti menjadi sebuah pekerjaan? Aku kenal dengan seorang teman, Prasetya, yang tidak perlu diragukan lagi kemampuan otaknya. Dia berkuliah di kampus yang punya nama dengan jurusan yang tidak pernah sepi peminat. Sayangnya, ia lebih mencintai menggambar daripada berurusan dengan angka dan hitungan. Itu baru salah satu contoh. Aku pun demikian. Secara akademis aku bukanlah yang terbaik namun juga bukan yang terendah. Aku suka dengan apa yang aku pelajari, tetapi aku tidak yakin kalau menjadi orang di belakang meja adalah pekerjaan yang bisa aku nikmati. Oleh karena itu, aku seringkali berada di depan, menjadi tim marketing, publication manager, public relations, dan kini community manager

sumber

Jadi, dari tulisan yang panjang sekali ini aku ingin menyampaikan bahwa semasa muda, semasa kuliah, jangan bermain aman dengan mengandalkan ijazah. Sudah pernah lihat bagaimana ramainya Bursa Kerja atau Career Expo? Kalau kita tidak mau berada dalam posisi itu, membawa-bawa map dan bernampilan rapi, ya segera gali potensi diri. Mumpung juga masih mahasiswa, aktif saja diberbagai organisasi. Wajar kok kalau kita menjadi kutu loncat, namanya juga dalam pencarian kesesuaian hati dengan pekerjaan. Sudah dapat pekerjaan sewaktu kuliah tingkat akhir? Usahakanlah untuk dipertahankan. Minimal bertahan selama setahun atau dua tahun. Kamu maunya menjadi wirausaha? Lakukan sedini mungkin, mulai dari sekarang. Ketika kamu sudah lulus, kamu tahu apa yang akan kamu kerjakan (ketimbang bangun tidur setelah wisuda dan bingung apa yang harus dilakukan). Tapi kalau kamu tidak mau repot jungkir balik di masa kuliah, silahkan saja. 

Aku tahu, aku hanya bocah tengil yang masih berada pada awal usia 20an. Aku hanya ingin berbagi kisah. Untung-untungan bisa menjadi bahan intropeksi diri kita masing-masing :)

No comments:

Post a Comment