Wednesday, 6 May 2015

Menuju Ketidakpastian



Bukankah kita semua hidup dalam suatu kondisi dimana semuanya serba tidak pasti? 

Hidup itu pasti berujung mati. Tetapi mati tidak memiliki waktu yang pasti.

Berbicara soal apa yang akan terjadi selanjutnya setelah ini, akan datang banyak asumsi. Mungkin saja akan ada hal yang menarik atau sebaliknya. Atau bahkan hal-hal yang tidak kita duga malah yang terjadi ketimbang apa yang sudah direncanakan dengan sangat matang.

Manusia, katanya, terbagi menjadi dua: yang terbiasa mempersiapkan secara rapi dan terstruktur, dan yang terbiasa untuk melakukan semuanya dengan serba spontan tergantung sumber daya yang ada pada saat itu. Sayangnya, orang yang berada pada kategori pertama sering kali tidak memikirkan bahwa dalam setiap perencanaan yang telah ia buat akan selalu ada faktor "ketidakpastian" sehingga ketika perencanaannya meleset, ia jadi panik. Oh benar, yang dimaksud dengan "ia" di sini sebenarnya adalah diriku sendiri.

Aku terbiasa membuat semua hal memiliki jadwal yang pasti. Aku tahu apa yang harus aku lakukan pada hari dan waktu tertentu dan apa yang harus aku lakukan setelah kegiatan tersebut. Semua sudah tersusun dengan baik. Seperti yang sudah aku tulis sebelumnya, aku sering sekali melewatkan hal yang serba tidak pasti sebagai sebuah variabel. Yang paling mudah ya tentu saja cuaca. Tiba-tiba hujan dan membuat kacau semua jadwal pengiriman barang atau pembubaran kelas yang molor hingga 15 menit mempengaruhi jadwal pertemuan penting. Dari banyak pengalaman ketidakpastian yang sudah aku alami, masih saja idealis alias sok menjadi orang yang berjanji bisa melakukan aktivitas sesuai dengan yang sudah dirancang dan ketika meleset menjadi marah tidak karuan. Aku seringkali memproklamirkan diri sebagai orang yang disiplin dan tepat waktu namun sayangnya, belum profesional. Masih saja rasa panik yang didahulukan ketimbang mencari solusi.

sumber
Kalau kata bos besar di kantor, sistem pendidikan kita sudah punya hasil yang pasti. Maksud beliau adalah, (maha)siswa yang rajin, mengerjakan tugas-tugas dengan serius, dan bertingkah laku baik pasti akan mendapatkan ganjaran yang baik pula. Berbeda dengan kehidupan selepas kita dari pendidikan formal, semuanya menjadi tidak pasti. Hari ini bisa makan enak di restoran Jepang ternama, belum tentu kita besok bisa melakukan hal serupa. Siapa tahu esok hari ada keperluan mendadak dan mendesak yang membuat kita harus menguras tabungan. Karena terlalu lama orang-orang di Indonesia pada umumnya berada pada sistem pendidikan formal yang bersifat pasti, ketika mereka lulus, mereka menjadi mudah stress dan depresi menghadapi kehidupan nyata. Itu kata bos besar lo ya. 

Kembali lagi pada konteks bahwa kita sedang hidup dalam semua hal yang serba tidak pasti, apakah kita sudah siap? Semisal 7 menit lagi yang terjadi adalah pemadaman bergilir, apa kita sudah siap bergerah ria karena kipas angin jadi tidak berfungsi? (Itu cuma contoh sederhana sih).

Karena aku suka membaca, aku ingin berbagi bahan bacaan yang bisa dijadikan referensi agar diri kita bisa menjadi lebih siap dengan yang tidak pasti ketimbang yang pasti. 



Buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor yang paling aku rekomendasikan untuk dibaca. Ketidakpastian yang dialami oleh 30 orang mahasiswa ini lebih "seru" lagi karena mereka berada di negeri orang yang tidak semuanya bisa berbahasa Inggris. Setidaknya, kita bisa mengambil pelajaran bahwa melatih diri ke arah yang tidak pasti menjadikan diri kita semakin tangguh. Aku sendiri masih belajar untuk mengendalikan emosi agar tidak terlalu cepat meledak begitu semuanya berantakan. 

Kalau menrutmu, apa yang akan terjadi 7 menit lagi?

1 comment:

  1. weuuu sama hz, suka kesel2 sendiri kalo hal yang udh disiapin baik2 trus meleset hahaha
    kalo kata dosenku stress itu penting. kapasitas seseorang ditentukan dari seberapa banyak stress yang dapat ia manajemen. huhuw pengen pinjem buku2nya hz kapan2 ^^

    ReplyDelete