Tuesday, 7 April 2015

Membaca, Istana Memori, dan Berpikir

Have you ever spotted someone read in a crowd?

Jangan tanya kalau di negara maju seperti Singapura, atau bahkan Amerika Serikat sekalipun. Kamu pasti sudah bisa menemukan orang-orang yang lebih banyak menggunakan waktu "luang" mereka dengan membaca buku. Di Indonesia, aku pribadi saja jarang sekali melihat yang seperti itu. 

Sebagai seorang pembaca buku, well, an avid reader anyway, aku selalu terbiasa membaw bacaan kemanapun aku pergi. Entah itu berupa fisik ataupun hanya berupa digital yang aku simpan dalam telepon selular. Jaga-jaga, jika ada waktu yang terbuang percuma, maka aku bisa memanfaatkannya untuk melanjutkan cerita yang tengah aku nikmati. 

via hotdudesreading

Aku juga sudah sering membaca di keramaian, ambil kata ketika ada janji temu dengan teman dan ternyata aku yang lebih dulu tiba, aku menunggu sembari membaca. Entah itu berdiri atau duduk jika di sekitar situ ada kursi. Aku sih tidak merasa malu, namun masih merasa risih ketika banyak orang yang lewat dan kemudian melihat dengan tatapan heran. Menurut mereka (mungkin) orang yang menghabiskan waktunya dengan membaca ketika menunggu atau mengantre adalah fenomena yang aneh daripada seseorang yang menunggu dengan memainkan ponselnya. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga orang kecanduan membaca, sama halnya dengan mereka yang kecanduan eksis dan post apapun di media sosial, aku tidak bisa berhenti. Namun, membaca ini adalah hal yang berbeda. Hal yang bisa membawa banyak manfaat bahkan ketika nanti kita punya keturunan.

Aku tengah megerjakan skripsi dan sebagian besar jawaban dari para informanku mengenai kegemaran mereka akan membaca adalah ada faktor orang tua disana, Sebagian merasa karena sedari kecil orang tua sudah mengenalkan pada buku dan pergi ke toko buku setiap minggunya, sebagian lagi mengatakan kalau mereka merasa seperti gen bawaan, tanpa orang tua memberi stimulus, mereka jadi ikut suka membaca. 

Pembaca seperti itu tumbuh dan berkembang dengan buku. Alias, meski tidak secara sadar dan secara instruksional melakukan Early Literacy Program, para informanku itu sudah tertata dengan baik cara berpikirnya. Mengenalkan bahan bacaan sejak dari anak-anak utamanya adalah membuat mereka cinta dengan buku terlebih dahulu, lalu membuat mereka penasaran dengan apa yang ada di dalamnya, mendorong mereka belajar membaca dan tahu kosa kata. Namun jika terus dilakukan, cara pikir mereka jadi lebih terstruktur,

Ada yang pernah membaca bukunya Thomas Harris, tetralogi Hannibal, atau menonton serial TV Sherlock yang dibintangi Benedict Cumberbatch? Kedua tokoh utamanya memiliki sesuatu yang disebut dengan "Istana Memori". Mereka menata cara berpikirnya ke dalam suatu bentuk sistem katalogisasi dan klasifikasi yang mereka sendiri pahami. Pertimbangannya hanya berupa kecepatan mereka bisa memanggil kembali (recall) ingatan tersebut ketika mereka butuh. Bentuk ingatannya beragam. Dari yang hanya berupa memori sederhana hingga pengetahuan yang kompleks.

Apabila dari kecil manusia sudah terbiasa membaca buku, sudah terbiasa dibimbing untuk mendapatkan informasi secara benar, dan sudah terbiasa dibiarkan berpikir kritis, efeknya ialah manusia bisa membangun "Istana Memori:-nya sendiri. Dengan begitu, mereka akan lebih mudah mendapatkan informasi. Lebih-lebih menjadi tidak asal bicara dan berpendapat sebab mereka tahu bagaimana seharusnya berpikir itu.

Kegemaran membaca ditambah sekolah melalui institusi pendidikan (sekolah secara formal) lebih membantu anak-anak kita nanti berpikir secara lebih terstruktur, asalkan kita sebagai pendidik tidak mematikan rasa kritisnya (courage, critical thinking). Ditarik lebih jauh lagi, anak-anak itu kelak juga tidak akan mudah percaya dengan suatu isu yang belum tentu benar, tahu bagaimana mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang korelatif. Serunya, mereka tidak asal memajang eksistensi diri di media sosialnya, tidak seperti kebanyakan remaja masa kini.

Aku pernah menulis tentang peran program literasi dini terhadap generasi Z (atau apalah nama generasi itu). Seperti yang aku sebutkan sebelumnya, itu semua berasal dari para orang tua. Kita tidak mau kan, anak-anak kita nanti hanya pintar menggunakan alat elektronik tetapi tidak bisa berpikir secara kritis bahkan terstruktur.

via rebloggy

Kembali lagi pada pernyataan para informanku bahwa ada kemungkinan anak-anak menjadi suka membaca karena perihal genetis. Jadi, sudah sejauh apa kamu membiasakan dirimu untuk suka membaca? Apakah sudah biasa menghabiskan waktu "luang" dengan membaca walaupun itu di depan publik? :)

No comments:

Post a Comment