Wednesday, 22 April 2015

Galau Masa Depan

Apa yang membuatmu takut?

Tulisan ini aku rasa akan menjadi sebuah tulisan yang lebih banyak bersifat personal ketimbang opini (eh, sama saja ya?).

Dang! Pertanyaan tersebut dilontarkan ketika aku menginjak usia awal 20an. Ketika pertanyaan selanjutnya menjadi, "kamu mau lulus kapan?" dan sudah pasti ditebak akan seperti apa bentuk-bentuk pertanyaan yang mengikutinya.

Apabila pertanyaan itu aku jawab sekarang, yang bisa aku beri ialah aku masih merasa gamang terhadap masa depanku. Galaunya bukan karena tidak ada pilihan, melainkan ada banyak pilihan yang bisa aku ambil. Dari melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi atau mencoba dunia kerja profesional. Alhamdulillah, kesempatan-kesempatan tersebut ada di depan mata.

Ada yang bilang, hiduplah di masa kamu hidup atau hiduplah se-hidup-hidupnya. I am living my life dan aku menikmatinya. The Ups and the downs, the happy and the sad. Kegalauan memikirkan masa depan lantas tidak membuat aku berhenti untuk membuat proyeksi. Malah aku jadi rajin membaca buku-buku non fiksi tema self help untuk membantuku menentukan langkah selanjutnya. Aku rasa, dengan bekal membaca tadi, rasa insekuritas terhadap nasib kita di masa depan bisa lebih terkurangi. Denag begitu, kita bisa menikmati hidup yang tengah kita jalani kini tetapi tidak lupa memikirkan penataan masa depan kita.

Ada beberapa buku yang bisa dijadikan referensi baik untuk menentukan langkah yang diambil sekarang ataupun memperhitungkan langkah selanjutnya.


  • Billionaire Boy memberikan gambaran bahwa untuk terus bisa maju, manusia tidak bisa kehilangan value-nya dan itulah yang seharusnya dijaga. Mau orientasi kehidupan kita berbeda-beda tetapi jika value tetap diusung, manusia akan hidup lebih baik.
  • Passion without Performance is Nothing menuliskan bahwa hidup tanpa keingin yang digerakkan dari hati meskipun performa kita optimal tidak akan menjadikan hidup kita maksimal. Begitu pula sebaliknya. 
  • Self Driving bahwa hidup kita adalah kita yang mengatur. Boleh-boleh saja menjadi pegawai tetapi bukan berarti manusia tidak menggunakan akal berpikirnya. Buku ini sangat aku rekomendasikan untuk dibaca semua kalangan.
  • Show Your Work mengajak pembacanya untuk lebih percaya diri pada hasil kerja yang sudah dilakukannya dengan sepenuh hati. Tidak ada yang salah dengan menjadi diri sendiri dan membiarkan orang lain yang menilai.
  • The Art of Thinking Clearly membuat kita jadi sadar bahwa cara berpikir manusia yang selama ini dianggap normal malah merugikan orang lain. Buku ini menjadi salah satu bacaan penting untuk membantu anak muda mendefinisikan dirinya sendiri.
  • Whatever You Think, Think the Opposite mengajari manusia untuk tidak mempermasalahkan bagaimana manusia lain berpikir. Menjadi sosok yang berbeda dari yang lain memang awalnya tidak mudah diterima di dalam kelompok, tetapi akan menjadi sesuatu yang "mahal".


Well, itu kurang lebih racauan dan aku hanya bisa memberikan sedikit saran. Galau masa depan tidak hanya cuma berkutat pada "aku mau jadi apa?" melainkan juga termasuk "nanti calonku harus bagaimana?". Seperti apa yang sering didengungkan oleh sebagian besar teman-teman di lingkunganku, "pantaskan dirimu dan rezeki akan menghampirimu".

2 comments:

  1. Whoa, aku baru punya yang Passion Without Performance is Nothing :( Pengin baca yang self-driving. Semoga segera menentukan jalan masa depannya, Mbak! Sukses terus!!! :)

    ReplyDelete