Tuesday, 7 April 2015

Dewasa dengan Luka

Bulan lalu, aku akhirnya menyempatkan diri untuk bercerita tentang bagaimana depresinya menjalani 3 pekerjaan sekaligus melalukan penelitian untuk skripsi kepada atasanku di kantor (baca ceritaku disini). Saking penuhnya isi kepala ini, aku bahkan tidak bisa makan. Semua makanan yang masuk, bawaannya hanya ingin dimuntahkan kembali (oh bukan, saya tidak sedang diet ya...). Aku bersyukur punya atasan yang ternyata perhatian dan peduli dengan talent-nya ini behehe.

Menurut beliau, hal yang aku alami tersebut adalah suatu hal yang wajar. Usia masih awal kepala dua tapi sudah berusaha untuk cari duit bisa diapresiasi. Namun, yang ditekankan oleh beliau sebenarnya adalah kebernianku untuk menjadi stress dan depresi di saat teman-teman seusiaku kebanyakan masih asyik liburan dan bermain. Well, aku tidak akan membahas mengenai lebih baik mana masa muda dihabiskan dengan liburan atau bekerja paruh waktu ya. 

Kalau boleh jujur, dosen pembimbingku sendiri sebenarnya tidak terlalu merestui aku bekerja. Kata beliau, lebih baik aku fokus dengan kuliahku. Namun aku punya pendapat lain. Aku punya seorang sepupu yang ketika sedang mengerjakan tugas akhirnya, ia sudah dikontrak oleh Samsung. Begitu sudah sidang dan dinyatakan lulus, ia pun langsung terbang ke Bekasi untuk bekerja. Wisuda pun jadi semacam selebrasi seperlunya karena esoknya ia sudah jelas akan melakukan apa: bekerja. Aku ingin seperti kakak sepupuku itu. Tidak perlu keluar masuk bursa karir atau menganggur keesokan harinya setelah wisuda (karena aku yakin hal itu tidak menyenangkan, apalagi ketika jadi bahan obrolan tetangga dan keluarga besar). Maka dari itu, mau dosen pembimbingku bilang apapun, aku berusaha mempertahankan pekerjaanku. Risikonya, hidup ala sirkus dan stress. 

via imgarcade

Atasanku memberi gambaran semisal aku patuh dengan apa kata pembimbingku itu, dipastikan aku baru lulus usia 22 tahun. Aku memang berkeinginan untuk segera lanjut S2 sehingga ketika aku sudah siap bekerja profesional diperkirakan usiaku 24 tahun. Tapi tentu, memegang ijazah master tidak lantas menjadi jaminan seseorang untuk menduduki jabatan yang bagus. Aku perlu berusaha misalkan 5 tahun untuk menjadi minimal seorang manager. Barulah usia 29 tahun aku menjadi "bos" meski lingkupnya masih sederhana. Tapi disitulah letak stress yang benar-benar membuat capek, kata atasanku. Misalkan pada usia itu aku belum pernah merasakan yang namanya depresi dan mencoba untuk menyelesaikan masalah,  ketika aku berhadapan dengan semua ketidakpastian, bisa dipastikan depresiku kelak akan lebih berbahaya ketimbang kalau aku sudah berhadapan dengan masalah-masalah itu sedari muda.

Benar juga pikirku. Logis. Karena yang namanya masalah bukan untuk dihindari, tetapi untuk dihadapi. Atasnku kemudian kembali mengatakan bahwa aku seperti itu sebab berasal dari lingkungan dimana aku selalu jadi pemenang (winning environment), sehingga aku tidak terbiasa menerima ketika ada seseorang yang lebih baik dariku atau mengkritik atau menghalangiku. Padahal, di dunia yang sebenarnya nanti, akan lebih banyak orang yang bisa "menusuk". Lagi-lagi atasanku berkata, hadapi saja, it will be worth it when you are on top.

via hplyrikz

Gara-gara saran itulah, aku mendapatkan semangatku lagi, setidaknya dengan motivasi bahwa yang aku lakukan sekarang dengan kehidupanku yang seperti sirkus ini semacam pelatihan sebelum aku "bermain" di dunia profesional dan aku percaya nothing worth having comes easy.

Kalau kamu bagaimana? Sudah sejauh apa kamu mempersiapkan dirimu untuk hidup setelah hingar-bingar wisuda nanti? :)

1 comment:

  1. Huuuaaaaaaaaa, bahasan gini ini yang bikin sedih berkepanjangan lebih dari patah hati :'

    ReplyDelete