Wednesday, 4 March 2015

Sirkus

Hisashiburi desune! Long time no see!

Mumpung sedang ada waktu beberapa menit untuk menulis (dan bersih-bersih blog) persilahkan aku untuk berbagi kisah tentang apa kesibukanku selama ini.

via www.pinterest.com

Aku sekarang tengah menjadi Pejuang Skripsi. Mahasiswa tingkat akhir, semester 8, yang sudah pasti bakal banyak ditanya "kapan lulus?" dan pertanyaan "kapan" yang lainnya. Menjadi mahasiswa semester 8 ternyata asyik juga ya, apalagi kalau kamu tidak hanya sibuk dengan skripsi. 

Sewaktu aku masih semester 6 hingga semester 7 selesai, aku pernah berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi terlalu sibuk dengan organisasi baik itu di kampus ataupun di luar kampus, sudah tidak terlibat dalam apapun bentuk voluntary yang ada. Hal itu dikarenakan aku ingin fokus dengan kuliahku. Memang waktu itu semester 6 dan 7 serasa beban ternyata banyak sekali. Disamping kuliah, aku masih mempertahankan pekerjaanku sebagai guru piano dan menyambi sebagai asisten dosen. Dengan itu saja aku sudah sibuk dan terkadang rasanya terlalu capek (kalau sudah begini biasanya langsung nangis, ngadu ke mas Ivo macem-macem). Berbekal pengalaman 2 semester sebelumnya, aku kembali lagi ingin hanya fokus pada kuliahku saja.

Ternyata semesta pandai membuatku goyah. Tawaran menarik datang ketika aku masih berjibaku dengan kepastian proposal skripsiku. Memang, aku butuh uang tambahan untuk melakukan penelitian skripsi tersebut, dan aku pribadi sudah tidak mau meminta dari orang tua. Mengandalkan uang beasiswa dan gaji sebagai guru piano memang masih cukup, akan tetapi namanya juga masih usia kepala 2, perempuan pula, maunya banyak sekali (paling banter sih pengin beli buku di OpenTrolley). Kira-kira ada satu minggu aku memikirkan untuk mengambil atau menolak tawaran tersebut. Aku mengajak diskusi beberapa orang untuk melihat bagiaman pandangan mereka terhadap pekerjaan tersebut ditambah aku yang akan mengerjakan skripsi di saat bersamaan.

via www.pixshark.com

Lagi-lagi semesta mencoba merayu. Aku membaca Travel Young karya Alanda Kariza dan goyah juga imanku. Sedikit tertampar karena apa yang dituliskannya dalam buku tersebut benar adanya. Mumpung saat itu juga masih aura tahun baru, aku mencoba menerima tawaran tersebut (sok semangat tahun baru ceritanya). Ada kurang lebih seminggu berjalan, aku sudah harus mengerjakan sebuah acara dan mempersiapkan acara lainnya. Aku sempat takut aku tidak bisa memenuhi tugasku dan mengabaikan kewajibaku baik sebagai Community Manager maupun sebagai mahasiswa semester akhir. Ngadu lagi ke mas Ivo dan dia cuma bilang, "jalanin aja dulu, nanti juga tahu gimana rasanya."

Aku sempat menyesal mengambil tawaran ini karena aku menganggap bahwa waktu bermainku jadi berkurang. Sempat iri dengan teman-teman lain yang setiap weekend masih bisa liburan kesana kemari (I blame Path!). Namun pemikiranku akhirnya sedikit demi sedikit berubah. Dibantu dengan bacaan-bacaan self-help yang asyik (tulisannya Paul Arden, Rene Suhardono, sampai Prof. Rhenald Kasali), aku seharusnya malah bersyukur. Ketika di luar sana sesama mahasiswa tingkat akhir mencari tambahan uang untuk penelitian, eh aku malah dapat tawaran untuk mengasah soft skill.

Efeknya dari pekerjaan sebagai Community Manager di Studentpreneur adalah lagi-lagi menambah relasi. Aku sempat berada di TEDxTuguPahlawan selama 2 tahun dan dari situ saja sudah cukup memperluas jejaringku (belum lagi ketika "main" dengan teman-teman Surabaya Youth Carnival). Vakum setahun ternyata tidak cukup baik untukku yang sesunggunya komunikatif ini (iya, narsis, maaf). Keluhan pasti datang, tapi gara-gara pekerjaan baru ini aku "terpaksa" membaca buku yang bukan bidang keahlianku (no, it's pleasure reading, really!), sebab aku yakin, supaya bisa memahami orang lain dalam industri ini maka aku harus banyak membaca (this area isn't my field). Otomatis aku jadi banyak tahu (I manage my time to read business & start up things and library information things. Fun anyway).

via www.gayecrispin.wordpress.com

Selain itu, bertambahnya kesibukan ternyata juga berimbas baik pada progres pengerjaan skripsiku (Alhamdulillah!!). As a community manager ada tugas-tugas yang bertarget dan tanggung jawabnya tidak main-main. Begitu pula dengan skripsi. Maka dari itu, aku setiap hari seperti punya target untuk pekerjaan ini aku harus apa dan untuk skripsiku aku harus apa. Secara tidak sadar aku mendisiplinkan diriku sendiri (to build my own self discipline). Berbeda dengan beberapa orang yang aku temui bahwa kesibukan yang hanya sebagai mahasiswa pejuang skripsi ternyata membuat mereka sulit memulai mengerjakan progres (lah, targetnya cuma skripsi doang yang diobrak dosen pembimbing pun masih menter aja). 

Ternyata menjalani hidup layaknya sirkus ada positifnya juga. Aku jadi harus benar-benar bisa mengatur energi dan waktu. Mengatur targetku setiap hari (hey, untungnya aku sendiri adalah orang yang punctual). Kesulitan yang aku hadapi sejauh ini adalah untuk menangai masalah mood ku yang sukanya berayun-ayun. Mood hancur, target pun bisa-bisa tidak tercapai. 

Being too busy doesn't always look bad. Sometimes we make it complicated while the thing is simple. Ini kisah sirkusku, bagaimana denganmu?

No comments:

Post a Comment