Tuesday, 24 March 2015

Adu Prioritas Teknik & Sosial - Humaniora

Baru-baru ini aku menghadiri sebuah pengarahan alias information session dari salah satu lembaga pemberi beasiswa bergengsi di Indonesia. Aku tidak perlu menyebutkan namanya, aku yakin semua orang sudah tahu yang aku maksud. Di tengah pembahasan mengenai bagaimana mereka melakukan seleksi, seorang pembicara mengatakan bahwa mereka memberikan prioritas pertama kepada calon mahasiswa yang ingin melanjutkan studi dalam bidang teknik. Sedangkan untuk ilmu sosial dan humaniora, malah berada paling ujung, menjadi prioritas ke-12. 

Sedih? Iya. Sebagai mahasiswi yang tengah belajar mengenai ilmu sosial, aku merasa bahwa keilmuan yang aku sukai tidak begitu mendapat perhatian yang cukup dari negara kita. Lembaga pemberi beasiswa tersebut menyatakan bahwa mereka memiliki skala prioritas berdasarkan kebutuhan yang paling penting untuk segera diisi, yang mana hal itu adalah semua berbau teknik. Padahal jika mau ditilik lebih dalam lagi, semua keilmuan memiliki peran yang sama. Kita tidak bisa mengabaikan satu keilmuan hanya karena keilmuan lain lebih bergengsi. Oh iya, aku lupa kalau di Indonesia, menekuni apapun yang ada kata "teknik"-nya adalah suatu hal yang membanggakan dan digadang-gadang bisa dengan mudah dapat pekerjaan berikut jenjang karir yang menjanjikan.


Tanpa kita sadari, di saat Indonesia tengah berusaha agar menjadi negara yang serba "teknik", ambil contoh, jaringan internet yang semakin cepat, konstruksi jembatan yang semakin kuat, dan apapun itu, kita mengabaikan sisi humanis yang juga ikut berubah. Aku adalah salah satu yang menganut paham Determinasi Sosial. Bahwa perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat di sekitar kita dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang semakin pesat (dengan slogan bahwa perbaikan dari segi teknologi akan memudahkan kegiatan keseharian manusia). 

Lebih mengerucut lagi, mari kita lihat dari sudut pandang keilmuanku, Ilmu Perpustakaan (aku lebih menekankan pada Perpustakaannya ketimbang Informasi). Ketika para orang tua semakin asyik memberikan perangkat elektronik, entah itu game yang mendidik atau menghibur, mereka juga mengabaikan pentingnya pendidikan literasi usia dini (early literacy program) kepada anak-anaknya. Efek jangka panjangnya adalah, mereka nanti seperti apa yang kita lihat selama ini. Seenaknya saja mengunggah suatu informasi tanpa mempertimbangkan etis tidaknya informasi tersbeut. Tidak bisa disalahkan juga, karena mereka bukanlah jurnalis sehingga tidak mengenal yang namanya kode etik jurnalistik.

Di sisi lain, ketika sudah sangat berkonsentrasi terhadap ilmu keteknikkan, tidak semua pelakunya bisa berkomunikasi dengan manusia. Bisa jadi, orang-orang tersebut adalah mereka yang terbiasa di belakang benda mati. Apabila "keteknikkan" itu terus menjadi prioritas utama, ditakutkan kemampuan yang berhubungan dengan interaksi terhadap manusia juga ikut terkikis. Misalnya saja, untuk berkomunikasi. Walau memang, hal tersebut belum sepenuhnya terbukti. Tapi cukup membuat was-was.

Kalau memang begitu adanya, ilmu sosial dan ilmu humaniora tetap dijadikan prioritas yang terakhir, jangan salahkan bila ketertiban yang ada di negara ini atau kemajuan yang ada di Indonesia, digawangi oleh cara yang kurang manusiawi (aku membayangkan para penertib adalah sosok Peace Keeper dari trilogi The Hunger Games) bukan melalui pendekatan yang sifatnya dari ilmu sosial. Kesenjangan dan tindak kriminalitas pun bisa semakin parah, karena masyarakatnya tidak dilihat terlebih dahulu, melainkan asal saja memberi suatu akses. 



Ilmu sosial dan ilmu humaniora selalu berdampingan denga ilmu pasti atau bidang teknik. Bagaimanapun juga, yang bereaksi adalah manusianya, bukan benda matinya. Ada akses sedikit saja, masyarakat sudah memberikan reaksi yang bahkan kita belum sempat prediski. Jika ilmu sosial dan ilmu humaniora dijadikan prioritas akhir, apakah negara kita siap menghadapi kericuhan seperti The Hunger Games atau Divergent?

Jadi, sejak kapan bidang teknik memiliki posisi di atas ilmu sosial dan ilmu humaniora?

No comments:

Post a Comment