Wednesday, 17 December 2014

Literasi Dini Tameng Generasi X,Y,Z

via Dangerous Mind

Semesta berkonspirasi membuatku berpikir tengah malam gara-gara teman di Facebook membagikan gambar ini. Kok ya kebetulan, belakangan ini aku habis menulis yang berhubungan dengan literasi. Jadi, biarkan aku menumpahkan isi kepalaku ini supaya bisa diisi kembali ya.

---

Gambar di atas pasti sudah sangat familiar. Ketika siapapun, tidak peduli itu anak-anak, remaja, ataupun orang dewasa, sudah bertemu media sosial (ambil contoh Facebook) dia seakan mulai menghakimi (dan menilai) suatu hal yang ada di hadapannya tanpa berpikir dua kali. Alias, menentukan tanpa alasan yang kuat apakah tulisan di situs tersebut bisa dipercaya atau tidak. Bisa juga, siapapun itu sembarang membagikan informasi tanpa memiliki hal yang menjadi alasan kuat mengapa informasi tersebut dipublikasikan, melalui internet dan akun pribadi media sosial.

Banyak yang bilang bahwa ini adalah efek samping dari teknologi yang terlalu cepat berkembang ketika manusianya sendiri masih dalam tahap penyesuaian diri. Tidak salah, karena apa yang dikatakan oleh Hukum Moore, bahwa setiap 18 bulan sekali akan ada inovasi baru, memang benar adanya. Kalau diamati, berarti semakin lama hidup kita akan semakin terkomputasi, semakin digital, semakin sering bertemu dengan apa-apa yang berbau elektronik-mekanik. Akankah yang berbau analog dan manual hilang begitu saja?

Pepatah menyatakan, semakin kita menjadi modern (well, sebenarnya kita malah sudah hidup dalam era yang post-modern), kembali tradisional jauh lebih baik. Misalnya, ketika makanan cepat saji semakin marak, eh ternyata mengandung banyak bahan kimia yang tidak sehat. Maka munculah kampanye untuk makan makanan tradisional alias slow food atau raw food. Artinya, apa yang dulu kita katakan bahwa hal tersebut kuno, faktanya lebih banyak membawa manfaat dan memperpanjang masa hidup kita di bumi. Begitu halnya dengan media informasi.

Ketika internet dan beragam media penyimpanan elektronik mulai marak, ada yang meramalkan bahwa bentuk buku secara fisik yang terbuat dari kertas akan berubah semua menjad bentuk digital. Koran berbentuk cetak tergantikan oleh e-newspaper dengan beragam fasilitas yang canggih (augmented reality misalnya). Tetapi ramalan tersebut kemungkinan tidak akan menjadi kenyataan. Memang, secara efisiensi, menyimpan sesuatu dalam bentuk digital akan lebih menghemat tempat. Namun, bentuk fisik tidak akan bisa digantikan karena sesungguhnya kita tengah membutuhkan hal tersebut.

Ketika Generasi X,Y,Z hingga Generasi apapun itu merasa bahwa gadget adalah belahan jiwanya, apakah mereka sebelumnya sudah diberi bekal untuk menggunakannya secara bijaksana? Meskipun memang pemerintah sudah menggalakkan Internet Sehat dibantu dengan pemblokiran situs-situs yang dianggap berbahaya, agaknya itu belum cukup untuk menghindari melakukan hal bodoh seperti yang digambarkan pada ilustrasi di atas.

Internet ditambah media sosial, forum maya, apapun itu memungkinkan semua orang mampu memproduksi informasi. Terlepas apakah itu informasi benar ataupun salah. Tentu semua pernah membaca berita artis X dikabarkan meninggal dunia dan beberapa menit kemudian berita lain mengabarkan kalau isu itu adalah kebohongan belaka. Mau itu masih anak-anak ataupun sudah tua sekalipun, siapa saja punya hak untuk menciptakan dan menyebarkan informasi. Mereka pun juga punya hak untuk membaca dan mempercayai informasi itu. Namun sayangnya, mereka belum tentu mempercayai berita yang valid, yang bisa dipertanggungjawabkan.

via designurge.com

Oleh karena itu, buku, majalah, dan koran cetak masih dibutuhkan. Mengapa? Karena setidaknya media tersebut terdaftar, terdapat pihak-pihak yang bertanggungjawab atas produksi dan penyebaran informasi di dalamnya. Sayang sekali, karena zaman sekarang gadget dianggap lebih bisa membuat tenang manusia (baby sitting everyone), maka sedari kecil anak-anak diberikan gadget agar mereka tidak merepotkan orang lain. Bahayanya, mereka malah terbiasa untuk membaca kemudian mengunggah sesuatu tanpa berpikir dua kali. 

Hal tersebut bisa dicegah (atau paling tidak diminimalisir) jika orang tua, pendidik (guru dan pustakawan sekolah terutama) menerapkan apa yang dinamakan program literasi dini. Kalau coba dicari melalui mesin pencari Google, program literasi dini (early literacy program) memang ribet sekali. Tapi bukankah peran orang dewasa adalah untuk mempersiapkan anak-anak menjadi individu yang lebih baik dari mereka sendiri? Literasi dini salah satunya adalah melakukan pembacaan dongeng secara rutin sehingga anak-anak mengenal kosa kata yang sesuai, baik untuk umurnya maupun yang pantas diucapkan dalam adat ketimuran kita. Literasi dini juga termasuk di dalamnya mengenalkan apa itu media cetak (printed material) seperti buku, koran, majalah. Mereka memang awalnya tidak akan mengerti, apalagi mereka yang belum bisa membaca. Namun mengenalkan hal tersebut akan menumbuhkan rasa penasaran yang mendorong mereka mulai belajar membaca. Dari situlah, mereka akan memilih membaca media tercetak.

Literasi dini sesungguhnya tidak hanya berujung pada generasi yang suka membaca buku saja, melainkan membuat mereka memiliki pertahanan diri di tengah masifnya internet. Dengan kata lain, literasi dini sebagai awal dari kemampuan literasi digital. Literasi digital memang bisa dimunculkan begitu saja, namun akan terasa berbeda karena tidak diawali oleh literasi dini yang sudah menjadi bagian dari individu tadi. Jika diawali dengan literasi dini, individu akan lebih teliti baik dalam mengonsumsi maupun memproduksi informasi. Pengetahuan dasar yang sudah didapatkan ketika program literasi dini, bisa digunakan sebagai pengetahuan untuk memutuskan kebijakan, mengunggah sesuatu misalnya. Individu dengan literasi dini yang baik juga akan memiliki literasi digital yang baik sehingga dirinya juga tidak akan mudah percaya pada isu-isu di laman Facebook. 

Tapi jangan salah juga. Generasi X dan Y alias generasi yang baru punya kuasa media sosial ketika mereka dewaa juga belum tentu memiliki literasi digital yang mumpuni. Tidak jarang ditemukan, yang aktif menyebarkan beragam informasi adalah mereka yang baru saja bertemu teknologi alias digital immigrants. Tentunya, kita tidak ingin adik-adik ataupun anak-anak kita nanti yang sudah menjadi digital natives tidak jauh beda dengan generasi sebelumnya. Maka dari itu, selagi kita sendiri mulai membuat tameng bernama "literasi", kita juga menjalankan program literasi dini kepada mereka yang lebih muda di lingkungan sekitar. Tidak ada kata terlambat untuk apapun yang baik, termasuk belajar dan mencintai kegiatan membaca. Mulai saja dari bacaan yang disuka dalam format tercetak, atau minimal pdf dan epub yang jelas siapa penanggung jawabnya. Semakin kita banyak membaca, semakin kaya sudut pandang kita, semakin banyak pengetahuan yang bisa dijadikan bahan pengambilan keputusan. Bayangkan kalau kita sudah mulai (suka) membaca sejak kecil, akan seberapa banyak pengetahuan yang sudah kita timbun dan bisa dimanfaatkan ketika kita berhadapan dengan internet dan media sosial? Tentunya, kita tidak akan dimarahi seperti anak pada gambar di atas itu kan? :)

No comments:

Post a Comment