Thursday, 18 December 2014

A Well Read Teenager

via pinterest
I write down this post to motivate my younger sister because there's nothing wrong from being a bookworm.

---

Suatu hari adikku bercerita bahwa dia dikatakan "tidak normal" oleh kumpulan remaja perempuan di kelasnya hanya karena memiliki cara berpikir yang berbeda dengan teman-teman sebayanya. Salah satu alasannya adalah karena dia suka membaca dan itu membuat bahan obrolannya terlalu tinggi untuk dipahami oleh anak SMA. Sesungguhnya tidak ada yang salah, kaum mayoritas melihat adikku makhluk yang nerd, sedangkan adikku melihat mereka sebagai pihak yang tidak satu frekuensi. Namun yang aku tidak suka adalah ketika gerombolan remaja putri tersebut menyuruh adikku untuk berhenti menjadi reader

Ketika aku memberikan nasehat padanya, yang terpikirkan olehku adalah kutipan seperti yang tertulis pada gambar di atas. Bahwa wanita (atau perempuan) yang membaca adalah sosok yang berbahaya. Jadi wajar-wajar saja kalau gerombolan tersebut menekan adikku dengan ucapan "tidak normal", "bahasamu terlalu tinggi" hingga memintanya untuk berhenti membaca. Karena mereka sebenarnya tahu bahwa suatu saat dia akan menjadi individu yang lebih menonjol ketimbang gerombolan tersebut (yang menjadi populer di sekolah karena fisik dan materi saja, tanpa ada isi dalam otaknya). 

Memangnya apa berbahayanya sih menjadi well-read woman itu? 

Aku lupa siapa yang mengatakannya tapi aku ingat beliau berucap bahwa fisik dan materi bisa habis dan hilang namun apa yang menjadi isi otak tidak akan bisa diambil siapapun kecuali kalau kita mati. Menurutku, pendapat itu benar. Bayangkan saja, perempuan dengan penampilan yang modis juga akan tidak modis jika waktunya tiba (bertambah tua dan operasi plastik tidak membantu memperbaiki). Kekayaan yang dibanggakan sangat bisa dirampok. Tapi apabila dirinya adalah sosok yang punya wawasan luas, dia pasti masih bisa survive di saat fisik dan materialnya sudah tidak memiliki nilai. Atau ambil kata, ketika perempuan ini pada pandangan pertama tidak menggoda, tapi masih punya sesuatu yang masih bisa dinikmati: isi otaknya. Ibuku juga pernah berujar bahwa estetika manusia bisa dinikmati tapi kita punya batas rasa bosan, sehingga mereka yang hanya menang tampang tanpa isi akan tampak seperti boneka manekin: cantik semata. 

Geng remaja putri ini aku rasa sadar bahwa eksistensi berlandaskan hedonisme (yang suka check-in setiap kali mampir ke lokasi mewah) semata tidak akan menjadi abadi. Berbeda dengan eksistesi yang berdasar pada kepandaian dan sikap yang sopan. Orang memang akan melihat latar belakang ekonomi kelompok remaja tersebut. Namun ketika sudah tahu lebih dalam atau kenal lebih jauh ternyata tidak ada apa-apanya, maka kelompok ini menjadi tidak punya pamor. Di sisi lain, pihak yang tanpa berhenti belajar dan membaca akan terus menjadi sosok yang menyenangkan.

via geekybooksnob

Kedua, membaca membuat cakrawala pemikiran manusia menjadi lebih luas sedikit demi sedikit. Diilustrasikan bahwa orang yang membaca 5 buku sama dengan memiliki kemampuan melihat dari lantai 3 suatu gedung. Sedangkan orang yang membaca 15 buku memiliki kemampuan melihat dari lantai 5. Semakin banyak kita membaca, maka kita bisa melihat dunia dari sisi yang lebih tinggi. Efeknya adalah, kita juga semakin bisa menaikkan level kelas kita. Dari yang hanya anak sekolahan, dengan banyak membaca bisa jadi paham obrolan anak-anak kuliahan. Reading elevates ourselves to higher level.

Elevasi ke tingkat atau kelompok yang lebih tinggi juga membawa dampak positif: jejaring sosial jadi semakin luas karena kita mampu menjangkau kelompok yang lebih tinggi. Siapa tahu, yang masih SMA ini bisa ngobrol dengan individu sekelas Deputi Gubernur Bank Indonesia hanya karena mereka berdua memiliki kesamaan bacaan? Aku ingat kata mas Iwan Setyawan (penulis 9 Summer 10 Autumns) bahwa cara termudah naik "kelas" yakni dengan banyak membaca. Jadi otomatis, dengan membaca relasi kita bertambah. Networking meluas, pintu peluang pun semakin banyak tersedia. 

Geng remaja tersebut juga menyadari bahwa dengan kekayaan wawasan yang dimiliki oleh adikku, dia lebih bisa memiliki peluang berkenalan dengan orang-orang penting. Dengan kata lain, adikku bisa saja dapat kesempatan emas yang tidak bisa dengan mudah didapatkan mereka. Eksistensi yang lebih mengena ketimbang eksistensi hanya karena top to toe yang serba bermerk.  

Kemudian, membaca membuat cadangan pengetahuan yang akan diendapkan di dalam otak semakin banyak. Endapan ini akan bereaksi ketika seseorang akan memutuskan suatu hal, menjadi apa yang disebut dengan "kebijakan". Dapat dibayangkan bahwa mereka yang banyak membaca akan lebih bijak menanggapi suatu hal. Termasuk bullying.

Aku curiga, kelompok remaja putri ini takut jikalau adikku tidak lagi bisa dijadikan obyek bullying mereka (hei, melabeli seseorang "tidak normal" juga bentuk bullying loh!) karena sudah tidak mempan ditindas. Apalagi kalau bukan adikku yang sudah tahu bagaimana melawan mereka dengan cara yang lebih bijak? Sebelum hal tersebut terjadi, geng ini pun memaksa adikku supaya berhenti mengendapkan pengetahuan dan menumpulkan otaknya.

---

via amazon.com

Setidaknya itulah mengapa aku rasa well read women is dangerous creature. Karena eksistensinya lebih abadi, karena memiliki lebih banyak kesempatan, dan karena tidak mudah ditindas (dan diremehkan). Aku masih berpegang pada idealismeku: buat apa punya tampang dan uang kalau tidak disertai dengan isi otak. Mereka yang seperti kelompok remaja itu adalah golongan small people, golongan yang masih sibuk membicarakan keburukan orang lain (dan seenak jidat memberi definisi apa itu "normal" ketika "normal" adalah sesuatu yang berisfat relatif). Sedangkan kelompok pembaca (bookworm) adalah golongan big people yang bukan lagi menggunjing melainkan membahas ide-ide. 

Tidak ada yang salah dengan menjadi bookworm. Tidak perlu takut menjadi orang yang keranjingan baca buku. Karena sebenarnya golongan small people itu tadi yang takut dengan kita :)

nb: maafkan bahasa kasar yang aku gunakan. Kakak mana sih yang akan terima-terima saja ketika adikknya ditindas padahal dia tidak berbuat salah?

2 comments: