Friday, 14 November 2014

Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno

via blogiswar.net

Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno
Sutradara: Keishi Ohtomo
Penulis: Nabuhiro Watsuki (manga)
Pemain: Takeru Sato (Kenshin Himura), Takei Emi (Kaoru Kamiya), Tatsuya Fujiwara (Makoto Shishio), Ryonusuke Kamiki (Sojiro Seta), Yosuke Eguchi (Hajime Saito), Yusuke Iseya (Aoshi Shinomori), Munetaka Aoki (Sanosuke Sagara), Yu Aoi (Megumi Takani), Tao Tsuchiya (Makimachi Misao).


Sinopsis

via maunosekai.tumblr.com

Setelah lahirnya era baru, selama 10 tahun Battosai, Kenshin Himura, bisa dianggap sudah pensiun untuk membunuh. Sampai akhinrya utusan Menteri Dalam Negeri memintanya untuk kembali mengangkat Katana. Ternyata di luar sana, ada seorang battosai pula yang tidak menginginkan dinasti Jepang yang lebih damai. Musuh yang dihadapi oleh Kenshin ternyata bukanlah yang kacangan. Memiliki kehebatan dan keahlian adu pedang yang tidak jauh berbeda dengannya, membuat Kenshin kewalahan. Pada titik inilah, dia kembali mempertanyakan eksistensinya menjadi Battosai yang memihak pada era baru Jepang yang lebih baik.

Pemain

via thedailyzombies.com


Karena aku sudah pernah menonton film pertamanya, Rurouni Kenshin (2012), aku merasa ada peningkatan kualitas akting pada Takeru Sato selaku pemain utama dalam film ini. Di film Kyoto Inferno, aura kegarangan Kenshin Himura bisa diutarakan dengan baik oleh Takeru Sato, membuatku berdecak kagum. Terutama adegan Kenshin mengembalikan Katananya ke dalam sarung pedang, aku melihat bahwa Takeru Sato benar-benar mendalami perannya sehingga caranya memasukkan Katana pun begitu berseni (aku rasa sesuai dengan tradisi pada masa itu).

Pemeran lainnya seperti Tatsuya Fujiwara sebagai Shishio, musuh utama Kenshin dalam sekuel ini juga tidak bisa diragukan lagi. Aktor senior seperti dirinya pasti sudah mumpuni untuk bermain sebagai tokoh utama film penuh aksi ini. Bahkan aku menganggap kalau kemampuan Tatsuya Fujiwara sudah khatam untuk menjadi tokoh yang jahat (selama ini aku selalu menonton film dimana ia berperan sebagai tokoh musuh). Meski dalam film, Makoto Shishio adalah manusia dengan penuh perban, tapi ciri khas Tatsuya Fujiwara tidak hilang begitu saja. Yang paling mudah aku temui adalah cara bicara dan aksennya. 

Pemain lainnya seperti Ryonusuke Kamiki yang menurutku terlalu imut untuk mejadi Sojiro Seta, ternyata memiliki kemampua akting yang baik. Menjadi tokoh jahat dan murah senyum rasanya cocok dengan perawakan Kamiki yang mungil (dan imut :p). Atau pemeran Kaoru yang bagiku juga imut dan cantik. Kalau Sanosuke, entah mengapa Munetaka Aoki kurang menunjukkan ekspresi yang "nakal" atau "bengal" padahal tingkahnya selalu terkenal sebagai sosok yang tidak tahu aturan. Untuk Misao yang diperankan oleh Tao Tsuchiya, aku rasa pipinya jadi terlalu chubby dan posturnya kurang tinggi.

Alur
Alur yang digunakan adalah alur maju-mundur yang tidak aku duga akan seperti itu jalannya. Aku kira, film ini tidak langsung menayangkan masa lalu Shishio untuk memberi pemahaman singkat kepada penonton. Beberapa flash back lainnya bagiku menjadi landasan alasan mengapa Kenshin menarik kembali Katananya untuk bertarung.


Adegan bertarung adalah bagian yang paling aku suka. Bayangkan saja, adu kecepatan dan keahlian (walau itu semua hanya fiksi) mampu membuatku terbengong-bengong. Namun sayangnya dalam film ini, durasi 135 menit aku rasa punya porsi "bertengkar" yang tidak terlalu banyak. Malah bagiku, film ini terasa lama karena adanya bumbu-bumbu drama. Untung saja, sutradara tidak melupakan bahwa penonton bisa saja mati bosan. Ada adegan-adegan yang sengaja dibuat untuk membuat penonton tergelak dan terbahak. Apalagi dengan ekspresi wajah Takeru Sato yang menurutku menggambarkan bagaimana perasaannya pada adegan itu.

Menurutku, bantuan alur maju-mundur ini cukup membantu penonton baru yang belum tahu sama sekali tentang Rurouni Kenshin (baik dari manga atau anime). Tapi tetap saja, tidak membuat penonton benar-benar mengerti 100% mengapa seorang Kenshin akhirnya juga diincar pihak lain seperti Aoshi.

Music Score dan Soundtrack
Berbicara tentang music score, Kyoto Inferno sebagian besar menggunakan alunan musik khas Jepang. Menurutku hal tersebut adalah suatu hal yang mutlak mengingat latar film ini adalah pada tahun 1800an. Tapi ada satu music score yang selalu muncul pada adegan-adegan yang menegangkan dan sayangnya hingga kini masih terekam di otakku. Sampai film selesai, yang terdengar adalah music score. Tidak ada lagu.

Untuk soundtrack, hanya ada nyanyian pada saat film ini selesai. Dibawakan oleh ONE OK ROCK berjudul Mighty Long Fall. Bagiku, lagu ini kurang lebih menjadi summary apa yang dialami oleh Kenshin dan apa yang diharapkan oleh orang-orang terdekatnya.

Subtitle
Karena film ini menggunakan bahasa Jepang, mereka menyediakan double sub yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Awalnya aku mengikuti bahasa Indonesia, namun ada beberapa adegan dimana bahasa Indonesianya kacau dan tidak dapat dipahami. Kalau sudah terbiasa menonton film Jepang, mungkin akan paham beberapa kata dalam film yang tidak diartikan seperti Shishio yang memanggil Kenshin dengan "Senpai". Atau bahkan akan sering mendengar Kenshin mengucapkan kata "gozaru" (seketika aku teringat dengan Ninja Hattori).

---

Aku berterima kasih kepada pihak-pihak yang menginformasikan padaku bahwa ada teater baru di Sidoarjo bernama Platinum Cineplex yang mau menayangkan film Jepang yang tidak ditayangkan dalam jaringan 21 Cineplex (derita tinggal jauh dari ibukota Jakarta, tidak ada Blitz Megaplex). 

who can resist his handsomeness!!! - via bitofthis-tadofthat.tumblr.com
Secara keseluruhan aku menganggap film ini kece! Takeru Sato yang semakin oke aktingnya, dan tentu saja semakin ganteng. Ditambah pula dengan kehadiran Kamiki yang imut. Andai kata waktu itu aku menonton bersama rombongan fangirl dari AMUSE Agency mungkin aku akan berteriak ketiak aktor ini muncul. Dan saking kagetnya aku dengan bagian terakhir, dimana muncul juga salah satu aktor senior Jepang favoritku, aku secara otomatis langsung histeris.

So, I give this movie 8 of 10 stars!! (bias banget karena Takeru Sato sudah kelewat ganteng di film ini :" )

No comments:

Post a Comment