Thursday, 11 September 2014

Hal Paling Disesali (oleh A.S. Laksana) - Jawapos, 7 September 2014

Kalau ada satu hal yang boleh saya sesali dalam hidup, itu adalah mengapa kebutuhan saya akan buku bacaan tidak seperti kebutuhan akan makanan. Maksud saya, jika kita tidak makan seharian, perut kita akan melilit kesakitan; jika pola makan kita ngawur, kita rentan terserang berbagai kemungkinan penyakit; jika kita makan secara sembrono, kita bisa sengsara keracunan. Jika makanan yang kita telan sangat tidak memadai selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, kita akan mengidap gizi buruk atau terjangkit busung lapar.

Saya sungguh menginginkan hal seperti itu dengan kebutuhan membaca buku -- paling tidak untuk diri saya sendiri. Saya pikir bagus juga kalau risiko tidak membaca persis dengan risiko tidak makan. Jadi, kalau saya tidak membaca buku seharian, perut saya akan melilit; jika tidak membaca buku dalam waktu sebulan atau setengah tahun, saya juga akan terjangkit busung lapar. Risiko yang bersifat fisik semacam itu penting bagi pemalas seperti saya sehingga, mau tidak mau, saya pasti membaca buku setiap hari agar tidak terserang busung lapar, Kalaupun tidak bisa seperti itu, minimal saya akan terserang kadas di tengkuk atau kudis di dengkul kiri. Itu sudah akan menjadi ancaman serius yang memaksa saya membaca buku.

Sayangnya, membaca memang bukan kebutuhan fisik dan tidak akan pernah ada risiko yang bersifat fisik jika kita tidak membaca. Orang yang selama bertahun-tahun tidak pernah membaca satu buku pun bisa tetap memiliki tubuh yang sehat dan otot yang perkasa serta sanggup memanggul seekor kerbau.

Hal yang lain, jika situasi anda darurat dan anda tidak sempat makan karena harus secepatnya meninggalkan rumah, anda bisa makan pisang atau roti atau singkong sebagai pengganjal perut. Membaca buku tidak seperti itu. Anda memerlukan waktu lebih panjang dan suasana lebih khusyuk -- ini yang paling sulit -- dan kesediaan untuk bekerja keras menyusuri kata demi kata yang tercetak di halaman buku. Anda tidak bisa mengganti membaca buku dengan membaca bacaan ringan, misalnya iklan badut ulang tahun di tiang listrik, atau tulisan-tulisan reklame.

Jadi, karena bagaimanapun makan dan membaca adalah hal yang berbeda dan punya risiko fisik yang berbeda, setiap orang harus membangun kebiasaan sendiri untuk mendapatkan situasi bahwa setiap hari dia merasa ada yang kurang kalau tidak membaca. Dan membangun kebiasaan baru, anda tahu, adalah urusan yang tidak sebentar, sedangkan mengubah kebiasaan lama tidak semudah mengganti baju yang anda kenakan sehari-hari. Itu urusan yang sama sulitnya, atau mungkin lebih sulit ketimbang menurunkan berat badan atau merapingkan perut yang sedang membuncit.

Seseorang yang memiliki kebiasaan menulis bagus tentu akan sulit diminta menulis buruk. Sebaliknya, seseorang yang memiliki kebiasaan menulis buruk akan sulit juga diminta menulis bagus. Begitupun dengan seseorang yang terbiasa bangun kesiangan, dia akan sulit diminta mengubah kebiasaannya menjadi bangun pagi. Seseorang yang memiliki kebiasaan merokok akan punya segala macam alasan untuk tetap mempertahankan kebiasannya.

Untuk urusan membangun kebiasaan membaca, saya bahkan gagal dalam hal yang paling sepele, ialah menetapkan kapan waktu untuk membaca setiap hari. Saya tetap gagal mengondisikan diri bahwa jika tidak membaca perut saya akan sakit atau tenguk saya gatal-gatal.

Akhirnya, satu-satunya kemungkinan untuk menjadikan diri memiliki kebiasaan membaca, mau tidak mau, hanya dengan cara membiasakan diri membaca. Dan karena tulang-tulang saya terlanjur tua dan tidak lentur lagi, saya pikir kesempatan yang lebih besar untuk membangun kebiasaan membaca yang lebih baik ada pada anak saya. Tepatnya, saya punya kesempatan untuk membuat anak-anak saya benar-benar memiliki kebiasaan membaca, Jika dia memiliki kebiasaan membaca sejak kecil, saat besar nanti dia akan sulit mengubah kebiasaan itu. Dia akan selalu merasa perlu membaca setiap hari karena hal itu sudah menjadi kebiasaan.

Lalu, saya mencari-cari petunjuk bagaimana cara memperkenalkan anak kepada bacaan-bacaan bagus. Untuk soal-soal seperti itu, internet bisa diandalkan dan dari sana saya menemukan sejumlah panduan, yang jika diasirkan kira-kira seperti ini:

  1. Perkenalkan anak-anak dengan sastra melalui film adaptasi. Kegiatan ini akan membuat orang tua punya kesempatan untuk membicarakan dengan si anak tentang buku dan filmnya.
  2. Beri contoh dengan tindakan, yang berarti si anak setiap hari harus melihat kita membaca. Ini pekerjaan yang sangat rumit jika si orang tua sendiri tidak suka membaca.
  3. Perkenalkan si anak dengan buku-buku cerita yang temanya relevan dengan kehidupan mereka.
  4. Penuhi rumah dengan buku dan majalah. Cukup susah juga, terutama jika kita terlanjur punya kebiasaan memenuhi rumah dan lemari pajangan dengan gelas dan toples-toples.
  5. Buatlah anak anda berlanggan majalah atas namanya sendiri.
  6. Jadikan buku sebagai hadiah untuk momentum-momentum penting si anak.
  7. Ajak si anak berwisata ke perpustakaan.
  8. Ajak si anak terlibat dengan urusan-urusan perpustakaan, misalnya menyumbang ke perpustakaan setempat.
  9. Ajaklah anak ke toko buku dan biarkan dia memilih bacaa klasik yang dipilih sendiri.
  10. Bimbinglah si anak membaca buku-buku yang bertema lingkungan.
Ada hal-hal yang bisa saya lakukan, ada yang tidak bisa. Memperkenalkan anak-anak kepada sastra melalui film adaptasi saya pikir agak sulit. Film apa? Kita tidak memiliki banyak film adaptasi dari novel sastra. Belakangan ada film Tenggelamnya Kapal van Der Wijk, namun saya sendiri bosan menonton. Saya tidak tega mengajak anak saya nonton film itu. Lagi pula, dia pasti tidak taha juga membaca bukunya. Bahasa Indonesia yang digunakan untuk menulis novel tersebut sudah sulit dinikmati oleh anak sekarang. Buku sadurannya, yang ditujukan untuk anak-anak atau remaja, tidak pernah ada. Di luar negeri kita bisa menjumpai banyak karya klasik yang disadur untuk pembaca anak-anak atau remaja.

Berwisata ke perpustakaan susah juga. Perpustakaan terdekat dari rumah saya lumayan jauh dan jalanan macet, serta waktu saya nyaris habis untuk urusan-urusan saya sendiri. Saya pikir sebenarnya akan sangat membantu jika ada perpustakaan desa, tetapi di tempat saya tidak ada.

Akhirnya, saya hanya bisa melancong ke luar negeri melalui internet, membuka-buka situs web perpustakaan, melihat-lihat foto-foto perpustakaan, membaca-baca apa saja yang bisa saya dapatkan dari internet. Ada banyak bacaan penambah wawasan yang bisa kita dapatkan dari internet, yang terbanyak dalam bahasa asing -- dan saya hanya bisa mengakses yang berbahasa Inggris. Itu pun sangat memadai.

Jadi, tambahan dari saya untuk membuat anak mendapatkan buku-buku dan bacaan-bacaan menarik jika perpustakaan umum susah dikunjungi atau kurang menarik sebagai tempat wisata adalah.

11. Usahakan anak anda menguasai bahasa asing, setidaknya bahasa Inggris.

Poin kesebelas itu terasa tidak patriotik, tetapi akan membuat anak anda lebih mudah meningkatkan kecerdasan karena mampu mengakses banyak bacaan menarik dari internet. Apa boleh buat! Tulisan-tulisan penambah wawasan atau bacaan-bacaan yang mencerdaskan dalam bahasa Indonesia sangat sedikit jumlahnya dan kebanyakan ditulis dalam cara yang kurang bagus.

No comments:

Post a Comment