Sunday, 9 February 2014

Tour de Museum di Kota Tua

Kebetulan sekali aku berada di ibukota pada akhir bulan yang bertepatan dengan libur hari raya Imlek. Sehingga pada hari Sabtu, kegiatan operasional Perpustakaan Kemdikbud tidak ada. Lagi-lagi kebetulan, ayah masih dinas di Jakarta dan beliau pun mengajakku berjalan-jalan di sekitar Kota Tua Jakarta yang belum pernah aku kunjungi. Tanpa banyak pikir, aku sambut ajakan itu.

Kalau dari terminal busway Blok M, cukup naik busway koridor satu saja karena melayani rute Blok M- Kota. Kamu tidak perlu lagi berpindah kendaraan. Pokoknya, sampai pemberhentian terakhir. Dari halte busway Kota, kamu bisa menyebrang dan kamu sudah bisa mampir ke Museum Bank Mandiri.

Museum Bank Mandiri

 

Museum ini letaknya tepat sebrang sisi terminal Kota. Pokoknya, apabila kamu menoleh ada Stasiun Jakarta Kota, maka di sisi lainnya adalah Museum Bank Mandiri. Untuk dapat menikmati koleksi yang ada di dalamnya, kamu tidak perlu merogeh kocek alias gratis. Kamu langsung masuk saja ke dalam. Di sana ada berbagai macam peninggalan kuno seperti alat penghitung uang, cek, giro, surat-surat yang dikeluarkan bank pada zaman dahulu dan banyak lagi. Karena gedung ini peninggalan kolonial Belanda, sudah pasti terdapat banyak ruangan berjendela lebar. Ruangan-ruangan yang ada disana nampaknya dibiarkan seperti apa adanya. Maksudku, jika dahulu digunakan sebagai ruangan pembayaran kredit, kini ruangan tersebut tetap digunakan untuk penyimpanan koleksi kuno yang berkaitan dengan kredit. Kabarnya, ada perpustakaan di lantai 2 namun pada saat aku berkunjung, akses menuju lantai 2 ditutup. Ohiya, untuk yang sudah menonton Comic 8 pasti juga tidak asing dengan tempat ini karena memang, museum inilah yang digunakan sebagai lokasi syuting mereka. 

Museum Bank Indonesia
Lokasinya tepat berada di sebelah Museum Bank Mandiri. Sama-sama tidak dikenai biaya berkunjung. Pada saat masuk ke dalam, akan ada pemeriksaan dengan metal detector seperti halnya di bandara. Kemudian, pengunjung harus menitipkan barang bawaannya di deposit counter. Walaupun sama-sama gedung peninggalan Belanda, Museum Bank Indonesia terlihat lebih mengagumkan, lebih bersih, dan lebih terang. Sebelum melihat koleksi, pengunjung akan melewati bagian gedung yang dulunya digunakan sebagai meja teller, tanpa diubah sedikit pun.


Di Museum Bank Indonesia, koleksi museum dikelompokkan berdasarkan periode. Yang pertama ialah masa awal Indonesia saat banyak pendatang ingin membeli rempah-rempah. Hingga pada bagian periode Indonesia setelah zaman reformasi. Tidak hanya itu, disini juga ada ruangan yang menyimpan koleksi mata uang dari masa ke masa yang pernah dimiliki Indonesia. Bahkan ada pula koleksi mata uang asing. Aku juga sempat masuk ke dalam ruang penyimpanan emas, lengkap dengan (tiruan) emasnya! 



Kalau aku perhatikan, penataan koleksi yang ada di Museum Bank Indonesia lebih menarik ketimbang yang aku datangi sebelumnya. Kalau kamu pernah ke Museum yang ada di Goa Maharani, ya seperti itulah cara mereka menyajikan (atau pernah ke Museum yang ada di komplek Jawa Timur Park atau Batu Secret Zoo).

Fatahillah Square
Atau dikenal dengan nama Taman Fatahillah. Akses dari Museum Bank Indonesia kamu hanya perlu berjalan kaki saja. Sebelum sampai ke tanah lapang, kamu akan bertemu bayak pedagang kaki lima yang berjualan mulai dari cindera mata hingga makanan khas seperti es potong dan kerak telor. Awalnya aku memang ingin berkunjung ke Museum Fatahillah, sayang museum tersebut masih dalam keadaan direnovasi sehingga tidak bisa dikunjungi. Tapi, siapa bilang perjalananku sia-sia? Pada saat yang bersamaan di lapangan tersebut tengah dilakukan simulasi Pemilu 9 April 2014 nanti. Sambil menikmati es potong, kami pun menonton jalannya simulasi tersebut.

Kami berjalan menyusuri lapangan dan sempat berhenti pada Museum Seni Rupa. Kami memutuskan untuk tidak masuk ke dalam. Ohya, hanya Rp. 5.000 saja bagi kamu yang ingin tahu apa yang ada di dalam museum tersebut. Biaya itu sama dengan biaya masuk ke Museum Wayang yang letaknya masih berada di komplek lapangan Fatahillah.

Museum Nasional


Waktu aku kecil, ayah mengatakan namanya adalah Museum Gajah. Kami tidak merencanakan untuk mampir karena khawatir tidak terburu waktu, eh ternyata masih sempat hihi. Musuem ini berada di sebelah Kementerian Komunikasi dan Informasi alias KOMINFO. Dari terminal busway Kota, naik saja Koridor 1 arah ke Blok M dan turun di halte busway Monas. Tepat di seberang halte itu adalah Museum Nasional.

Masuk ke dalam museum dikenakan biaya Rp. 5.000 dan tas harus dititipkan. Namanya saja Museum Nasional, maka koleksi yang tersimpan di dalamnya sangaaaat beragam. Baik dari arca-arca hingga koleksi etnografi Indonesia. Gedungnya sudah semakin bagus apalagi ketambahan gedung dan koleksi baru.

---

Aku tidak bisa bercerita banyak karena aku ingin membuatmu penasaran dan memutuskan untuk berlibur mengunjungi tempat-tempat itu tadi. Aku juga kagum ternyata museum pun ramai menjadi tempat wisata kalau hari libur. Dan aku senang, karena aku punya kesempatan bermain-main ke museum tersebut dan melihat bahwa Indonesia punya banyak hal yang bisa "dijual". 

Gara-gara datang ke museum-museum tersebut, aku pun sempat berpikiran mengapa tidak ada penulis yang membuat novel seperti Da Vinci Code namun beraroma Indonesia (aku belum membaca Jacatra Secret ataupun Adriana). Siapa tahu tidak kalah seru dan menarik :)

1 comment: