Saturday, 25 January 2014

When Formal Education meets Soft Skill


Aku setuju dengan kutipan di atas. Mengingat kembali sebelum liburan natal dan tahun baru, adik-adikku yang masih duduk di bangku SMA membaca laporan hasil belajar mereka selama satu semester. Yang paling kecil, menemukan 3 nilai yang baginya tidak memuaskan. Lantas, ia pun bertekad, ketika tiba saatnya masuk semester baru, dia akan berusaha mencoba mencari jawaban mengapa nilai itu yang ia dapatkan, padahal menurutnya, dia sudah belaar maksimal.

Berbeda dengan orang tuaku yang menganggap laporan tersebut hanya angin lalu. Apalagi di era sekarang, nampaknya tidak ada sistem peringkat alias ranking. Sehingga orang tuaku hanya mematok, jangan sampai terperosok terlalu dalam. Ibu masih mending, mau membaca sekilas. Sedangkan ayah, hanya menyentuh dan tidak membaca sama sekali.

Itulah yang terjadi di keluargaku. Orang tuaku tidak memberi target terlalu muluk untuk pendidikan formal ketiga anaknya. Dari dulu hingga sekarang, mereka hanya berharap agar semua anaknya bisa sekolah di sekolah negeri (di Surabaya, sekolah negeri 100% gratis) mengingat pekerjaan ayah. Kami pun juga diberi kebebasan untuk memilih apa yang ingin dilakukan. Misalnya saja, adikku yang paling kecil ini dia suka sekali menggambar, komik khususnya. Dia bahkan menabung untuk dapat membeli buku tutorial how to draw manga. Aku akui, daya imajinasinya menarik! Karya yang dia hasilkan juga bagus. Orang tuaku sama sekali tidak melarang adikku untuk menghentikan pekerjaannya itu. Bahkan, beliau mendorong agar si adikku terus belajar.

Ibu sendiri pernah berucap bahwa beliau memang peduli dengan pendidikan formal anak-anaknya, namun, beliau lebih concern terhadap kemampuan. Seperti kemampuan bertahan hidup. Apalagi ayah selalu bilang bahwa ijazah hanyalah bukti bahwa kita telah melakukan apa yang diwajibkan oleh pemerintah, namun ijazah tidaklah 100% mencerminkan kemampuan yang kita miliki. Maka dari itu, orang tuaku sangat mendukung apabila anak-anaknya memiliki kegiatan di luar sekolah. Karena menurutnya, kualitas pribadi seseorang akan terbentuk dari kegiatan tersebut. Bukan dari nilai di rapot.

Aku bersyukur memiliki orang tua yang memiliki pemikiran makin modern. Bayangkan saja, mungkin jika orang tuakua masih kolot, mana boleh aku memilih kuliah di Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan? Mana boleh aku bercita-cita menjadi pustakawan? Mana boleh adikku menjadi komikus? 

Pendidikan formal memang penting, namun kemampuan atau soft skill juga sama pentingnya. Pendidikan formal akan membantu kita untuk berpikir secara urut dan rasional. Soft skill memberikan kita pertimbangan bagaimana cara kita melakukan suatu hal. Kita hanya mengandalka pendidikan formal tanpa ada kemampuan sama sekali? Kita hanya jago teori dan tidak tahu cara mengeksekusi. Hanya mengandalkan soft skill? Kita tidak akan bekerja secara pintar (work smart). Maka dari itu, kombinasi yang seimbang antara keduanya akan membantu kita untuk berkembang. From work hard to work smart.

Jadi, buat kamu yang punya kemampuan, misalnya merajut, jangan berkecil hati! Kamu punya added value dari sekedar titel kamu yang ada di ijazah. Dan jangan lupa, rajinlah membaca apapun yang menarik minat kamu, karena menurutku, pasti ada informasi yang bagimu berguna di setiap bacaan :)

No comments:

Post a Comment