Thursday, 25 July 2013

Purwarupa Sehidup-Hidupnya


Sering kali kita mendengar dan membaca ungkapan yang kurang lebih bermakna, "jadilah dirimu sendiri". Namun, pada kenyataanya hal ini sulit dijalani. Bahkan oleh yang sudah lebih tua dari kita (aku berasumsi pembacaku sebaya denganku kini). Memang, setiap manusia memiliki pilihan akan seperti apa kehidupannya kelak. Bahkan ada pula yang berujar bahwa kita ini adalah arsitek bagi masa depan kita sendiri. Masalahnya tetap sama, mampukah kita membangun masa depan sesuai dengan keinginan kita?

Tidak sedikit orang yang kini belajar dan bekerja tidak sesuai dengan lentera jiwanya alias passion yang ia miliki. Yang seperti itu sangat mungkin terjadi karena lingkungan sekitar, seperti lingkungan sosial dan keluarga. Pandangan banyak orang mengenai definisi "sukses" nampaknya masih berkutat dengan beberapa titel dan posisi yang menjanjikan di perusahaan multinasional yang sudah besar. Sehingga, desain awal kita tentang masa depan pun jadi menyempit, sayangnya dengan gambaran yang belum benar.

Tidak ada kata terlambat untuk menjadi arsitek dan mendesain ulang masa depan kita seperti apa yang pernah kita bayangkan. Hanya saja yang perlu diakali adalah cara menghemat waktu. Keberanian dan keteguhan hati untuk terus bertahan pada desain awal juga diuji, dan itu tidak mudah. Pastilah kita akan menghadapi yang namanya opini negatif dari siapapun. Hingga mungkin, kita sendiri malah yang membawa "penjahat" ke dalam kehidupan kita, yang bernama "membandingkan kesuksesan". Sekali lagi aku katakan, setiap orang punya definisi akan kata "sukses". Jadi, wajar apabila orang tua dan kita memiliki perbedaan dalam future job yang akan (dan seharusnya) kita ambil.

Salah satu opini negatif yang kurang aku sukai ialah, apabila ada seseorang lulusan jurusan X malah mendapat kerja bukan sesuai dengan bidangnya, melainkan minatnya (lentera jiwanya). Tidak jarang kan kita mendengar orang berkomentar, "kok bisa itu lo, lulusan X malah kerjanya Y. Kenapa dulu nggak sekolah Y aja sih?" Dan bisa saja yang bersangkutan membalas, "you only know my name, not my story".

Malah dari kacamataku, orang yang bisa menentukan kegiatannya di masa depan berdasarkan dengan lentera jiwanya adalah orang yang beruntung dan hidup sehidup-hidupnya ketimbang yang berusaha menyenangkan hati orang lain (atau malah beradu gengsi). Karena, berusaha mendapat pujian dari orang lain dari apa yang kita lakukan sesungguhnya adalah kegiatan yang melelahkan. Capek tenaga dan capek pikiran. Aku tidak mengatakan bahwa menjadi diri kita yang sebenarnya adalah hal yang mudah. Banyak halang rintang yang harus dilalui. Tetapi, apabila untuk mencapai keinginan akan terpenuhinya lentera jiwa dilakukan sesuatu usaha yang sangat besar, terjadilah sebuah keajaiban.

Aku masih ingat dengan cerita ayahku. Beliau pernah berutur bahwa lebih baik hanya tamatan SD tetapi bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi orang banyak daripada bergelar Profesor tetapi malah jadi pekerja. Maksudnya apa? Tidak peduli kita mau lulusan apa dan darimana, selama mental kita masih mental pekerja, kita belum merdeka dari opini publik. Ingat kan, orang tua kita tidak henti-hentinya menginginkan anaknya menjadi X dan Y alias bekerja di salah satu tempat (intinya menjadi pekerja)? Itulah yang menyebabkan akhirnya ketika seseorang memilih kuliah, dia akan berkata "aku mau sekolah X di Z karena aku ingin bekerja di....." bukannya menjawab "karena aku ingin punya (nama perusahaan misalnya)" atau "wah kuliah di Z ini peluang kerjanya di .... besar loh."

Memang, dalam memenuhi hasrat lentera jiwa butuh proses yang tidak sebentar. Tetapi, jika memang benar-benar ingin menuju kesana, setiap usaha yang kita lakukan terasa ringan (walau sebenarnya ya berat juga sih) karena kita ikhlas tidak terpaksa dalam melakukannya. Yakinlah, bahwa di ujung pelangi akan terdapat pundi-pundi emas :)

Aku mengutip tagline milik salah satu Universitas terkemuka di Surabaya: Be Your Own Boss - jadilah bos di kehidupan mu sendiri. Memang manusia yang baik adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Jika seseorang tidak merasa nyaman (bahagia) atas kehidupannya, bagaimana dia bisa ikhlas dalam memberi manfaat kepada makhluk lainnya? :)

---

Aku menuliskan post ini karena sebal dengan mereka yang menilai negatif beberapa orang temanku yang lulusan jurusan teknik yang akhirnya membuka toko online. Tetap, di mataku, mereka lebih keren karena berani hidup sehidup-hidupnya dari apa yang menjadi lentera jiwanya. Mereka tidak berusaha memberi impresi orang lain. Setidaknya, mereka menjadi bos untuk perusahaan yang mereka bangun sendiri dan malah membuka lowongan pekerjaan untuk orang lain :)
Ah iya, aku jadi ingin mewawancara mereka :)


No comments:

Post a Comment