Monday, 15 July 2013

Kekuatan Pena

sumber: Pinterest
Ada yang sudah membaca salah satu postku saat meresensi majalah GoGirl! Magazine edisi Januari 2013? (baca disini). Dalam tulisan tersebut, aku juga menampilkan kutipan dari maestro Sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer.

Mari kita asosiasikan pena dengan tulisan. Pada gambar pertama terpampang bahwa kekuatan pena lebih tajam daripada pedang. Benarkah?

Mengeluarkan isi kepala kita, alias ide, ke dalam bentuk tulisan adalah salah satu cara untuk menorehkan sejarah atas kita sendiri. Walaupun aku hanya bisa menumpahkan uneg-unegku di blog ini, tetapi setidaknya aku sudah berusaha merekam jejak pemikiranku. Tulisan bisa menjadi saksi bagaimana pemikiran, sudut pandang, presepsi kita terhadap suatu hal berubah dan berkembang seiring dengan banyaknya ilmu dan informasi yang kita terima. Dengan kata lain, tulisan tercipta karena adanya beberapa bagian kosong dalam otak kita yang menyebabkan kita berpikir. Sehingga timbullah suatu konstruksi sosial akan suatu hal yang sedang kita hadapi. Sepertinya tulisanku terlalu teknis ya? Sederhananya, karena kita sudah memiliki suatu informasi tentang suatu masalah, kita kemudian menghubungkannya dengan informasi sebelumnya dan muncullah suatu pemikiran, dan kemudian kita berusaha menulis. Setidaknya untuk merunutkan apa yang sebenarnya telah kita dapatkan.

Lantas, mengapa pena dianggap lebih sakti ketimbang pedang? Bayangkan saja jika setiap individu selalu menuliskan apa yang ada di pikirannya secara konstan. Berawal dari tulisan yang bisa dikatakan sangat pemula hingga akhirnya bisa memengatuhi orang banyak, menginspirasi misal. Apalagi kalau banyak pihak yang tergerak karena tulisannya. 

Contohnya saja, pada zaman Indonesia masih dalam masa penjajahan. Bagaimana bangsa penjajah sengaja "membungkam" tulisan anak Negri agar tidak ada perlawanan balik dari Indonesia. Secara tidak sadar, saat ini pun masih berlangsung peristiwa seperti itu. Pembredelan, atau bahkan penarikan ulang judul-judul terlarang oleh Pemerintah karena dianggap akan membahayakan keamanan negara ini.

Untuk masalah politik, aku sendiri kurang tahu dan kurang paham. Tetapi, aku pernah mendengar isu bagaimana sebuah tulisan berupa buku pada akhirnya mengancam keselamatan penulisnya, karena efek yang dihasilkan oleh tulisan itu terhadap pembaca. Nama pengarangnya ialah Salman Rushdie. Salah satu judul yang dianggap fenomenal ialah Satanic Verses. Ia pun dikejar oleh banyak pihak karena dianggap melecehkan agama Islam dalam buku tersebut (aku sendiri belum pernah membacanya karena di Indonesia, buku tersebut tidak boleh dijual).

Bayangkan saja, hasil pemikiran manusia ternyata lebih ampuh untuk mengubah dunia. Tulisan bisa mengubah persepsi manusia yang akhirnya juga mengubah keseluruhan isi bumi ini. 

Jadi, selain memang menulis (minimal) merupakan kegiatan yang menandakan eksistensi kita, menulis pun juga berarti melakukan "penyerangan" secara perlahan. Sudah siapkah kamu untuk menulis? :)


2 comments:

  1. Coba baca ceritanya oscar wilde yang kehidupannya juga terancam karena sastra hes, sangar

    ReplyDelete
  2. pahlawan kemerdekaan filipina, Jose rizal, dieksekusi mati gara2 bukunya Noli Me Tangere

    ReplyDelete