Friday, 5 July 2013

Gundala Datang ke Surabaya

Teater Gandrik Gundala Gawat
4 Juli 2013, 5th Floor Ballroom Empire Palace Surabaya
Naskah: Goenawan Muhammad
Penata Laku/Musik: Djaduk Ferianto
Pemain: Susilo Nugroho (Gundala Putra Petir); Butet Kertaredjasa (Pak Petir); Jujuk Prabowo (Sun Bo Kong); Gunawan Maryanto (Pangeran Melar); Jamaluddin Latif (Aquanus); M. Arif "Broto" Wijayanto (Jin Kartubi); Harya "Hasmi" Suraminata (Hasmi); Nunung Deni Puspitasari (Sedah); Agnesia Linda (Nungki); Jami Atut Tarwiyah (Agen X9 dan Ketua Agung)

Meskipun yang sedang merayakan hari kemerdekaan pada 4 Juli adalah Amerika Serikat, tetapi pahlawan bernama Gundala Putra Petir malah datang ke Surabaya. Padahal tidak ada kerusuhan apapun, tidak juga ada perayaan karnaval di jalanan. Tetapi, sekumpulan superhero datang ke Empire Palace Ballroom semalam (4/7). Ternyata, mereka diundang oleh Jawa Pos sebagai bintang tamu ulang tahun ke-64 yang jatuh pada awal Juli lalu.

Pengumuman akan datangnya Gundala ke Surabaya sudah mulai ramai sejak pertengahan Juni lalu. Nama Goenawan Muhammad, Djaduk Ferianto, dan Butet Kertaradjasa menjadi daya tarik sendiri buatku. Ditambah lagi dengan nama Teater Gandrik yang membawakan cerita ini. Setelah aku bertanya pada ibu, langsung saja kami merencanakan untuk menonton teater Gundala Gawat.

Harga tiket beragam yang dibedakan berdasarkan kelas. Aku dan ibu sih memilih yang paling murah, tiket kelas bronze seharga Rp. 100.000. Saat kami membeli tiket, panitia memberi tahu bahwa pintu dibuka pada pukul 18.00. Kami sengaja memilih pementasan hari Kamis karena di hari Jumat kami memperkirakan jalanan menuju venue akan lebih padat.

Kami pun datang sekitar pukul 17.00 dan langsung menuju loket penukaran tiket. Saat kami sampai di lantai 5, ternyata panitia masih menyiapkan venue. Terdengar pula ada yang sedang gladi resik di dalam ballroom. Jadilah kami memutuskan untuk kembali ke lobby hingga saatnya open gate. Ohya, kami sempat melihat pak Djaduk dan pak Butet sliweran untuk memeriksa keperluan pentas loh. 

Pukul 17:55 kami kembali ke lantai 5 dan sudah lumayan saja yang mengntre di depan pintu masuk tiap kelas. Kami tidak langsung mengantre, tapi malah melihat-melihat merchandise yang dijual oleh Teater Gandrik. Ada kaos, CD musik, dan DVD dari pementasan Teater Gandrik Gundala Gawat di Jakarta. Kami tertarik pada kaosnya yang memiliki model yang bagus-bagus. Akhirnya pilihan kami jatuh pada kaos hitam dengan gambar Gundala seorang. Buat kami, harga merchandise-nya sudah wajar kok, Rp. 100.000 untuk sebuah kaos hitam yang bahannya adem dan tentu saja modelnya bagus!

kaoas hitam merchandise Gundala Gawat, booklet, dan tiket

Kami pun akhirnya masuk ke dalam dan syukurlah mendapatkan barisan paling depan pada kelas bronze. Sebelum kami masuk ke ballroom, seorang panitia berujar kalau pementasan akan dilakukan pada pukul 20.00, meskipun di tiket tertulis pukul 19:30. Aku memahami kok. Sebagai seorang yang pernah menjadi penyelenggara acara, menuliskan waktu pementasan 30 menit lebih cepat itu bertujuan agar penonton paling terlambat datang pada waktu itu. Sehingga ketika pementasan dimulai, penonton tidak ada yang masih sibuk berlalu lalang mencari kursi yang tentu saja menggangggu kenyamanan penonton lainnya. Ehiya, terlihat juga pejabat negara seperti Pak Dahlan Iskan (beliau tentu saja datang) beserta keluarga dan Pakde Karwo (Gubernur Jawa Timur) beserta keluarga. Malah dengar-dengar, Wakil Presiden RI, Pak Boediono juga hadir.

Seorang MC muncul dan mengantar penonton dalam pementasan Tearer Gandrik malam itu. Dibuka dengan tokoh Hasmi yang diperankan oleh pak Hasmi sendiri. Dari awalnya saja ternyata sudah kocak. Dan hingga akhir masih tetap kocak. Apalagi ketika tokoh Gundala berada di atas panggung. Tingkah polahnya saja sudah lucu, ditambah ketika ia berdialog dengan lawan mainnya. Aku sendiri tidak tahu mana yang memang sudah ada dalam naskah, mana juga yang improvisasi, karena semua pemain seakan seperti ngobrol biasa saja.

Gundala Gawat berkisah tentang Hasmi, sang pencipta tokoh Gundala Putra Petir dan beragam superhero lainnya, sedang gundah gulana karena keadaan negara yang makin semrawut. Sehingga Hasmi pun berinisiatif untuk memanggil para superhero karyanya ke dunia nyata untuk memberantas kejahatan. Gundala sempat dilabrak oleh warga Klaten karena seorang warganya tewas tersambar petir. Akibat kejadian tersebut, Gundala pun bertanya pada ayahnya, Pak Petir tentang kebenaran akan petir yang menyambar tidak tentu arah. Ternyata Pak Petir hanya ingin mencegah, sebelum akhirnya suatu kejahatan terjadi. Di saat yang sama, terdapat juga informasi akan wabah petir dan perampokan bank yang terjadi secara bersamaan di setiap wilayah. Desas-desus akan kehancuran negara juga makin santer karena banyaknya penjahat yang makin tidak beradab. Apakah itu wabah petir? Siapa dalang dibalik perampokan bank? Mengapa Pak Petir menyambarkan petirnya terus? Seperti apa kumpulan superhero ketika memberntas kejahatan?

Suguhannya menarik sekali! Menurutku, guyonan yang dilemparkan juga cerdas, karena membahas tentang kenyataan politik di Indonesia (kalau tidak update berita politik mungkin tidak paham apa yang mereka tertawakan), meskipun ada beberapa yang terkesan vulgar (syukurlah secara tersirat). Tetapi sayang, sound system berulang kali bermasalah. Malah ada 1 babak dimana sound system mati sehingga para pemain pun harus memaksimalkan suaranya. Seharusnya, ketika ada masalah dengan microphone, sebagai penonton yang baik, tidak bertambah gaduh agar dialog diatas panggung bisa terdengar. Tidak juga menyoraki dengan ucapan "Gak krungu (tidak kedengaran)" karena itu tidak sopan dan malah membuat para pemain grogi (untunglah, Teater Gandrik tidak mudah terpengaruh teriakan penonton). Aku sendiri yakin, begitu ada masalah teknis, panitia akan langsung berusaha untuk memperbaikinya.

Dari kacamataku, penampilannya menyenangkan! Lucu sekali dan benar-benar membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal. Aku suka dengan pemeran Gundala. Kocak! Mereka tidak hanya berdialog atau bermonolog diatas panggung. Ada bagian dimana mereka bernyanyi bersama. Tidak jarang juga berbincang dengan pemain musik di atas panggung. Mereka keren sekali! Kalau dari pihak penampil sih, aku merasa puas dan tiket yang aku beli memang setimpal dengan kualitas yang mereka berikan. Hanya saja, aku menyayangkan kesalahan teknis sehingga suara pemain tidak terlalu terdengar plus dibumbui dengan teriakan penonton yang kurang sopan. Sebenarnya sewaktu menunggu Teater Gandrik muncul, penonton sudah asik sendiri dengan seruan dan tepuk tangan sebagai tanda bahwa mereka tidak sabar. Well, aku cukup kecewa karena menonton teater tidaklah seperti menonoton hal-hal yang remeh.

Teater adalah salah satu bentuk seni pertunjukan. Kalau menurutku, tidak hanya diapresiasi dari banyaknya jumlah tiket dan merchandise yang terjual, tetapi juga dari etika dan sopan santun penontonnya. Kalau penontonnya sudah tidak sopan, meskipun kuantitasnya banyak, bisa jadi mereka tidak mau tampil lagi. Aku juga sesungguhnya sebal dengan penonton yang malah sibuk memotret ataupun merekam baik dari kamera ataupun gadget (tablet, telepon selular). Seorang penonton di kelas silver yang duduk di depanku malah asyik memotret teman-temannya sesama penonton dengan menggunakan blitz. Iya, aku sebal, karena menurutku tidak beretika. Luapan kekesalanku sudah ada di sini loh hihi.

Dari aku, Teater Gandrik Gundala Gawat sangat direkomendasikan untuk mereka yang ingin hiburan anti-mainstream (apalagi kalau kamu masih muda dan ingin meningkatkan asupan kepalamu dengan hal-hal yang intelektual dan nyeni!). Coba deh tonton penampilan mereka, baik langsung ataupun dari DVD. Tapi ingat, kalau menonton langsung jangan sampai mengganggu penonton lain dan penampil. Seni itu lebih dari sekedar melihat dan mendengar. Seni itu bagaimana perasaan manusia mengecap rasanya.

1 comment:

  1. Wah, tak nonton saya dulu. Dengan naskah oleh GM dan musik Djaduk, ditambah ada Hasmi aslinya segala, pasti mantap sungguh Gundala yang satu ini :D

    ReplyDelete