Saturday, 29 June 2013

Library for Disabled

Sesungguhnya, aku sudah ingin bercerita tentang topik ini sejak sebulan yang lalu. Kendalanya adalah, tetap, karena masalah waktu. Padahal waktu tidak pernah bermasalah kan? Oke, kali ini aku ingin menumpahkan yang ada dalam pemikiranku mengenai teman-teman difabel.

Teman-teman difabel ini ialah teman-teman yang memiliki kekurangan fisik seperti tuna rungu, tuna daksa, tuna grahita, tuna wicara, dan kebutaan. Sebenarnya, konteks difabel itu sendiri tidak hanya tentang kekurangan fisik. Coba baca lebih lanjut di wikipedia ya :) (klik untuk baca).

Selama ini, kalau dilihat, apakah fasilitas kota kita sendiri sudah ramah dengan teman-teman difabel? Perbincangan tentang ini sudah diangkat oleh teman-teman mahasiswa Arsitektur ITS melalui acara ArchProject. Acara ini bagus! Ada bincang bersama teman-teman difabel dan lomba sayembara untuk fasilitas kota yang lebih ramah oleh mahasiswa Arsitektur darimanapun. Aku sempat hadir dan ternyata ide yang mereka kemukakan juga bagus. Hal sekecil tinggi trotoar dikaji begitu dalam, demi kenyamanan teman-teman difabel.
Tengok video teaser-nya yuk



Dan besok, tgl 30 Juni 2013, ada satu acara yang sebenarnya ingin aku datangi: Thisable Festival, dimana penyelanggara acara ingin mengikis tembok perbedaan antara kita yang memiliki kemampuan fisik sempurna dengan teman-teman difabel.



Pasti menyenangkan bisa bertemu dan berbincang dengan mereka, teman-teman difabel. Apalagi jika dikaitkan dengan jurusan dimana aku belajar sekarang, Ilmu Informasi dan Perpustakaan. Oke, aku akan bercerita satu kasus di tempat aku belajar.

Perpustakaan Universitas Airlangga memang bagus. Fasilitas dan pelayanannya sudah baik, tetapi aku baru menyadari ada satu hal yang kurang. Aku mendengar kisah ini dari salah satu dosenku. Pernah ada sebuah acara dimana mengundang orang-orang yang lebih dari paruh baya. Letak aula berada di lantai 3 dan akses menuju ruangan hanya bisa melalui tangga, karena memang tidak ada fasilitas eskalator ataupun lift. Alhasil, para tamu mengeluh, karena untuk menaiki tangga kemampuan mereka sudah tidak seperti kita yang masih mahasiswa ini.

Dari kasus tersebut, aku sempat juga berpikir, bagaimana dengan teman-teman difabel? Apakah mereka juga mengeluhkan hal yang sama? Itu masih dalam konteks fasilitas, bagaimana dengan pelayanan yang diberikan kepada mereka? 

Aku belum menemukan perpustakaan di Indonesia yang sudah memiliki layanan dan fasilitas untuk penyandang cacat. Eh, Perpustakaan ITS sudah ramah dengan fasilitas karena tersedia jalur khusus untuk pengguna kursi roda dan lift di dalamnya. Kalau teman-teman menemukan perpustakaan dengan faslitas yang ramah tersebut, tolong kabari aku ya :D

Bagaimana dengan di negara maju? Jangan ditanya lagi. Amerika Serikat contohnya, sudah punya perpustakaan khusus teman-teman difabel. Fasilitas dan layanannya pun juga tidak sekedarnya. Bentuk perpustakaan seperti membuat teman-teman difabel dihargai karena mereka juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses menuju informasi.Contohnya saja Utah State Library for the Blind and Disabled. Tengok deh :)

Aku sempat kepikiran untuk melakukan kolaborasi dengan rekan mahasiswa Arsitektur, atau para arsitek suatu saat nanti untuk membangun perpustakaan khusus difabel yang sama spektakulernya dengan perpustakaan umum atau perpustakaan nasional. Karena menurutku teman-teman difabel sama dengan kita. Mereka tidak berbeda dengan kita. Mereka juga punya hak menggunakan fasilitas umum, salah satunya adalah perpustakaan.

Anyway, topik ini bisa dijadikan bahan penelitian loh! Bagaimana? Berminat untuk kolaborasi? :)

3 comments:

  1. FYI, perpustakaan ITS memang memiliki fasilitas khusus semacam track untuk memudahkan penyandang cacat untuk memasuki areal perpus dan kondisinya masih lumayan bagus menurutku, tetapi untuk lift masih dalam kondisi "out of order" beberapa bulan terakhir. Klo lagi mampir ke ITS boleh kok berkunjung ke Perpustakan ITS :)

    ReplyDelete
  2. wohooo cool banget yah teaser nya, salut buat anak-anak arsitektur ITS :)Oya soal thisable enterprise, foundernya; Angkie Yudistia pernah jadi pembicara di seminar kampus ku, and she was so fabolous! keren banget bisa jadiin kelemahannya sebuah kelebihan :)
    @nuriyazizah

    ReplyDelete
  3. Setahuku perpustakaan yang sudah ada difabel cornernya adalah perpustakaan di UIN Jogja. Semoga lebih banyak lagi ya perpustakaan yang menyediakan akses untuk para difabel. Salam dari sesama pustakawan ;)

    ReplyDelete