Saturday, 29 June 2013

Being Mental Bullying Victim

Aku kira kata "bullying" bukanlah suatu hal yang asing. Apalagi, sudah banyak refrensi yang membahas tentang kata tersebut, hingga ke efek samping bagi para korban maupun bagi para pelakunya. Macam dari "bullying" juga banyak. Terutama di era yang serba digital seperti saat ini, banyak sekali contoh dari cyber bullying. Bahkan yang baru-baru ini memakan korban yang sampai memutuskan untuk bunuh dari karena banyak yang menhujat dirinya di salah satu akun media sosial, twitter.

Apakah kamu salah satu dari pelakunya? Atau mungkin ada yang merupakan korban? Aku tidak akan membahas mendetil tentang hal ini, karena aku percaya, ada banyak tulisan yang lebih berkualitas yang bisa dijadikan refrensi bacaan. Disini, aku hanya ingin berbagi kisah dan pemikiran tentang bullying, semenjak aku (merasa) menjadi korban dari kegiatan ini.

Pernahkah kalian mendengar istilah mental bullying? Biasanya lebih dikenal dengan Physical Abuse. Coba baca saja penjelasan dari wikipedia disini

Dalam pemahamanku, mental bullying adalah disaat keadaan psikis kitalah yang diserang dengan perlakuan yang tidak menyenangkan. Seperti ejekan yang intensitasnya sudah kelewatan, hingga menekan melalui lingkungan sosial yang membuat si korban merasa depresi. Tambahan, kegiatan orientasi yang memperlihatkan adanya adegan dibentak-bentak, bisa menyebabkan seseorang merasa bahwa ia menjadi korban mental bullying. Kok bisa? Ah Hesti berlebihan nih. Bisa dong. Apalagi kalau si pelaku seakan sengaja mencari kesalahan korban sehingga si pelaku bisa meluapkan kemarahannya kepada si korban. 

Aku sendiri memiliki prinsip, kalau bisa dikatakan secara baik-baik, mengapa harus lewat jalur kekerasan. Memang, aku tidak bisa berharap bahwa orang lain akan bertingkah laku baik walaupun aku sudah berperilaku baik untuk mereka. Namun, kalau aku tidak punya anggapan untuk berbuat baik, lantas, bisa-bisa semua bentuk kekerasan seperti bullying akan dianggap sebagai suatu hal yang normal dong?

Kembali pada konteks mental bullying. Ada suatu saat dimana aku seakan menjadi sosok public enemy dalam salah satu lingkungan sosialku. Aku pernah memiliki masalah dengan beberapa pihak saja, dan aku memutuskan untuk merahasiakannya diantara aku dan pihak tersebut, karena menurutku, masalah seperti itu bukanlah suatu hal yang bisa dikonsumsi oleh publik. Di saat aku berusaha untuk menjaga, ternyata pihak tersebut malah membeberkan masalah. Jadilha, beberapa pihak yang awalnya memang tidak ada masalah denganku, ikut menghujatku dengan ucapan-ucapan yang tidak mengenakkan. Tentu aku jadi bingung, karena aku sendiri merasa tidak ada masalah dengan mereka, dan lagipula masalahku memang tidak ada kaitannya dengan mereka. Alhasil, aku pun jadi seakan public enemy, dimana tidak memiliki teman dalam lingkungan sosial tersebut. Dijauhi, diacuhkan.

Walaupun aku sudah berusaha menyelesaikan masalah ini, meminta maaf, dan tetap bersikap baik dengan pihak tersebut, tetapi ternyata ucapan-ucapan tersebut tidak berhenti, bahkan makin menjadi. Pihak tersebut sampai mengirimkan chat bbm langsung yang kurang lebih isinya mengintimidasi. FYI, aku memang tidak menghapus kontak bbm, karena aku tidak ingin masalah seperti ini malah memutus tali silaturahmi. Ya, aku ingin menjaga tali silaturahmi dengan lingkungan sosialku.

Awalnya, aku tentu kaget dan merasa marah karena perlakuan seperti ini. Tapi, aku sadar, kalau aku menyerang balik, mereka yang akan senang. Dan buatku, penyerangan balik dengan sesama sindiran dan ejekan bukanlah sesuatu yang bijak.

Haters gonna hate. Memang. Untuk apapun yang aku lakukan, di mata mereka aku selalu salah. Mereka selalu berusaha menjatuhkanku melalui komentar di berbagai media sosial tentang tindakan yang aku ambil, tentang twit yang aku lontarkan. Aku tidak bisa menyenangkan berbagai pihak juga kan? :)

Aku bersyukur karena aku masih memiliki lingkungan sosial lain yang jauh lebih positif. Yang memang menghargai idealismeku selama ini. Sehingga, ketika mereka yang hobi nyinyir tersebut mulai menyerang, aku sudah bisa membalas dengan jauh lebih bijak: prestasi. 

Menjadi survivor dari tindakan bullying memang tidak mudah. Aku akui, butuh banyak waktu dan teman-teman yang bisa membawa aura positif untuk mengabaikan ucapan tersebut. Bukankah para pelaku bullying adalah fans setia kita? Yang tidak henti stalking tentang kita, menjadi yang nomor satu untuk mengetahui kegiatan kita? Para pelaku bullying juga merupakan bukti bahwa kita berada di depan dia.

Untuk teman-teman yang menjadi korban bully, khususnys mental bullying, jangan takut! Lawan balik dengan prestasi entah akademis maupun non-akademis. Buktikan bahwa menjadi korban tidak selamanya tertindas. Tapi, ingat, jangan balas hujatan dengan hujatan juga. Bisa-bisa kita dihabisi oleh mereka.Tetap jaga silaturahmi, jangan perpanjang permasalahan. Bukahkan Rasulullah SAW tetap berperilaku baik dengan mereka yang suka mencela & mencelakakakn beliau? :)

Massive success is the best revenge

No comments:

Post a Comment