Sunday, 12 May 2013

Posesif

"Ah, Hesti pelit nggak mau pinjemin aku buku."

Aku sendiri tidak jarang kok disindir seperti itu. Malah aku merasa sungkan jika aku harus berpura-pura ikhlas untuk meminjamkan bukuku pada orang lain.

Aku mengakui, aku memiliki sifat posesif terhadap buku, persis seperti sifat yang dimiliki oleh orang tuaku. Efeknya, aku tidak mudah bisa meminjamkan buku kepada siapapun, apalagi orang asing yang baru aku kenal. Lah kok aku malah punya akun Lendabook? Jujur, koleksi yang aku pamerkan di akunku itu hanyalah sebagian kecil dan paling tidak aku sudah ikhlas meminjamkannya. Untuk buku-buku yang lain? Aku hanya memberikan akses kepada orang-orang yang sudah aku percaya. Paling tidak kami sudah mengenal cukup lama (plus kenal dekat) dan sudah tahu masing-masing karakter.

Sifat posesif ini tidak lain karena aku merasa bahwa koleksi yang aku dapat (atau yang ada di rumah terlepas siapa yang memiliki) dibeli dengan uang. Dan aku sudah merasakan sendiri bahwa mencari uang tidaklah semudah charging baterai handphone, yang kalau habis tinggal main colok saja. Oleh karena itu, aku berusaha sebisa mungkin untuk melakukan perawatan dan penjagaan terhadap koleksiku (atau disebut dengan istilah preservasi).

Bagi sebagian besar orang, tindakanku ini konyol. Mereka biasanya berujar, "toh cuman buku. Kenapa sih sampai segitunya. Bukan gadget aja kok." Yah, mereka juga tidak sepenuhnya salah, karena kita punya kegemaran yang berbeda (dan di Indonesia berpendapat seperti itu tidak dipermasalahkan).

aku selalu menempel ulang label harga ;-)

Sudah banyak yang tahu kok, kalau mau meminjam buku dariku (sekalipun yang sudah aku kenal baik) pasti akan kuberi wejangan:

  • Aku selalu menyediakan pembatas buku, agar si peminjam tidak seenaknya saja melipat ujung halaman buku. Tahukah kalian kalau tindakan tersebut merupakan salah satu bentuk vandalisme?
  • Ujung cover tidak boleh terkelupas (ayah biasa menyebutnya "tidak boleh keluar kupingnya).
  • Membaca buku haruslah dalam keadaan bebas. Artinya tidak sedang makan ataupun minum. Tangan tidak dalam keadaan kotor ataupun basah.
  • Si peminjam wajib mengembalikan buku seperti saat ia meminjamnya. Segala kerusakan harus diganti berupa buku baru dengan judul yang sama.


Berlebihan? Ah tidak juga. Aku kan ingin menjaga agar nilai informasi dan kondisi fisik sumber informasi tersebut masih bisa diakses hingga beberapa tahun ke depan. Bagi teman-teman yang baru sekali meminjam, rasanya melakukan hal-hal tersebut agak susah. Berbeda dengan temanku yang sudah kuat iman dan mental. Semua wejangan tadi dilakukan betul sehingga koleksi ku pulang dengan selamat.

Oh iya, koleksi yang berani aku pinjamkan adalah koleksi yang memang aku beli dengan uang hasil usahaku sendiri. Berbeda dengan koleksi milik anggota keluargaku yang lain. Aku tidak berani meminjamkannya, sekalipun kepada teman dekat. Kalau mereka berminat, aku selalu meminta mereka (si peminjam) untuk datang ke rumah dan langsung bertanya kepada si pemilik buku. Sejauh ini, baru ada dua orang saja yang berani langsung menghadap untuk meminjam loh!

Jadi, maaf ya apabila kalian melihat aku sedang asyik sendiri membaca buku, ketika kalian bertanya buku apa dan berminat untuk meminjam kemudian aku menjawab, "bukan punyaku.". Hal itu tidak lain karena memang bukan milikku pribadi, atau aku belum ikhlas melepaskannya kepada yang belum aku kenal karakternya dengan baik.

cheers!

1 comment: