Friday, 31 May 2013

Kalah

Dalam setiap perlombaan, dalam setiap kompetisi, dalam setiap persaingan sekecil apapun itu, pastilah ada sebuah label "pemenang" atau "terbaik". Bilang saja dalam suatu kelas ketika kita masih awam dengan julukan "ranking 1". Semua orang bersikut-sikut ria agar bisa menyematkan status tersebut pada dirinya. Banyak jalan pun dipakai. Aku tidak perlu menyebutkan ada berapa jalan toh teman-teman juga sudah tahu semua.

Tulisan ini bukan membahas masalah jalan menuju "ranking 1" kok. Lihat saja judulnya. Entah benar atau malah salah, yang membaca judul ini berasumsi bahwa artikel ini akan berkutat pada pesimisme atau kegagalan si penulis. Bukan.

Disamping adanya "pemenang" yang tentu sedikit jumlahnya, atau mungki cuman ada 1 saja, sisanya kita sebut "mengalami kekalahan". Apakah ada lawan kata dari "pemenang"? Bisa jadi aku yang kurang mencari tahu. 

Begini, mari kita lihat dalam suatu kompetisi. Semua peserta di dalamnya, bersedia melakukan apapun yang terbaik hingga bisa menyabet gelar juara. Mereka semua secara mental memang siap untuk menjadi pemenang, karena mereka berkomitmen untuk mengikuti kompetisi dengan harapan datang menjadi yang nomor satu. Tetapi, pernahkah mereka (atau bahkan kita sendiri) yang berkompetisi menyiapkan psikis untuk kemungkinan kekalahan? Adakah? Aku rasa tidak. Karena ketidaksiapan itulah, kita sering melihat pihak-pihak yang merasa dirugikan (karena tidak dinobatkan menjadi juara) mengadu, meminta pertandingan ulang sebab mereka merasa bahwa ada indikasi kecurangan. 

Bukan lantas aku meminta mereka yang kalah untuk pasrah. Bukan. Tapi cobalah untuk berbesar hati, berlapang dada untuk menerima kekalahan. Mengakulah bahwa diatas kemampuan kita, ternyata ada yang masih lebih mampu. Bukan malah menuntut adanya pengulangan hingga menjadikan si pemenang sebagai musuh abadi. Kalau begitu caranya, kita tidak pernah belajar untuk menjadi dewasa dong? Sama saja, kita merasa sombong karena dari kacamata kita, diri kita inilah yang terbaik. Dengan kata lain, kita menganggap remeh orang lain.

Mengakui kemenangan dan mengucapkan selamat kepada mereka yang menang dengan ikhlas (tentu tanpa ada maksud-maksud tersembunyi) sepertinya menjadi sesuatu yang langka. Yang malah disangsikan oleh banyak orang. Sayang sekali, budaya berlapang dada berbesar hati ini semakin lama semakin tertutup kabut. Membiasakan diri untuk mengakui kekalahan membuat diri kita belajar bahwa kita masih belum ada apa-apanya. Membuat diri kita sadar bahwa usaha yang kita lakukan selama ini ternyata masih belum maksimal.

Karena menurutku, menuntut pemenang dan menganggap diri kita telah dicurangi merupakan hal yang tidak bijaksana. Dengan status "kalah", kita juga jadi terpacu untuk menekuni bidang yang dikompetisikan, bukannya malah pasrah dan menganggap bahwa ada macam-macam di balik layar. Atau malah memutuskan untuk berhenti berusaha, Bukan. Bukan itu.

Bulan Agustus nanti, masyarakat Jawa Timur akan melangsungkan pemilihan gubernur. Harapanku, mau siapapun yang menang, pihak yang dinyatakan "kalah" tidak lantas menuntut untuk dilakukannya pemilihan ulang. Selain menguras lagi kas negara (yang biayanya tidak kecil), hal tersebut juga mengungkapkan bahwa sifat berjiwa besar ternyata tidak nampak, bahwa mereka belum sepenuhnya dewasa.

"Tujuannya ikut lomba itu bukannya untuk menang. Tetapi untuk belajar kalah. Semua orang siap menjadi pemenang kan?"
-Ayah

No comments:

Post a Comment