Monday, 6 May 2013

Jadilah Wanita yang Pandai


Sudah menonton video diatas?
Mengerti apa maksudnya?

Dulu, aku masih tidak mengerti mengapa Ratu Rania mengatakan bahwa kalau ingin mengubah dunia maka yang perlu dilakukan ialah memberi pendidikan kepada wanita dan perempuan. Tetapi kini, aku sudah paham dan aku akan menuliskan disini pendapatku.

Salah seorang temanku pernah sekali berucap bahwa pendidikan yang paling utama adalah pendidikan di rumah. Kalau kita lihat, memang benar. Seorang anak umumnya baru pergi ke sekolah dasar saat ia berusia 6 atau 7 tahun. Sebelum mengenakan seragam, seorang anak akan mendapatkan pendidikan pertamanya di rumah. Dari berbagai sumber, seorang anak kecil akan menyerap informasi dari apa yang ia lihat, dengar, dan kerjakan lebih cepat dan lebih lama tersimpan ketimbang orang dewasa. Apabila seorang anak tersebut berada pada lingkungan dalam rumah (atau lingkungan keluarga) yang tidak kondusif, tidak heran jika ketika dewasa ia akan menjadi seperti apa yang selama ini dia lihat, walaupun hal ini tidak selamanya terjadi (karena bisa saja lingkungan pertemanannya bersifat positif sehingga ia berubah).

Seorang ibu pastinya adalah sosok yang pertama kali dilihat oleh seorang anak. Ibu juga menjadi guru pertama bagi seorang anak. Ibu menjadi seorang komunikator pertama untuk seorang anak. Hingga ibu yang menjadi pemberi pemikiran (atau bahasa "kerasnya" ialah doktrin) pertama kepada seorang anak. Apabila seorang ibu salah memberikan penjelasan terhadap suatu hal, maka jawaban tersebut akan melekat pada memori si anak dan nantinya dia akan memiliki intepretasi yang salah pula.

Mengapa seorang wanita dituntut untuk menjadi pandai? Tentu saja, agar pihak yang berada dalam lingkungannya (dalam hal ini keluarga) berada pada pemikiran yang cerdas layaknya cendekiawan. Tidak sekedar berucap dan berintepretasi. Seorang wanita yang berada di rumah juga memiliki tanggung jawab yang besar dari wanita karir. Ia bertanggung jawab atas makanan, fasilitas, sarana, dan pendidikan akan setiap orang yang berada di dalam keluarganya. Coba sekarang kita pikirkan, kita akan lebih sering bertanya kepada sosok ibu terlebih dahulu sebelum akhirnya kepada sosok ayah kan?

Bukan sebuah alasan ketika ada yang mengatakan, "untuk apa seorang perempuan sekolah tinggi-tinggi jika nantinya hanya bekerja di dalam rumah". Wah, malah menurutku, harus sekolah tinggi, agar ia bisa mendidik moral dan cara berpikir anak-anaknya dengan benar, sesuai dengan keilmuan dan nilai yang diangkat (ditambah kaidah agama yang diyakini). 

Bagaimana caranya kita, sebagai remaja putri, memulai menjadi sosok ibu yang berpendidikan? Membaca. Perbanyaklah membaca apapun, sesuai dengan bidang ilmu yang kita senangi (tidak hanya yang sedang kita tekuni). Kemudian, sekolah atau kuliah yang memang benar-benar karena niat sendiri.Coba memotivasi diri sendiri dengan membayangkan hidup kita nanti saat berkeluarga. Membayangkan dimana nantinya kita akan menyekolahkan anak-anak kita. Bukankah kita ingin kehidupan anak kita kelak jauh lebih baik daripada kkta? :)

Apa pengaruhnya untuk masa depan? Apalagi kalau bukan agar generasi penerusnya semakin pandai tetapi tidak melupakan akarnya (moral dan nilai). Belum terlambat untuk menjadi wanita yang pandai. Bukankah, setiap manusia pada dasarnya wajib menuntut ilmu hingga liang lahat? :)

entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga,seorang wanita wajib berpendidikan tinggi. karena ia akan menjadi ibu. ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas
Dian Satsrowardoyo 

2 comments: