Saturday, 9 March 2013

Keluar Angkasa bersama "Uchu Kyoudai"

Anime & Manga Information:
Manga
Mangaka: Chuya Koyama
Editor: Yohei Sadoshima
Publisher: Kodansha
Volumes: 19 (on going)

Anime
Director: Ayumu Watanabe
Producer: Koji Nagai
Editor: Yohei Sadoshima
Episodes: 48 (on going)

Event Information:
Ke Luar Angkasa Meraih Mimpi bersama "Uchu Kyoudai (Space Brothers)"
Pemuataran Film Animasi, Talkshow dan Worskhop Sulih Suara
Kamis, 7 Maret 2013, 10:00-13:00 WIB
Gedung Rektorat Kampus ITS Sukolilo, Jln. Teknik Kimia, Surabaya



Aku sudah merencanakan untuk ikut hadir dalam pemutaran animasi Jepang (anime) Uchu Kyoudai yang diselenggarakan oleh The Japan Foundation di Gedung Rektorat ITS Surabaya. Alasannya sih sederhana. Karena The Japan Foundation jarang mengadakan acara serupa di Surabaya (selalu saja di Jakarta). Walaupun acara di jadwalkan pada pukul 10:00, tapi begitu selesainya aku dengan urusan kuliah, langsung saja menuju kampus ITS. Ternyata, pihak panitia baru akan benar-benar membuka registrasi sesuai dengan jadwal.

Seperti biasa, aku datang sendiri. Sudah mengajak & memberitahu beberapa teman, tetapi mereka tampaknya masih sibuk dengan perkuliahan. Toh, tidak ada salahnya datang sendirian. Oh iya, selain pemutarana anime, editor, produser, dan pengisi suara dalam anime tersebut secara berbaik hati juga datang & memberi petuah loh! :D Aku tidak melewatkan hal ini tentunya. Oleh karena itu, begitu pintu menuju ruangan dibuka, aku langsung saja mengambil tempat di deretan kedua (deretan pertama diisi oleh tamu undangan).

Setelah sambutan dari pihak ITS yang diwakili oleh Pembantu Rektor IV, Bapak Darminto, kemudian dilanjutkan oleh Konsulat Jendral Jepang, Bapak Noboru Nomura. Keduanya sama-sama mengharapkan agar industri komik dan animasi asli Indonesia menjadi berkembang seperti di Jepang. Malah di Jepang, industri tersebut seakan sudah menjadi budaya. 

Talkshow pun dimulai. Diawali oleh Yohei Sadosima-san atau akrab dipanggil Sady-san. Beliau menceritakan seklumit masa kecilnya yang akhirnya menuntun ia untuk menjadi komikus dan editor seperti sekarang ini. Sady-san sempat bekerja di Kodansha (salah satu penerbit besar di Jepang) dan akhirnya memiliki perusahaan agen penulis sendiri, Koruku. Selain memberikan motivasi, Sady-san juga memberikan tips menjadi komikus yang baik. Antara lain, jangan sampai stigma bahwa komikus adalah orang yang individu melekat pada kebayakan orang. Pada nyatanya, menjadi komikus membutuhkan beberapa orang. Sady-san mengungkapkan, untuk membuat sebuah judul, dia membutuhkan setidaknya 3 orang untuk membantunya. Selain menjadi tim dalam pekerjaan secara teknis, tim tersebut diharapkan jujur memberi masukan agar judul yang tengah dibuat menjadi lebih baik.

Produser Uchu Kyoudai, Koji Nagai-san, juga sempat menjelaskan tentang perkembangan industri animasi di Jepang. Info menariknya, sekitar 3 tahun belakangan ini, salah satu pemasukan untuk industri animasi adalah dari permainan Pachinko (sejenis judi). Dan tentu saja, semakin tahun pemasukan di industri tersebut semakin meningkat. Mengapa Nagai-san memilih tema luar angkasa? Ternyata, Nagai-san ingin membuat cerita tentang outer space yang logis bagi masyarakat. Tidak hanya itu, dengan cerita yang logis dan mengena, diharapkan agar anime tersebut bisa bertahan lama seperti Doraemon atau Chibi Maruko-chan. Maka dari itu, ia sengaja membuat ceritanya se-riil mungkin dengan keadaan aslinya. 

Nah, kalau Sady-san berkata bahwa dalam membuat sebuah judul komik dibutuhkan setidaknya 3 orang, sedangkan Nagai-san membutuhkan sekitar 300 orang untuk merealisasikan Uchu Kyoudai dalam bentuk animasi. Nagai-san tidak hanya membutuhkan mereka yang jago dalam bidang grafis, ada juga tim untuk mengisi suara dan musik. 

Untuk proses pemasarannya pun dapat dibilang unik (atau karena di Indonesia belum familiar ya sehingga aku menyebutnya "unik"?). Sebelum Uchu Kyoudai resmi dirilis, kereta, koran, pernak-pernik, alat tulis dijadikan sebagai media pengenalan terhadap anime tersebut. Bahkan sempat pula, ada section "salam dari luar angkasa" yang ditayangkan di televisi. Hasilnya? Saat Uchu Kyoudai resmi dirilis, banyak audiens yang sudah tidak sabar menontonnya. 

Ah iya, kedua pakar tersebut sempat juga menjawab pertanyaan tentang bagaimana penjualan komik dan animasi di Jepang sana. Mereka bilang kalau semenjak komik dan novel bisa diakses melalui perangkat digital, penjualan karya cetak tersebut mengalami penuruan. Sehingga, dulu yang awalnya untuk mencetak sebuah komik atau novel ada minimum order sebanyak 10.000 eksemplar, kini bisa dengan hanya order 7.000 eksemplar. Bagaimana dengan modal pembuatan animasi Uchu Kyoudai? Nagai-san langsung saja bicara kalau setidaknya butuh 10 hingga 11 juta yen (1 yen sekitar 200 rupiah). Tetapi, investasi sebesar itu terbayarkan juga dengan bertenggernya anime Uchu Kyoudai di deretan box office di Jepang. Langsung saja, komik karya Chuya Koyama-san ini menjadi popler disana.



---

Sayangnya, hanya kepada undangan saja yang diperbolehkan mengikuti workshop sulih suara bersama Nami Okamoto. Tetapi, untuk aku pribadi, pemutaran animasi tersebut ditambah pula dengan talkshow dari dalang dibelakangnya sudah sangat memuaskan untukku. 

Ketika menunggu dibukanya acara, sempat diputarkan video tentang cara membuat gambar untuk album art Unicorn

sumber: downloadbox.me
Dan, diputarkan juga official soundtrack  Uchuu Kyoudai yang dibawakan oleh band asal Jepang, Unicorn. Videonya recommended to watch! Konsepnya bagus banget!


Aku sangat menunggu kapan The Japan Foundation mau mengadakan kegiatan di Surabaya lagi. Atau mungkin, mau buka cabang di Surabaya? :)

No comments:

Post a Comment