Thursday, 14 February 2013

Bertemu Mimpi yang Hidup

Kurang lebih seperti itulah ucapan pembuka dari ketua yayasan Ivy School Surabaya pada saat briefing relawan Kelas Inspirasi (9/02). Aku sempat ragu-ragu ketika akan bergabung dalam Kelas Inspirasi Surabaya. Awalnya, aku hanya menawarkan lowongan sebagai relawan fotografer kepada teman-temanku yang memang sudah jago sekali, eh tidak disangka, salah satu panitia yang sekaligus temanku malah menawarkan padaku untuk ambil bagian menjadi relawan fotografer. Tentu saja aku berusaha menolak, aku sadar bahwa aku tidak sejago mereka-mereka yang mendaftar. 

Setelah dibujuk rayu, aku akhirnya luluh juga. Dengan perasaan yang agak takut (aku belum pernah menjabat sebagai sie dokumentasi), aku pun menerima ajakannya. Ku berikan persyaratan yang dimintanya. Tidak lama kemudian, masuklah sebuah email dari panitia Kelas Inspirasi yang menyatakan bahwa aku diterima beserta udangan untuk mengikuti briefing di Ivy School Surabaya.

Keraguan datang lagi, karena ternyata letak lokasi dengan rumahku terpaut (sangat) jauh. Tapi kembali aku pikir-pikir, jarak yang aku tempuh akan setimpal dengan pengalaman yang akan aku dapat. Aku akan bertemu para profesional yang mau mendermakan waktu dan tenaganya untuk menginspirasi anak-anak SD agar berani bermimpi. Aku juga akan bertemu dengan para relawan fotografer yang pastinya sudah lebih jago ketimbang aku. Oke, aku setuju. Aku berangkat.



Acara dimulai sekitar pukul 9 pagi. Dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dilanjutkan dengan sambutan dari pihak Ivy School yang sudah berbaik hati merelakan tempatnya untuk tempat briefing, sambutan dari pihak Indonesia Mengajar, dan dari Kepala Dinas Pendidikan Surabaya.

Satu setengah jam kemudian, setelah sederet pidato penggugah hati tersebut, kami dipisahkan berdasarkan status relawan kami. Yang relawan pengajar (para profesional) dan para kepala sekolah SD tetap berada di aula lantai 2, dan relawan fotografer diminta untuk berkumpul di aula lantai 1.

Di aula itulah, dua orang alumni Pengajar Muda (PM) memberikan instruksi, beberapa peraturan, dan apa saja yang harus kami kerjakan sebagai relawan fotografer. Kami juga diberikan photographer guidline agar memudahkan kami memahami peraturan. Alhamdulillah, para PM memberikan kami kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi. Bahkan, kami sampai membuat beberapa kesepakatan bersama. Tujuannya sih tentu saja agar kami para relawan fotografer nyaman memotret ketika hari H dan tidak mengganggu para profesional yang tengah melakukan misinya. Bahkan, ada yang saat itu juga langsung membuatkan sebuah grup dalam facebook untuk kami sebagai wadah berbagi ide. Salah satunya, ide untuk mengadakan pameran.

Awalnya pameran direncanakan akan dilakukan saat evaluasi bersama bertempat di Ivy School. Namun, ada beberapa pihak yang merasa bahwa acara semacam ini seharusnya dipublikasikan ke masyarakat luas, tidak hanya kepada lingkungan Kelas Inspirasi saja. Oleh karena itu, akhirnya kami memutuskan untuk menggodok  terlebih dulu sebaiknya pameran dilakukan dimana agar pengaruh kepada masyarakat semakin besar.

Disini, relawan fotografer dibagi menjadi beberapa kelompok, mengikuti pembagian kelompok pada relawan pengajar. Jadi, yang disebut satu tim ialah terdiri dari relawan pengajar dan relawan fotografer. Agar kami tidak kaget dan bisa memperkirakan cara seperti apa yang harus dilakukan pada saat hari H, Kelas Inspirasi memberikan kami kesempatan selama seminggu untuk melakukan observasi lapangan. Sehingga ketika program berlangsung, antara relawan dan murid tidak trerlalu kaget. Menarik, kan?

Ah, aku sudah tidak sabar untuk segera melakukan observasi lapangan dan eksekusinya. Pasti seru. Ah ya, saat briefing pun juga terasa asyik. Aku berkenalan dengan orang-orang baru yang sama-sama memiliki passion untuk berbuat kebaikan dan menyebarkannya. Terlalu senang rasanya hati ini, sampai-sampai aku ingin bergulung hihi.

Tunggu cerita selanjutnya ya! :D

1 comment: