Wednesday, 16 January 2013

Observer, not a Stalker

Sering nggak sih teman-teman "main" ke akun seseorang? Main disini bisa diartikan memang disengaja karena sedang mencari informasi, namun bisa juga karena hanya iseng di malam hari alias mengalami insomnia.

Nggak ada yang salah sebenarnya dengan kegiatan tersebut, karena manusia pada dasarnya memang membutuhkan informasi. Maaf jika tulisan ini berbau-bau teori, tetapi berdasarkan apa yang telah aku dapatkan di kelas, tidak mungkin jika manusia tidak membutuhkan informasi. Coba saja lihat, penjualan koran, penggunaan internet dan beragam media massa pasti terus hidup kan? Ya karena manusia membutuhkan makanan untuk otaknya (atau bahkan untuk keyakinannya sendiri). 

Rasa butuh akan informasi tersebut muncul sebab manusia memiliki rasa keingintahuan. Tidak terkikis pula oleh lama hidup, baik anak kecil dan orang dewasa memiliki rasa keingintahuan yang besar. Namun pembedanya adalah tindakan selanjutnya yang diambil untuk memenuhi rasa penasaran tersebut. Anak kecil, karena belum banyak informasi yang dimasukkan ke dalam otaknya, maka ia akan berusaha bagaimana pun caranya untuk menghapus rasa penasarannya. Sedangkan orang dewasa, selain karena sudah ada beragam informasi di dalam otaknya plus nilai moral yang diterapkan oleh lingkungan, mereka akan lebih berhati-hati dan malah tidak berusaha membayar rasa penasaran tersebut.

Aku punya anak kucing yang masih berusia dua bulan. Tingkahnya tentu saja seperti anak-anak. Lari kesana kemari, memasukkan kepalanya ke dalam lubang, berusaha memanjat apapun. Exploring, menjalajahi apapun yang bisa ia jelajahi hingga akhirnya tahu. Tidak banyak yang berhasil namun bukan berarti mereka tidak belajar. Sama halnya dengan manusia. Ada yang memang mau mencoba hingga benar-benar tahu ada pula yang ketika gagal malah berhenti karena ia merasa apa yang ia lakukan tidak akan membuahkan hasil.

Dalam pemikiranku, manusia itu pada dasarnya adalah explorer lebih ke arah observer. Selain mengamati, manusia juga mencoba untuk mengaplikasikannya. Sedangkan kalau stalker, hanya mencoba mencari informasi dengan membaca atau membututi obyek kemudian setelah terbayar rasa penasarannya, entah si pelaku akan bersikap acuh, mencoba menghibur diri (karena galau), atau menjelek-jelekkan si obyek. Kebanyakan yang aku temui dalam linimasa twitter, setelah berhasil stalking si obyek, mereka akan menjelek-jelekkan dengan aksi no mention. Bagiku, memang itu merupakan kepuasan batin karena telah meluapkan emosi yang terpendam. Namun bukan berarti hal tersebut membuat si stalker menjadi jauh lebih baik dari si obyek kan?

Kembali lagi pada konteks observer. Hendaknya, manusia menjadi sosok yang terus meneliti, berpikir analitis dan kritis, kemudian mencoba mengaplikasikannya. Tentu saja, hal yang diaplikasikan adalah hal yang positif, yang bisa memberikan manfaat (bukannya maki-maki di linimasa). Karena diberikannya rasa ingin tahu dan kebutuhan akan informasi, manusia seharusnya bisa memanfaatkan rasa penasaran tersebut untuk memajukan sesamanya :)

No comments:

Post a Comment