Wednesday, 30 January 2013

(Bukan) Nomor Dua

Kemarin (29/01), aku sempat berlaku tegas terhadap salah seorang murid. Bukan karena dia nakal sekali tidak bisa diam, melainkan karena dia agak menyakiti hatiku. Aku disini bukan untuk membuka aib ataupun permasalahan yang bersifat personal. Aku hanya mencoba memaparkan pendapatku.

Tidak semua murid, memiliki motivasi sendiri untuk belajar piano. Beberapa ada yang "dipaksa" oleh orang tuanya. Paksaan seperti itu baik, karena menandakan bahwa orang tua sudah sadar akan pentinganya seni dalam pertumbuhan anak. Tetapi, pengertian yang diterima orang tua belum sepenuhnya. Sayangnya, mereka hanya meletakkan agenda belajar piano alias kursus sebagai agenda nomor sekian. Biasanya sih, nomor dua. Nomor dua setelah pelajaran eksak di sekolah.

Aku agak marah dengan murid tersebut karena dalam beberapa kali pertemuan, ia belum menguasai materi yang sebenarnya sudah aku berikan sejak kenaikan level terakhirnya. Ketika aku nyeletuk, "belum latihan ya?", ia pun menjawan, "iya, nggak sempat." NAH! Kata-kata "nggak sempat" itulah yang membuat kesabaranku teruji.

Aku menyayangkan mereka yang masih menomor duakan pendidikan seni. Seni apapun itu. Apalagi mereka yang merasa bahwa nilai eksak lebih penting ketimbang latihan piano. Padahal, sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa adanya pendidikan seni yang seimbang dengan belajar ilmu alam, maka daya konsentras individu akan lebih baik. 

Tuhan memberikan manusai sebuah otak. Jika dilihat secara umum, otak terbagi menjadi otak kiri dan otak kanan. Kita bersekolah, melatih otak kiri. Namun, yang terlihat adalah bahwa kita melatih otak kiri secara berlebihan alias diforsir. Lihat saja, kalau sudah mendekati ujian nasional, banyak sekali siswa tingkat akhir yang mengikuti pelajaran tambahan.

Semua hal yang berlebihan tentunya tidak baik. Termasuk, memaksakan otak kiri bekerja ekstra. Jenuh pasti ada. Sayangnya, beberapa siswa yang juga mengenyam pendidikan seni, juga akan mengurangi kegiatan seninya (bisa disebut cuti) demi mengejar nilai eksak tersebut.

Apabila otak kiri saja yang bekerja, ditakutkan, seorang anak akan tumbuh tanpa emosi, misalnya tanpa rasa empat & simpati, tanpa rasa toleransi ataupun legowo. Padahal, manusia adalah makhluk sosial. Tanpa ada kepekaan terhadap sesamanya (tidak selalu manusia, pokoknya makhluk hidup), ia akan susah bersosialisasi.

Dalam mengajar, ketika murid belum terlalu menguasai, aku akan meminta ia untuk mengulangi lagi. Tentu saja dengan adanya penjelasan dariku bagian mana yang harus diperbaiki. Aku tidak mau punya anggapan "yang penting dia bisa main bener". Detil sangat penting, seperti teknik penjarian, tempo, dan dinamika. Hal tersebut secara tidak langsung akan menumbuhkan sifat menghargai (karena komponis menulis lagu juga tidak mudah, kan?) dan sifat peduli. Mana ada seorang pianis bermain hanya untuk dirinya sendiri.

Sungguh disayangkan apabila masih menomor duakan pendidikan seni. Kalau memang sudah berkomitmen untuk mengikuti kursus piano, maka jalankanlah dengan seimbang. Logikanya, apabila kita menggunakan waktu selama 4 jam untuk belajar dan mengerjakan PR, gunakanlah alokasi waktu yang sama untuk berlatih seni. Menyeimbang kinerja otak agar tumbuh kembang pribadi kita lebih optimal.

Ahya, mengingat kapasitasku, lagi-lagi aku hanya mengungkapkan pendapat dari kacamatku :--)

2 comments:

  1. hesti, aku tag blog kamu buat liebster award, cek postingan di blog ku ya http://dinarosita.blogspot.com/2013/01/liebster-award.html

    ReplyDelete
  2. True story banget. Jadi kangen gitar #curhatbadai

    ReplyDelete