Saturday, 8 December 2012

Celoteh Pengguna Jalan

Sudah tidak asing lagi dalam keseharian kita untuk melihat pengemudi menerobos lampu lalu lintas saat menyala merah. Atau lebih singkat disebut dengan "meneyrobot lampu merah". Salah satu dari teman-teman juga pernah kan melakukan hal serupa, atau menjadi saksi? Ketika teman-teman menjadi saksi, rasanya jadi canggung kalau ingin menegur. Pasti, si pengendara akan langsung nyolot seakan mengucapkan "mind your business lah!".

Ini bukan masalah mind your own business atau apapun. Ini juga berkaitan dengan keselamatan, ketertiban, dan kelancaran baik untuk si pengemudi maupun semua pengguna jalan.

Coba aja deh bayangin, ada pengendara sepeda motor yang memilih menyerobot lampu merah (karena mengejar lampu hijau masih nggak keburu juga). Ternyata dari arah yang lain, ada mobil yang sudah mulai berjalan. Tertabraklah si pengendara. Well, terjadi keributan kan? Si pengendara motor yang awalnya berharap untuk segera tiba di tujuan dengan menerobos lampu merah, malah terkena kecelakaan dan berurusan dengan orang lain. Pasti sebel kan? Belum lagi pengguna jalan yang lain yang dirugikan karena keributan tersebut. Tambah gondok deh sambil menyuarakan sumpah serapah.

Sebenarnya, nggak susah kok untuk nunggu sekitar 120 detik di lampu lalu lintas. Daripada tertabrak hanya karena tidak mau menunggu selama 2 menit, kan lebih baik tidak menerobos.

Aku juga masih heran dengan beberapa pengendara motor yang mengorupsi pedestrian atau trotoar. Logis sih, siapa yang nggak tergoda dengan jalan yang masih sepi walaupun space-nya maksa. Trotoar yang keadaannya dibuat lebih tinggi dari jalan raya tetap saja dikorupsi pengendara yang nggak bertanggung jawab. Masih saja mengomel, mengapa jalannya dibuat sempit lah, mengapa pedestriannya yang malah dilebarin lah, yah dan macem-macem. Eits, aku jadi malah ngomel sendiri disini hehe abisnya mau gimana lagi, sebel banget sih! Buat yang suka jalan kaki seperti aku dan teman-teman Manic Street Walkers, tentu merasa sangat terganggu dengan adanya motor yang tiba-tiba nangkring. Udah korupso jalan, eh pake acara nglakson pula! Idih, gatau malu banget kan? Itu sih antara si pengendara dulu dapet SIM dengan "membeli" atau malah beli bekas di KasKus...

Logikanya gini deh, setiap orang mana ada sih yang mau dirugikan? Sama. Pejalan kaki juga nggak mau dong tracknya dimakan gitu aja oleh motor. Di hati si pejalan kaki pasti lah ada "kan situ udah dikasih jalan raya sama negara". Nah loh! Salah situ juga sih kenapa nggak jalan kaki aja.

Ada pendapat teman yang cukup membuat aku merenung. Bagi yang pernah ataupun yang tinggal di Surabaya, pasti tahu kalau pedestrian sepanjang jalan Basuki Rahmat sangatlah lebar dan apik. Namun, pejalan kaki ternyata tidak banyak yang memanfaatkan trotoar ini. Padahal kalau jumlah pejalan kaki yang menggunakan trotoar tersebut lebih banyak dari volume kendaraan yang melintas disana, nggak menutup kemungkinan Pemkot akan membuat semua pedestrian di Surabaya seindah di Basuki Rahmat. Kalau dari warganya sendiri saja sudah malas untuk memanfaatkan fasilitas tersebut, untuk apa Pemkot membuang uang untuk memperindah sisanya? Pendapat kawanku itu ada benarnya juga. Jangan terus-menerus menuntut pemerintah, coba lihat apakag warganya sudah memanfaatkannya seoptimal mungkin?

Ada lagi nih keluhanku kepada pengguna kendaraan bermotor. Coba deh saling menghargai sesama pengemudi. Aku sering sekali merasa jengkel terhadap beberapa pengemudi khususnya sopir mobil yang obral klakson. Alias siapapun yang menghalangi jalannya akan diklakson. Nggak peduli itu sesama mobil, sepeda motor, bahkan sepeda! Klakson memang digunakan sebagai tanda peringatan, tetapi bukan berarti untuk membuka jalan kan? Semua orang berhak menggunakan jalan raya, kan masing-masing sudah membayar pajak. Tidak perlu sok bossy atau mentang-mentang mobilnya bagus, build up terus bisa seenaknya klakson orang lain. Eits, bukan berarti pengguna motor tidak kena. Aku sering sekali menemukan pengemudi motor yang sama seenaknya obral klakson. Tet sana tet sini eeeh nggak taunya nerobos lampu merah.

Hidup itu ya seyogyanya berbagi. Berbagi space jalanan kepada sesama pengguna jalan. Entah mobil, sepeda motor, sepeda, pejalan kaki, penjual yang sedang mendorong gerobak, becak, dan semua moda transportasi yang ada. Sudah ada yang tahu belum, kalau tingkah pengguna jalan bisa mencerminkan kebiasaan warganya. Wah, jangan-jangan masih banyak orang diluar sana yang juga main serobot antrean.

Hmm tampaknya, aku kebanyakan ngomel ya di post kali ini? Yasudah sih, aku ngetik post ini juga sebenarnya sebagai media peredam amarah hihi. Semoga terinspirasi dan jadilah pengguna jalan yang adil & bijak! :D

No comments:

Post a Comment