Saturday, 1 December 2012

Behind The Rules


Semester lalu, aku sempat mengambil mata kuliah Pengembangan Koleksi. Mata kuliah ini mengharuskan setiap mahasiswanya melakukan wawancara kepada pengguna perpustakaan (semua elemen masyarakat) untuk mengetahui informasi apa saja yang mereka butuhkan sekaligus agar tahu penilaian pengguna terhadap perpustakaan. Ada satu topik yang meminta kami mewawancari sesama mahasiswa (namun berbeda jurusan/program studi). Aku berkesempatan mendapatkan responden yang seusia (sudah kenal sebelumnya pula! :D).

Dari pendapatnya, sebenarnya dia sudah puas dengan pelayanan yang ada di Perpustakaan Universitas Airlangga (Perpus UA). Sayangnya, ia menuturkan kalau prosedur untuk masuk ke dalamnya agak merepotkan. Pengguna yang akan menuju ruang koleksi harus menitipkan barang bawaannya, baru setelah itu, mereka diperkenankan menggunakan ruangan. Selintas jika teman-teman baca, pasti akan setuju kalau itu merepotkan. Kalau bawaannya hanya sebuah tote bag sih tidak berkerabatan untuk menitipkan, bagaimana yang membawa ransel & tote bag?
Aku sempat juga berpendapat seperti respondedku yang satu ini. Merasa direpotkan dengan prosedur yang diajukan oleh pihak Perpus UA.

Apa benar begitu? Bukankah sebuah peraturan hadir untuk membuat pengguna merasa nyaman? Well, akhirnya aku merasakan kenyamanan yang dimaksud.

Semakin menumpuknya tugas di semester ini membuatku mau tidak mau harus berurusan dengan koleksi perpustakaan. Dasar orang individualis, mengerjakan tugas yang seharusnya berkelompok, masih saja dikerjakan sendirian. Termasuk, mencari literatur di perpustakaan.

Ahya ketika menitipkan barang bawaan di loker, setiap pengunjung berhak menggunakan sebuah tas plastik sebagai gantinya. Tentu aku memanfaatkan fasilitas yang satu ini. Aku hanya membawa barang seperlunya seperti dompet dan ponsel (yang sudah tidak pintar lagi). Benar saja! Diantara susunan rak dan banyaknya buku, tentu pengguna ingin agar literatur yang ia butuhkan diperoleh dengan cepat bukan? Mereka tidak mau direpotkan dengan barang bawaannya yang mungkin ketika itu sangat banyak.

Ada lagi sih sebenarnya satu keluhan dari pengguna yang sebenarnya bermanfaat. Perpus UA baik di kampus B maupun di kampus A sama-sama susah dijangkau oleh sinyal provider ponsel. Teman-teman banyak yang menyayangkan hal ini tidak (atau mungkin belum) merasakan tujuan sesungguhnya. Aku pribadi, yang individualis ini, yang suka kemana-mana sendirian, baru menyadari tujuannya tersebut belakangan ini. Ketika aku merasa suntuk, sedang tidak mood untuk berinteraksi dengan teman satu kelas, aku tentu akan berusaha menyendiri. Perpus UA merupakan salah satu rujukan ku untuk "lari". Disana, tidak mudah untuk menjangkauku melalui komunikasi ponsel walaupun ponsel ku dalam keadaan aktif. Lagipula, kesunyian dan ketenangan sebenarnya merupakan syarat wajib yang harus dimiliki Perpus UA. Siapa sih yang mau diganggu ketika lagi asik mengerjakan tugas ataupun sekedar membaca?

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan? Ahya buat teman-teman yang belum pernah main-main ke Perpus UA, cobain deh. Suasanya menyenangkan dan tenang! Apalagi kalau teman-teman mengambil posisi duduk dekat jendela. Semakin mood untuk membaca! :D

No comments:

Post a Comment