Tuesday, 2 October 2012

Living as a Piano Teacher

Pasti sudah banyak teman-teman yang tahu kalau pekerjaan sampinganku yang ketiga (setelah menjadi anak & mahasiswi) adalah menjadi guru piano. Pekerjaan yang sudah aku tekuni sejak di bangku SMA dan terus berjalan hingga kini bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Dari pengalaman hidup yang satu ini, aku mendapat banyak ilmu, baik itu dalam bidang yang sedang aku kuasai atau bahkan hanya ilmu kecil untuk menjadi pribadi yang semakin baik.

Sebagian besar muridku masih berseragam putih-merah. Sudah pasti, pendekatan yang aku lakukan untuk mendapatkan hatinya tidak mudah. Bahasa yang aku sampaikan haruslah bahasa yang mudah dimengerti olehnya. Dan pembawaan materi pada setiap pertemuan harus menyenangkan, karena anak-anak usia itu sangat suka bermain. Plus bertanya. Apapun yang mereka hadapi, yang mereka dengar, yang mereka baca di partitur pasti akan ditanyakan. Kalau sudah begitu, sebagai seorang guru yang baik, harus memberikan jawaban. Bukan berarti guru harus tahu segalanya pada saat itu juga. Aku tak malu kalau harus jujur bahwa aku tidak tahu jawaban atas pertanyaan yang mereka lontarkan, karena menurutku, hal tersebut menjadi koreksi diri bahwa aku sebenarnya belum punya apa-apa di dalam otakku.

Menjadi guru juga tidak menandakan bahwa yang tahu segalanya, yang tidak bisa dibantah, yang harus selalu dituruti perkataanya. Aku tidak mau memiliki perilaku seperti itu. Menjadi guru berarti harus belajar 100 langkah lebih dulu ketimbang murid. Apalagi di era informasi seperti sekarang ini, dimana ilmu bisa didapat dari sekali klik. Aku juga menekankan pada diriku sendiri agar menjadi teman dari muridku, sehingga ia pun akan merasa nyaman untuk belajar piano, tidak malu untuk bertanya atau meminta partitur lagu yang baru.

Pekerjaan guru tidak hanya berhenti sebatas "mengajarkan murid sampai mampu". Malahan, guru yang baik adalah juga mampu memberikan motivasi kepada muridnya untuk terus maju dan berusaha. Bukankah guru akan senang jika anak didiknya dapat lebih baik dari dirinya? :---) Seringkali ketika mengajarkan mereka aku mencontek apa yang dikatakan oleh guru pianoku, "kalau kamu membatasi pemikiranmu untuk tidak bisa, maka badanmu akan berpikir seperti itu."

Aku senang mendengarkan muridku yang masih kecil-kecil itu bercerita disela pelajaran pianonya. Awalnya sih aku pancing dengan pertanyaan umum seperti, "hari ini pulang jam berapa dari sekolah?" atau "suka nonton film apa di rumah?". Dari situ ia akan terus bercerita dan keluarlah gelak tawanya yang lucu. Kalau sudah begitu, rasanya tidak ada lagi pembatas untuk merasa sungkan dengan diriku.

Kalau sudah masuk pada materi teori musik, aku sebisa mungkin membuat mereka tidak bosan untuk mengisi lembar soal-soal. Siasatku sih, memberi mereka kuis lucu-lucuan yang berhadian satu buah stiker. Aku tidak melarang mereka ketika mereka meminta mengisi lembar soal dengan spidol warna. Ada pula yang sampai mewarnai tokoh dalam lembar tersebut.

Eits, menjadi guru bukan berarti hanya melakukan interaksi satu arah. Belakangan, karena sebagian besar muridku berasal dari sekolah internasional (yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris) aku jadi punya partner untuk melakukan english conversation :D Tentu saja, aku yang harus menyesuaikan kosakata yang aku gunakan agar mereka tidak bingung dengan maksudku. Tapi menurutku, hal ini menyenangkan! Lucu sekali ketika aku melontarkan kuis dan mereka menjawab, "let me think first ya..." :3

Alhamdulillah, aku sangat suka dengan pekerjaanku yang satu ini. Walaupun dari Senin hingga Sabtu jadwalku selalu padat, tapi padat yang menyenangkan! Aku tidak keberatan jika pekerjaanku di masa depan, tetaplah menjadi seorang guru piano. Entahlah, berbagi merupakan hal yang sangat menyenangkan! :D

No comments:

Post a Comment