Sunday, 30 September 2012

Stradivari Orchestra: CrossOver


Informasi mengenai acara ini sudah aku dapatkan sekitar awal bulan Agustus dari seorang teman di Airlangga Chamber Orchestra. Namun, aku tidak langsung merespon. Apalagi kalau bukan karena kesibukanku dengan beragam kegiatan marketing TEDxTuguPahlawan?

Hingga akhirnya, seorang teman di kontak bbmku meng-update sebuah status. Dan kemudian aku galau. Mendadak panik. Menggebu-gebu ingin segera mendapatkan tiketnya. Setelah aku dan Aho berunding via bbm, kami pun memutuskan untuk meminta bantuan Ruth. Untungnya nih, Ruth juga mau ikut menonton! :--D

Tibalah hari yang ditunggu. Karena mas pacar kuliah hingga sore, aku pun memutuskan nebeng Aho. Dan kami pun sudah sepakat untuk bertemu di tempat.

Sekitar pukul 18.30, seusai dengan yang tertulis pada tiket, pintu ballroom pun dibuka. Ada 4 pintu. Dua untuk penonton dengan tiket reguler dan sisanya untuk mereka dengan tiket VIP/VVIP. Tetapi sebelum kami mengantre masuk, kami diminta menuju meja registrasi untuk mengambil program book acara tersebut. Kerumunan tidak terlalu ramai sehingga kami tidak perlu menunggu lama. Begitu pula dengan antrean pada pintu masuk.

Aho dan Ruth masuk duluan karena aku harus menunggu mas pacar & Erry. Tiket mereka ada padaku. Sepuluh menit sebelum acara dimulai, mereka berdua datang dan kami segera masuk. Wow! Ternyata Aho dan Ruth memilih kursi paling depan di sayap kiri :--D

Tiba-tiba lampu dimatikan. Dan narator pun mulai membuka acara. Para pemain dan konduktor masuk. Acara dibuka dengan semacam musik scoring pada film. Ya, keren!

Alvine Kurniawan Suryantara, konduktor orkestra pada malam itu tampak sangat bersemangat. Terasa sekali dari caranya memimpin dan penghayatan yang ia bawakan. Setelah lagu pertama, penonton langsung digiring menuju perjalanan musik yang menyenangkan. Tidak hanya musik klasik, mereka pun mengeksplore hingga musik pop-rock masa kini yang pastinya tidak asing lagi di telinga para penoton.

Aku pikir, acara orkestra ini ya hanya berisikan musik tanpa vokal. Alias hanya intstrumen tanpa ada yang bernyanyi. Dugaanku salah. Pada lagu Nessum Dorama milik komposes asal Italia, Puccini, muncullah lima pria yang menyanyikan lagu ini. Dengan suara yang seriosa, aku berimajinasi kalau sedang menyaksikan sebuah opera.

Pada lagu Can Can Music inilah aku seperti merapal. Aku sudah sangat familiar dengan lagu ini. Sudah pernah memainkannya sampai-sampai hafal dengan urutan nada. Sayangnya aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana lagunya, tapi aku yakin pasti akan ada kata "owalaaah" sesaat setelah mendengar lagu ini. Can Can Music sering sekali dijadikan background music untuk beberapa sirkus ataupun acara anak-anak.

Urutan selanjutnya ada lagu dengan judul Hungarian Dance No. 5 milik Brahms. Finna Kurniawati selaku solo violis menunjukkan kehebatannya dalam memainkan biola. Interaksi antara Finna dengan Alvine saat lagu ini seru loh! Terasa sekali kalau mereka sangat menikmati acara ini. Kelihatan dari senyuman Finna selama memainkan biola. Apalagi lagu ini memang tipikal lagu yang lucu dan fun.

Di lagu keenam ini aku menganga. Masih dengan penampilan hebat dari Finna Kurniawati, ia mampu membawakan Contradanza dengan sangat memukau! Bagi teman-teman yang pernah mendengarkan versi Vanessa Mae pasti tahu seperti apa lagunya. Semangat yang diinterpretasikan oleh Finna dan orkestra melalui permainannya sangat tersampaikan. Aku sampai kehabisan kata-kata melihat penampilan mereka.

Il Mundo dan Volare. Dua lagu tersebut dinyanyikan dengan apik oleh lima pria yang menamakan diri mereka True Voices. Setelah penonton dibuat tak berkata-kata melalui Contardanza, True Voices tampil untuk membuat kami kembali santai.

Hey Jude menjadi penanda bahwa lagu yang mereka mainkan sudah sampai pada era modern. Dilanjutkan oleh I'm Yours dan kemudian The Greatest Love of All yang dinyanyikan oleh Dini Rambu Piras.

Nah, lagu ini nih yang paling aku tunggu. Someone Like You milik Adele. Sebelumnya aku sudah pernah dengar milik Louisa Zais yang menggabungkan dengan Rolling in You (dibawakan pada konser 12 Pianos) dan milik Alex Goot. Ekspektasiku sih, lagu ini akan sama kerennya dengan milik dua orang tadi. Tapi ternyata, aku merasa biasa saja. Malah, telingaku menangkap ada beberapa suara yang missed, tempo yang tidak pas.

Puas dibuat galau (dan sedikit kecewa), Alvine dkk mencoba mengangkat mood penonton denga Final Count Down. Permainan bass dari Totok Afiat tak kalah mengagumkan. Seakan tidak kehabisan energi dengan membawakan lagu tempo cepat, mereka terus menyuguhkan permainan yang worth-to-watch melalui lagu Beat It dan I Will Survive. Kembali Dini Rambu Piras menyanyikan lagu I Will Survive dengan menarik. Ia bahkan sempat turun dari stage saking terbawa suasana.

Rock You Like A Hurricane. Bagi teman-teman yang pernah bermain Guitar Hero pasti tidak asing dengan lagu ini. Lagu satu ini benar-benar diluar ekspektasiku. Terlalu simpel kalau aku cuman bilang "Wow". Apalagi music director untuk acara tersebut bermain cello! Permainan Christian Xenophanes bikin merinding! Aku memang tidak tahu apa-apa mengenai teknik bermain cello, tetapi, entahlah, rasanya terlalu keren melihat bagaimana jari-jari Christian menari diatas senar cello-nya.

Moves Like Jagger membuat aku bernyanyi kecil di bangkuku. Begitu pula dengan Crazy Littel Thing Called Love yang dinyanyikan oleh True Voices. Hingga akhirnya Smooth Criminal dimainkan. Visual yang ditayangkan pada layar besar mendukung reinterpretasi lagu ini. Ada suara tembakan dan kemudian orkestra mulai memainkan musiknya. Asik! Pembawaannya pas sekali.

Tidak terasa kami sudah berada di penghujung acara. Lagu terakhir yang dibawakan adalah It's My Life (dipopulerkan oleh Bon Jovi) yang dinyanyikan oleh Raymond Johan W. Suara rock-nya menurutku pas untuk menyanyikan lagu ini. Energi yang ia keluarkan tersampaikan hingga bangku penonton. Entah sudah berapa kali aku ikut bernyanyi kecil.

---

Sekitar pukul 9 malam acara ini selesai. Christian, Alvine, Finna dan para pemain lainnya membungkuk hormat kepada para penonton. Tidak sedikit pula penonton yang memberikan standing applause kepada pertunjukkan mereka. Begitu lampu kembali dinyalakan, banyak sekali kawan dan relasi mereka yang meminta berfoto bersama. Aku dan Aho sempat ingin berfoto dengan para master diatas panggung, tetapi apa daya, jumlah relasi mereka banyak sehingga kami pun terpaksa mengurungkan niat. Dan jadilah kami narsis di dekat panggung! :))))

Keluar dari dalam Ballroom, kami tidak juga berhenti narsis. Demi berfoto dengan latar belakang backdrop acara, kami rela mengantre! Masih tidak cukup juga, kami masih menyempatkan diri berfoto dengan latar belakang tulisan "Grand Ballroom" :)))) Tampaknya aku berteman dengan kawan-kawan yang sungguh menyenangkan! :D

---

Jujur, aku baru pertama kali menonton orkestra. Sebelumnya, aku hanya menjadi pemain, itu pun pemain piano 4 untuk konser 12 Pianos milik Louisa Zais pada Februari lalu. Menurutku, dengan harga tiket Rp 100.000 untuk kelas reguler termasuk murah. Apalagi penampilan mereka memang mengagumkan. Membawakn 20 lagu pula. Ohya, aku pikir dengan adanya pembagian kelas, berarti kami dari kelas reguler akan berada pada kursi paling belakang. Ternyata tidak! Buktinya, kami bisa berada pada seat paling depan. Jadi sebenarnya pembedaan kelas hanyalah menentukan sudut pandang penonton. Kelas VIP dan VVIP mendapatkan bagian tengah. Kami, dari kelas reguler hanya bisa memilih sayap kiri atau sayap kanan. Kesimpulanku sih, dengan Rp. 100.000 aku sudah mendapat suguhan yang menarik sekali.

Aku suka cara mereka menyuguhkan musik. Bahasa kerennya sih, aku suka dengan cara mereka menginterpretasikan 20 lagu tadi. Semacam, mereka memiliki penghayatan yang luar biasa. Mereka meletakkan hati disetiap lagu sehingga perasaan mereka saat memainkan lagu tersebut tersampaikan dengan baik kepada para penonton.

Total nilai? 4 dari 5 lah. Sayang sekali ada beberapa lagu yang diluar ekspektasiku. But, untuk pengalaman pertama menonton orkestra, tidak terlalu buruk lah. Aku mau kok diundang jadi pemain lagi :p

No comments:

Post a Comment