Sunday, 30 September 2012

Ceritaku Dibalik TEDxTuguPahlawan


Yuhuuu! TEDxTuguPahlawan sudah berlangsung dengan lancar dan sukses!
TEDxTuguPahlawan merupakan sebuah event yang berkonsep sebagai wadah tempat berbagi ide, bukan sekedar seminar motivasi.
Sebelum TEDxTuguPahlawan, ada pula TEDxITS yang berskala kampus. Jadi, bisa dikatakan bahwa TEDxTuguPahlawan adalah acara berlisensi TEDx yang berskala kota dan pertama di Surabaya, yang kemarin dihelat di Audiotorium Universitas Ciputra pada tanggal 1 September lalu.

Di post kali ini, aku tidak bercerita tentang jalannya acara spekatkuler itu, melainkan berbagi sedikit pengalaman bagaimana aku bisa bergabung dalam tim TEDxTuguPahlawan.

Awalnya, aku mendengar tentang akan diadakan TEDxTuguPahlawan dari pacarku yang lebih dulu bergabung dengan tim. Tidak, dia tidak menawarkan. Hanya sebatas bercerita. Kebetulan, aku saat aku asik blogwalking dan sedikit scrolling timeline twitter, aku menemukan sebuah link yang menuju ke blog pribadi kurator TEDxTuguPahlawan, mas Muhammad Bagus Berlian. Tidak lama kemudian, ia memintaku mengirimkan CV ke emailnya. Dan beberapa hari kemudian aku dihubungi kembali dan diminta meluangkan waktu untuk melakukan wawancara dengannya.

Mas Beng --begitu sapaannya-- meletakkan di divisi venue, karena kebetulan mereka juga butuh tenaga lebih untuk mempersiapkan kebutuhan acara pada hari H. Namun sayang sekali, di tengah jalan aku sempat mengundurkan diri. Ada masalah pribadi (yang tidak bisa aku ceritakan disini) dan memaksa untuk diselesaikan. Dengan berat hati aku berhenti.

Dua bulan setelah pengajuan pengundura diriku, aku datang bersama Ajeng -tim venue TEDxTuguPahlawan- untuk menghadiri TEDxITS. Disitulah aku merasa sangat rugi dan menyesal telah meninggalka tim TEDxTuguPahlawan. Belum lagi aku juga mendengar cerita temanku yang merupakan tim TEDxBandung bahwa menjadi bagian dari TEDx merupakan pengalaman yang menyenangkan.

Galau. Aku menghubungi Ajeng dan meminta sarannya. Katanya, tak ada salahnya mencoba untuk kembali lagi. Sesungguhnya aku takut dikatakan tidak konsisten dengan keputusan pribadi. Takut kalau aku sudah tidak bisa dipercaya lagi. Dengan perasaan takut seperti itu lah aku mencoba berbicara dengan Mas Beng. Aku katakan semuanya apa masalahku sampai aku berhenti di tengah jalan, aku ceritkan apa yang sebenarnya terjadi. Seperti yang aku duga, mas Beng sempat mempertanyakan konsistensiku. Alhamdulillah, aku diterima kembali ke tim TEDxTuguPahlawan dan ditempatkan pada divisi marketing mereka.

Aku berusaha sebisaku. Menghubungi koordinator divsiku, Ridho, untuk meminta apa yang perlu aku kerjakan. Ia menunjukku sebagai administrator official facebook untuk TEDxTuguPahlawan. Hingga beberapa waktu kemudian diadakan rapat rutin, aku mengemukakan pendapatku bahwa facebook terlalu sepi interaksi. Kebetulan saat itu pula terjadi kendala pada keputusan sistem ticketing yang menurut timku kurang efektif. Akhirnya, terjadilah perombakan pembagian tugas lagi. Sesuai dengan kesepakatan kami berlima, aku diberi kewenangan untuk mengurus akun social media milik TEDxTuguPahlawan. Mulai dari konten hingga kuis pada laman facebook dan twitter.

Memang, aku betah berada dalam divisi ini, tetapi bukan berarti tidak ada halangan yang membuat keadaan jadi runyam. Pertama, tentu karena biaya yang kami tawarkan tidak terlalu ramah kantong, sehingga untuk menjaring peserta memang dibutuhkan tenaga dan taktik yang ekstra. Kedua, kami juga harus mampu mendapatkan partner dari beberapa pihak sebagai check point bagi teman-teman peserta yang ingin berinteraksi langsung dengan tim TEDxTuguPahalwan. Ketiga, dengan keterbatasan waktu dalam pemasaran dan penjualan tiket, kebutuhan promosi kami ternyata harus tertunda. Tentu saja, kami harus benar-benar mematangkan strategi kami. Mulai dari sering meng-update status via twitter dan facebook, memanfaatkan fasilitas broadcast message dari blackberry messanger, hingga kemunculan kami pada car free day. Setiap akhir pekan juga kami habiskan untuk memasarkan tiket, terus menerus memberi penjelasan tentang acara kami.

Itu masih kendala dari divisi marketing. Belum lagi dengan divisi lain. Sangat wajar apabila dalam suatu kepanitiaan apabila ada yang tidak setuju. Dengan adanya permasalahan seperti itu, hitung-hitung kami jadi mengoreksi kinerja masing-masing. Saling peduli dan membantu satu sama lain. Kami berada di tim karena memiliki visi misi yang sama bukan? :-)

Bagi aku pribadi, semua itu aku lakukan karena memang aku punya keyakinan terhadap potensi Surabaya. Sama sekali tidak ada dalam benakku keinginan untuk mengambil keuntungan. Toh, aku sudah punya lahan untuk mendapatkan tambahan uang jajan. Sesuai dengan visi TED sendiri yang merupakan organisasi non-profit, aku pun memang benar-benar menjadi relawan.

Lagi-lagi aku mendapat pengalaman yang tak kalah menyenangkan menjadi seksi repot sebuah acara. Mendapat pelajaran baru, dapat teman baru, dapat koneksi yang baru. Ah, tak peduli apa kata orang saking herannya mereka dengan tingkahku yang seperti kutu loncat, selama aku nyaman dengan beragam kesibukan, aku yakin pasti ada hikmah yang bisa aku ambil dari situ :---)

1 comment:

  1. Selalu ada hikmah dalam setiap kesempatan th :D

    http://priakabut.blogspot.com/

    ReplyDelete