Thursday, 12 July 2012

Real living is living for others
-Bruce Lee

Aku punya keyakinan, "kamu menuai apa yang kamu tabur". Dalam konteks ini aku membicarakan tentang kebaikan, rasa ikhlas untuk berbagi.

Aku sudah sering diminta handle sebuah acara. Dari yang menggunakan htm, hingga yang benar-benar gratis. Well, you can say, aku menjadi sukarelawan. Niatku memang membantu. Ketika teman-teman bertanya, "kamu dibayar berapa?" maka aku menjawab bahwa aku dibayar dengan pengalaman, teman baru, dan ilmu.

Jujur, sejauh ini aku menjadi sukarelawan, tidak pernah memiliki tujuan utama untuk mencari duit. Kalau mencari duit, aku katakan sebagai bekerja. Dan aku sudah memiliki lahan sendiri untuk bekerja.

Dengan handle acara, aku berharap, aku bisa mendapat pemikirian akan suatu hal yang baru. Bisa mendapat argumentasi berbeda yang memperkaya wawasanku nantinya. Memang, hasilnya tidak bisa dilihat sekarang, tetapi nanti ketika aku sudah terbiasa melakukan negosiasi dengan pihak lain, dari situlah aku merasakan gunanya menjadi sukarelawan.

time passes begitu juga dengan bacaan yang sudah aku lahap.

Gara-gara doktrin lewat bukunya Pandji yang berjudul Nasional.Is.Me, aku makin mantap untuk memiliki optimisme terhadap negara ini. Dan jadilah aku berani mengambil resiko demi menularkan pemikiran optimis ini.

Sama seperti yang sudah aku katakan tadi, tentu aku melakukan ini semua dengan sukarela. Tidak dibayar. Karena ya itu tadi, aku sendiri memiliki visi bahwa Indonesia bisa kok bertambah maju dan aku ingin ikut berkontribusi memajukan Indonesia. Caranya, ya aku mencoba menularkan.

Namun, aku sempat seperti patah hati. Ketika aku total dalam melakukan kontribusiku tetapi malah dimaknai berbeda. Lebih-lebih disalah gunakan.

Rasanya jadi berat. Rasanya idealisme ku sedang diuji. Aku tahu, apa yang benar harus aku perjuangkan, termasuk mengembalikan pemikiran "menjadi sukarelawan".

Bukankah hidup ini lebih berarti jika kita bisa berbagi, tidak memikirkan feedback apa yang akan di dapat? Bukankah berbagi adalah kepuasan batin yang tidak bisa diuangkan?

No comments:

Post a Comment