Friday, 6 July 2012

Because I Put My Soul In

Selamat pagi, teman. Surabaya sedang sejuk dan alangkah senangnya menuliskan kata-kata yang tersangkut di otak ditemani beberapa lagu penyemangant plus segelas milo hangat.

Sebenarnya aku hanya ingin mengeluh. Mengeluh itu tidak baik ya? Tapi mau bagaimana lagi. Apabila aku terlalu cerewet di twitter, bisa-bisa teman-teman akan marah karena linimasa mereka akan penuh dengan keluhanku. Izinkan aku sebentar untuk mengeluh, daripada nanti aku memotong pendek lagi rambutku yang sudah seperti bocah laki-laki.

"Do something you love and you'll never have to work a day in your life"
- Confucius

Kutipan diatas sudah sering aku dengar. Kadang dalam bentuk yang berbeda namun memiliki esensi yang sama. Intinya, kerjakan apa saja yang kamu suka.

Aku suka sekali menulis, membantu mempromosikan sesuatu (padahal aku tidak dibayar untuk itu) dan jadi seksi sibuk untuk sebuah acara. Sehingga aku pun juga mencoba mengirim aplikasi dan CV-ku kepada ketua panitia sebuah acara agar aku bisa dimasukkan dalam jajaran panitia pelaksana.

Namun ternyata, jalan mulus tidak hadir setelahnya. Suasana kerja dan suasana tim sangat mempengaruhi produktivitasku, apalagi mengingat aku adalah tipikal orang yang moody.

Sebelum menjadi tim marketing dari TEDxTuguPahlawan, aku sempat menjadi tim event untuk salah satu program keerja milik salah satu organisasi kepemimpinan. Baiklah aku akan sedikit membongkar luka lama disini #eh.

Awalnya aku sangat senang begitu tahu kalau formulir aplikasiku diterima dan aku lolos seleksi untuk menangani event teresebut. Lebih-lebih aku diletakkan dalam divisi event. Semua berjalan mulus hingga akhirnya kami semua bertemu full team, bersama dengan ketua panitia dan tim lainnya. Ekspektasi awal: pasti menyenangkan bertemu dengan teman baru, bertukar pemikiran, dan banyak hal-hal menyenangkan yang akan aku lalui kedepannya. Faktanya: aku merasa terintimidasi. Apa karena dalam big team tersebut aku adalah yang paling muda?

Aku mencoba bertahan dan terus memberikan mantra positif bahwa menjadi bagian dari program kerja ini merupakan sesuatu yang keren. Aku terus berusaha mencoba, namun puncaknya aku depresi. Jadi begini, setiap minggunya akan ada rapat untuk melaporkan sejauh mana job description telah dikerjakan. Waktu itu masih libur semester sehingga tidak terlalu menganggu jadwalku.Di setiap rapat pasti ada masukan, kritik, dan saran. Disanalah lagi-lagi aku merasa terintimidasi. Sering sekali dikritik, sering sekali diberi komentar. Ya, dalam tim tersebut ada satu orang yang memang sudah expert dalam handle acara. Koneksi kesana kemari ia sudah punya. Tapi cara berbicaranya yang tidak kusuka.

Aku memutuskan untuk kabur ke Jakarta, menghilang dari mereka dan sengaja menon-aktifkan blackberry-ku. Aku sempat bercerita pada ibu sambil menangis sesenggukan. Dan ibu memberi saran untuk tetap bertahan, karena apabila orang mengenalku dari organisasi kepemimpinan tersebut, kemudahan mendapat pekerjaan sudah di depan mata. Aku ikuti saran ibuku sekembalinya aku dari ibu kota.

Sayangnya, hal itu tidak bertahan lama. Aku depresi lagi. Aku tidak suka pertemuan tiap minggu, aku tidak suka ada bbm yang menanyakan ketidakhadiranku. Dan akhirnya aku memutuskan untuk mundur. Depresi itu membawaku ke keputusan untuk memotong rambutku seperti bocah laki-laki. Karena aku beranggapan, untuk sementara biarkan mereka tidak mengenaliku sekilas. Aku tidak mau diganggu oleh mereka lagi.

Aku sempat membandingkan suasana kerja ketika aku bekerja untuk Kompas MuDA Surabaya dengan kerja bersama organisasi kepemimpinan tersebut. Aku tidak cocok di organisasi tersebut, aku tidak merasa enjoy. Berbeda dengan di Kompas MuDA.

Sekitar 2 hari yang lalu aku mendapat kabar kalau aku diterima menjadi salah satu pengurus suatu organisasi intra kampus. Padahal aku hanya iseng dan modusku "pokoknya bisa dekat dengan dosen". Saat mereka melakukan rapat, aku bersemangat untuk datang. Pasti menyenangkan mendapat teman baru lagi. Tapi ternyata ekspektasiku salah (lagi).

Mungkin, karena aku terbiasa kerja bareng tim Kompas MuDA Surabaya yang serius tapi santai, jadinya aku merasa canggung di tengah-tengah rapat yang formal sekali. Seperti: forum angkatan.

Setelah datang rapat dari organisasi intra kampus, aku masih agenda meeting dengan tim TEDxTuguPahlawan. And guess what? Aku merasa lebih enjoy disini. Padahal kami belum ada sebulan berkenalan, kampus kami berbeda, umur kami juga terpaut lumayan jauh. Tapi kenyataannya, aku bisa berbaur dengan mereka. Dan mereka sangat welcome dengan kehadiranku. Seakan seperti ada chemistry padahal kami tidak saling kenal. Itulah mengapa aku lebih heboh memasarkan TEDxTuguPahlawan, daripada program yang lainnya belakangan ini.

Suasana kerja yang informal, penuh bercandaan, namun serius itu yang aku suka. Bukannya yang diset serius tapi ternyata peserta rapatnya tidak bisa legowo, berpikiran sempit sehingga dalam memberi pendapat selalu emosi yang didahulukan.

Dan akupun berpikir, sebelum terlalu jauh, aku mau mengundurkan diri dari organisasi intra kampus. Karena ternyata, walaupun posisiku di humas yang notabene sama dengan marketing, aku tidak meletakkan soul ku disitu. Aku tidak jatuh hati disitu sehingga kemauan ku untuk memajukan organisasi pun sangat amat kecil.

Because I put my soul in. Dan kini, aku hanya melakukan apa yang aku cinta, apa yang aku suka di lingkungan yang aku suka juga. Daripada aku cuma memasang topeng agar aku tidak tampak sombong tapi ternyata aku kerja setengah hati, lebih baik jujur diawal kan? Belum waktunya mencari ketenaran, aku mencari kepuasan batin karena aku melakukan apa yang aku suka. Kalau aku sudah suka, I will put my soul in so I can maximize my work.

2 comments:

  1. Dik, aku kok merasakan hal yang sama. Aku keluar dari dunia kewartawanan juga hampir mirip alasannya.

    ReplyDelete
  2. Aku suka ini dik, "Suasana kerja yang informal, penuh bercandaan, namun serius itu yang aku suka. Bukannya yang diset serius tapi ternyata peserta rapatnya tidak bisa legowo, berpikiran sempit sehingga dalam memberi pendapat selalu emosi yang didahulukan."

    ReplyDelete