Wednesday, 18 July 2012

Akademi Berbagi Surabaya: Mengembangkan Komunitas Digital

Alhamdulillah, aku diberi kesempatan untuk menghadiri salah satu kelas dari Akademi Berbagi Surabaya. Tepatnya hari Minggu, 15 Juli 2012, bertempat di Oost Kaffee & Thee.

Acara yang dikatakan mulai pukul 1 siang, ternyata harus molor hingga pukul setengah 2 karena memang belum banyak yang datang. Sebenarnya sih, baru aku saja peserta yang datang :p

Narasumbernya ialah mbak Alderina, ex. social media consultant. Di kelas tersebut, mbak Alderina lebih banyak mengajak kami berdiskusi dan berbagi pengalaman dengan beragam studi kasus yang pernah ditanganinya.

Menurutnya, komunitas di Surabaya berbeda jauh dibanding komunitas di Jakarta ataupun Bandung. Entah mengapa, komunitas di Surabaya lebih lambat pergerakannya sehingga jarang sekali terdengar.

Mengangkat komunitas yang sebelumnya offline menjadi online dengan memiliki akun mikroblogging ataupun facebook fanpage ternyata tidak mudah.

Pertama, diperlukan komitmen dari anggota komunitas tersebut tujuan mengapa mengangkat komunitas mereka di dunia digital atau dunia social media. Oleh karena itu, karakter dari komunitas harus sangat kuat agar tidak mudah mendapat "godaan" dari luar.

Biasanya, apabila komunitas tersebut memiliki akun pada social media, maka akan banyak pula yang menegtahui bahwa komunitas tersebut ada. Kemudian muncullah angka follower di twitter atau likes di facebook.

Seiring dengan eksistensi mereka yang mulai dikenali oleh populasi, lagi-lagi kekuatan karakter dan komitmen komunitas diuji. Apakah mereka hanya mengejar angka follower dan likes tapi membiarkan akunnya tidak terurus? Atau meningkatkan kualitas dan konten akun agar follower lama tetap setia? Bisa dikatakan, opsi yang pertama adalah contoh kasus apabila mereka terlalu sering memasarkan akun komunitasnya namun tidak melihat kualitas dari konten akunnya. Dikhawatirkan, follower lama akan meninggalkan akun tersebut karena berpikir bahwa akun itu tidak memberikan manfaat.

Biasanya, karena angka follower dan  like yang banyak, suatu brand akan melirik dan mendekati untuk media promosi. Tergantung visi dan misi dari brand sehingga brand tersebut dapat memutuskan untuk menjalin kerjasama dengan komunitas seperti apa.

Salah satu dari bentuk kerjasama antara brand dengan komunitas adalah menjadi sponsor ketika komunitas tersebut menggelar acara. Keuntungannya? Komunitas mendapat suntikan dana, dan brand makin dikenal.

Kembali kepada masalah karakter dan komitmen. Apabila tidak diorganisir dengan baik, karakter tidak kuat, dan hubungan antar anggota komunitas lemah, bisa-bisa komunitas akan disetir oleh brand karena brand menganggap bahwa mereka sudah mendanai kegiatan komunitas. Lebih parahnya lagi, jika brand tersebut mengaku bahwa acara yang dibuat oleh komunitas adalah acara yang mereka inisiasikan.

Maka dari itu dibutuhkan karakter, komitmen, dan komunikasi antar anggota komunitas agar tidak terjadi salah paham. Selain itu agar tidak menimbulkan penilaian kalau komunitas tersebut ada karena butuh uang alias mengemis.

Kedua, Brand juga menaikkan angka follower dan like secara otomatis. Oleh sebab itu, disarankan untuk tidak sembarang menerima brand menjadi sponsor. Ada baiknya melihat profil brand tersebut sebelum menanda tangani kontrak. Pilih brand yang sejalan dengan visi dan misi komunitas.

Mbak Alderina juga memberi saran, apabila komunitas tersebut ingin meminta dana dari sebuah sponsor, biasanya brand akan meminta untuk menyisipkan jumlah visit, bound street, visit on time dari akun atau situs komunitas tersebut. Gunanya apa? Agar sponsor bisa memperkirakan brand impact yang akan dihasilkan apabila mereka menggunakan bantuan dari komunitas tersebut.

Apabila sudah terjadi komtrak dan perjanjian, biasanya brand akan disebut dalam akun. Sehingga bisa dikatakan bahwa akun komunitas menjadi media promosi baru. Lagi-lagi kembali kepada masalah kualitas. Sebaiknya jangan terlalu sering berpromo bahwa brand tersebut menjadi sponsor. Karena di mata follower, yang ada malah penilaian kalau komunitas tersebut 'cari duit'.

Agar follower tidak meninggalkan akun, sebaiknya akun tersebut memberi banyak manfaat. Misal, memberikan artikel yang nformatif yang berhubungan dengan visi misis komunitas. Atau, memberi informasi mengenai acara yang satu kategori dengan komunitas. Dengan begitu, terpeliharalah para follower dan mereka tidak merasa ditipu.

Ketiga, agar komunitas tersebut menjadi lebih berkembang, sebaiknya komunitas tidak membatasi diri mengenai siapa yang harus menjadi followernya walaupun komunitas tersebut segmented. Contohnya begini, komunitas X adalah komunitas yang bergerak di bidang fotografi. Beberapa followernya ada yang bukan penggemar fotografi. Karena sering memberikan informasi yang bermanfaat, follower non-fotografi meRT info tersebut. Hasilnya? Akan ada follower baru karena dari tindakana follower non-fotografi tersebut.

Menjaga loyalitas follower tidak hanya dilakukan dari satu sisi. Akun ada kalanya perlu menjawab pertanyaan yang dilemparkan oleh follower. Cara seperti ini akan mendapatkan persepsi kalau komunitas tersebut tidak sombong dan perhatian kepada follower. Sehingga follower pun akan tetap setia dan angka follower baru pun akan bertambah.

---

Tidak terasa selama 90 menit kelas berjalan. Pukul 3 tepat kelas pun berakhir. Buat aku yang benar-benar masih pemula, ilmu yang diberikan oleh mbak Alderina sangat bermanfaat. Karena bermanfaat itulah, aku juga berbagi dengan teman-teman pembaca.

bersama peserta Akademi Berbagi Surabaya. Mbak Alderina (dua dari kiri depan), Saya, dan Mbak Chin (tiga dari kiri depan) :D
 Oh iya, Akademi Berbagi Surabaya membuka rekruitmen untuk volunteer baru loh :) Syaratnya, minimal menghadiri kelas yang dihelat oleh Akademi Berbagi Surabaya sebanyak dua kali. Bagiamana caranya agar tahu kapan dan dimana kelas selanjutnya? Silahkan follow Akademi Berbagi Surabaya :)

No comments:

Post a Comment