Friday, 15 June 2012

She Has No Ethic



Originally written on June, 7th

Tulisan ini diketik sesaat setelah diskusi panas pada suatu kelas. Bukan, bukan membicaran masalah perkuliahan, melainkan sebuah etika mendasar tentang berdiskusi.

Maaf sebelumnya jika aku menyindir perasaan kalian. Maaf jika aku mengutarakan kata yang kasar dan tidak pantas. Maaf karena aku menulis saat emosiku memuncak.

“…Anggota DPR aja juga kayak gini kalo diskusi”
Well, you have just shooted the wrong case, lady.

Contoh yang ia berikan salah. Itulah tugas kita semua, generasi muda, untuk meluruskan. Bahwa sebenarnya panel diskusi dalam forum apapun tidak perlu sampai ricuh. Sampai memotong presenter yang tengah menjelaskan. Samapi naik ke atas meja dan memukul moderator.

Justru, karena kami –mahasiswa—yang telah mendapatkan kuliah Etika Sosial Politik seharusnya memperbaiki. Seharusnya tidak seenanknya memotong pembicaraan presenter. Seharusnya tidak menyetir moderator. Dan, seharusnya tidak berargumen dengan emosi yang didahulukan.

Aku kini tengah menjalani program sarjana Ilmu Informasi dan Perpustakaan. Bayangkan saja kalau hampir semua mahasiswa memiliki pemahaman bahwa diskusi yang ricuh adalah suatu kewajaran (karena mengambil contoh dari diskusi anggota DPR), bagaimana etika kita akan dipandang oleh masyarakat luas? Lebih buruknya lagi, penilaian dari pihak luar Indonesia.

Kita tidak mau kan kalau Indonesia dianggap tidak memiliki etika. Orang bermoral dan berpendidikan tinggi identik dengan etika. Jangankan yang sudah mengenyam pendidikan hingga jenjang SMA, pembuat keramik di desa pun tahu bagaimana seharusnya manusia bertingkah.

Ambil contoh anda memiliki rumah. Tiba-tiba seseorang masuk dan mengobrak-abrik isi rumah anda. Marah bukan?

Seperti itulah perasaan presenter yang tengah menjelaskan dan dengan seenaknya diinterupsi. Sudah diinterupsi, omongannya ketus pula. Wajar kan kalau presenter marah?

“….Umur tidak menggambarkan kedewasaan seseorang”
Itu hanya kutipan mengelak, nona.

Bukankah lebih baik kalau kita bertindak dewasa sesuai dengan usia kita. Lebih lebih baik lagi kalau bisa bertindak lebih “tua” dari umur kita. Lantas, mengapa kita sembunyi dengan menggunakan kutipan diatas?

“…Manusia yang merugi adalah manusia yang tidak lebih baik dari hari kemarin.”

Sebut aku seorang yang munafik. Ya, karena aku menulis ini ketika sedang marah.
Sebut aku pendendam. Ya, karena aku menulis ini untuk menyindir.

Sebut aku sombong. Ya, karena hingga saat ini, penilainku terhadap seseorang adalah karena prestasi akademisnya.

No comments:

Post a Comment