Tuesday, 29 May 2012

Surabaya Urban Culture Fest 2012

Panasnya Surabaya plus teriknya matahari tidak menghalangi niatku dan mas untuk ikut meramaikan salah satu acara terheboh di Surabaya. Khususnya, dalam menyambut ulang tahun Surabaya yang ke-719. Surabaya Urban Culture Festival 2012, begitulah judul dari acara yang menutup jalan Tunjungan dari pukul 11 siang hingga 10 malam.

Aku dan mas tiba sekitar pukul 2 siang. Dimana panitia, peserta lomba, dan pengisi acara masih sibuk mempersiapkan ini itu. Kami pun memilih untuk menyusuri jalan Tunjungan. Tidak banyak yang kami temukan. Rata-rata tiap tenda menjual jajanan dan minuman, mengingat warga Surabaya suka sekali dengan beragam kudapan.

Selagi kami menunggu dimulainya acara -- yang direncanakan pada pukul 3 sore -- kami juga mengamati seribu peserta lomba rias remo yang tampaknya sudah stand by entah dari pukul berapa. Peserta terdiri dari berbagai kalangan. Ada anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, dan para WNA.



Ya, salah satu sanggar ada yang berisi sekitar 5 orang WNA yang ternyata adalah mahasiswa pertukaran seni dan budaya. Menariknya lagi, ada dua orang yang asalnya cukup jauh (dan mungkin terdengar asing bagi sebagian besar orang Indonesia). Mereka berasal dari Solomon dan Kepulauan Fiji.

Pukul 3 sore, acara pun dibuka dengan dimulainya lomba rias remo. Pengisi acara sungguh pintar bermain kata-kata. Kebetulan mereka menggunakan bahasa Jawa - Suroboyoan sebagai bahasa pengantar. Setiap celotahannya selalu mengundang tawa.


 Tepat pukul 4 sore, dimulailah remo massal sekaligus flash mob remo! Bayangkan, baru pertama kali ada flash mob yang menggunakan tari daerah sebagai tari dasarnya. Ada beberapa instruktur yang berada di tempat yang lebih tinggi dari yang lain. Tujuannya, tentu agar khalayak umum bisa menirukan. Tidak terkecuali walikota dan kapolres Surabaya. Sesaat tempat tersebut penuh sesak dan aku bisa merasakan aura gembira dari masyarakat disana.

Surabaya Urban Culture Festival sebenarnya tidak hanya terdiri dari remo. Ada ludruk, capoera, dan beberapa kesenian. Hingga malam, suasanya semakin ramai. Malah sesak sekali di dalam saking banyaknya manusia yang tumplek blek menjadi satu.

Sebenarnya, acara semacam ini memang sangat dinantikan oleh orang Surabaya.Menghidupkan lagi kejayaan jalan Tunjungan yang sempat terenggut karena modernisasi. Kapan lagi jalan protokol tersebut tidak berisi kendaraan bermotor? Walaupun cuma sehari, namun efeknya sungguh terasa. Siapa yang bilang kalau orang Surabaya tidak lagi suka datang dengan berjalan kaki?

Sangat aku tunggu rangkaian acara HUT Kota Surabaya yang selanjutnya :D


fotografer: ivokun
reporter: hzboy

1 comment: