Wednesday, 14 December 2011

The Failure and Your Standard


Siapa sih yang tidak punya mimpi dan cita-cita? Siapa sih yang tidak pernah berharap? Tidak ada. Semua orang menggantungkan harapannya yang konon katanya setinggi langit. Tidak ada pula yang melarang seseorang untuk bermimpi. Toh yang namanya bermimpi juga tidak perlu membayar.

Postingan ini terinspirasi dari chat singkat dengan teman lama yang benar-benar sudah lama tidak bertemu kembali. Ceritanya, bocah berinisial Y kini sedang berada di tingkat terakhir SMA. Apalagi yang dipersiapkan selain untuk UN dan ujian masuk perguruan tinggi. Well, dia bertanya soal persiapanku dahulu ketika aku sedang berada di posisinya kini. Tidak ada yang salah dengan dia, apalagi dengan mimpinya. Siapa sih yang tidak ingin mendapatkan pendidikan nomor wahid? Sayangnya, oknum Y kurang percaya diri dengan kemampuannya. Dia minder dan merasa bahwa ia kalah saing dengan siswa dari sekolah lain.

Kembali aku teringat beberapa pesan dari orang tua.
"Buat apa takut duluan padahal kamu belum mencoba dan tidak melihat musuhmu?"
"Karena tidak terlihat makanya menakutkan."
"Apa yang tidak terlihat adalah hal yang menakutkan? Karena tidak terlihat itulah kamu bisa menyusun strategi tanpa ketahuan. Belum terjamin juga kan kalau strategi musuhmu akan mengalahkanmu?"
Benar juga sih, buat apa mundur duluan. Malah seharusnya maju terlebih dahulu, melihat dan memetakan medan kemudian mengatur taktik.

Aku juga waktu punya mimpi yang tinggi. Bisa mengenakan jaket kuning. Ya, menjadi mahasiswa di perguruan tinggi nomor satu di Indonesia. Sayangnya, Allah belum mengizinkan aku untuk bersekolah disana. Allah lebih suka menempatkan aku di kampusku kini. Dipindahtempatkan oleh Allah seperti itu lantas tidak membuat aku langsung ciut, putus asa, atau malah hingga menyalahkan keadaan (mengutuk diri). Aku kini memiliki target sendiri. Boleh aku berjaket biru, bukan kuning, tapi levelku harus seimbang dengan mereka. Bagaimana caranya? Apalagi kalau bukan belajar lebih keras dari teman-temanku.

Memang terlihat berat, bukan berarti tidak mungkin, kan? ;) Itulah tantangannya. Di kala temanku berjalan, aku berlari. Di saat temanku bermimpi, aku mewujudkan. Tidak ada yang tidak mungkin. Dengan target seperti itu, secara tidak langsung akan membuat aku menonjol. Tentunya karena intelektulitas, bukan perilaku yang tidak baik. Hal itu akan menghasilkan keuntungan seperti bertambah banyaknya relasi dan (semoga) bertambah besarnya peluang untuk mendapatkan beasiswa baik luar maupun dalam negri. Membentuk standar untuk diri sendiri akan membuat kita terpacu untuk belajar, tanpa sadar akan menjadikan kita juara kandang.

Apabila kamu punya mimpi, berusahalah untuk mewujudkannya. Gagal? Bukan, itu bukan gagal, melainkan caramu mewujudkannya belum pas. Rasional bukan berarti kamu harus berhenti berharap ketika mimpimu tidak tercapai. Rasional memiliki makna untuk melihat mimpi dari kemampuanmu, mencari cara yang sesuai dengan kemampuanmu. Jadi, buat apa takut bermimpi? Tuhan juga tidak diam saja kok melihat kalian berusaha. Percayalah, ketika mimpimu belum terwujud, sebenarnya Tuhan menyiapkan yang lebih cocok untuk kamu. Karena tidak ada satu makhluk pun yang benar-benar mengerti kamu selain Tuhan. Dan bukan dosa besar menciptakan sebuah standar untuk diri kamu sendiri.

No comments:

Post a Comment