Wednesday, 16 November 2011

SKI di FISIP

Obrolan singkat ini secara tidak sengaja berlangsung saat kami berlima menunggu angkutan seusai kuliah berakhir.

Singkatnya, saya bertanya perihal PBA (Pembinaan Baca Al-Quran) kepada teman sekelompok saya. Saya menyangkan pengumuman yang ditempel disalah satu dinding kampus FISIP sudah tidak ada lagi, padahal saya masih membutuhkan informasi berupa pembagian kelompok PBA saya.

Dari teman saya, R, saya jadi tahu bahwa bukan dari pihak kampusnya yang mencabut pengumuman tersebut, melainkan dari pihak mahasiswa yang tidak suka dengan adanya SKI (Sie Kerohanian Islam) atau Rohis. Dia bercerita bahwa tim SKI kampus FISIP adalah tim yang paling berat cobaanya, sering diganggu jika punya acara dsb.

Saya benar-benar kaget karena tidak menyangka, mereka memperlakukan teman-teman mereka seperti itu. Tak jarang, poster-poster SKI mengenai pengumuman kegiatan mereka, dicabut paksa sesaat setelah kertas tersebut ditempelkan pada salah satu mading.

---

Kampus FISIP dikenal sebagai Singa-nya Airlangga. Logonya berwarna jingga dengan mengusung tagline Demokratis, Kritis, dan Kreatif.

Bolehlah mereka berkata bahwa mereka adalah kaum demokratis, meperlakukan semuanya secara transparan dan jelas. Tapi, apakah bisa disebut demokratis jika mereka sendiri tidak bise menghargai sesamanya. Sesamanya yang se-iman saja masih belum bisa, apalagi sesamanya yang berbeda iman.

Apakah bisa disebut demokratis apabila hak memberikan informasi masih dikekang oleh sebagian besar oknum yang merasa bahwa SKI adalah golongan ekstrimis?

Kesalahan persepsi terhadap SKI, mereka mengasumsikan bahwa kegiatan pengajian, dakwah, dan apapun yang ada hubungannya dengan SKI adalah kegiatan yang bisa menjerumuskan menjadi teroris, garis keras. Menyedihkan, bukan? Disaat bangsa kita menurun moralnya, dan disaat itu pula sebenarnya kita tengah kehilangan pegangan kita.

Kebetulan empat orang teman saya itu semuanya adalah wanita berjilbab yang sangat menjaga auratnya. Mereka juga sempat mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan ketika berada di kampus FISIP. Tengah berjalan berempat, mereka disindir seperti ibu-ibu pengajian. Teman saya? Tersenyum simpul dan tidak membalas perkataan seperti itu.

Mengaku bangsa Indonesia yang memang mayoritas penduduknya memeluk Islam tetapi belum bisa menerima ajaran Islam ditengah masyarakat yang sebenarnya. Masih merasa bahwa mahasiswa yang tergabung dalam SKI, HMI, atau berbagai kegiatan berbau islam adalah calon golongan ekstrimis. Jangan-jangan sebenarnya, Indonesia sudah terjangkit Islamophobia!

---

Saya tidak membela mereka yang SKI dan mereka yang menolak adanya SKI. Saya berpendapat sesuai dengan pemikiran saya, toleransi beragama. Bukankah sewaktu SD kita pernah diajari bahwa toleransi tidak hanya untuk keyakinan, tapi beribu macam perbedaan di tengah keberagaman bangsa? Apalagi terhadap anak-anak FISIP yang mengaku demokratis tetapi masih bertindak sepihak tanpa memberi kesempatan terhadap pihak lain. Saya menyayangkan, mereka kaum yang berpendidikan, tetapi mengapa perilaku mereka tidak mencerminkan status sosial tersebut? Mahasiswa kan seharusnya berpikiran terbuka, tidak hanya melihat dari sisinya saja. Mahasiswa seharusnya tidak main otot, tetapi otak. Mahasiswa seharusnya "berpendidikan" dalam segala tindakan :)

No comments:

Post a Comment