Wednesday, 16 November 2011

Rubahlah Sejarah Hegemoni

Saya masih ingat, tepatnya tanggal 28 Oktober 2011, saya berpendapat melalui akun twtitter mengenai aksi jalanan yang digelar di Surabaya. Aksi jalanan atau demo tersebut menghambat sebagian besar jalanan di Surabaya. Otomatis saya pun mengeluarkan opini. Faktor utamanya adalah karena saya dari awal memang tidak berminat, tidak suka dengan yang namanya demo.

Beberapa detik kemudia saya mendapat respon, salah seorang mahasiswa fakultas hukum membalas twit saya tersebut dengan berkata bahwa saya tidak tahu apa-apa mengenai sejarah hegemoni pemuda, keberpihakan media, dan lain sebagainya yang pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa ia lebih setuju dengan aksi demo. Saya tidak melanjutkan pendapat saya tadi karena saya berniat membeberkan pemikiran saya disini.

Sebagian besar yang sering mengadakan demo di jalanan adalah kaum mahasiswa. Ya, dan saya ini adalah mahasiswa. Entah mengapa, dari SMP saya sudah tidak suka dengan aksi yang seperti ini. Lambat laun saya tahu, demo menyebabkan kemacetan di jalan raya, masih untung jika tidak ada bentrokan dengan aparat, belum lagi polusi dan asap tebal yang disebabkan pembakaran ban-ban bekas yang sering mereka lakukan saat berdemo.

Bagi saya, kaum mahasiswa hendaknya melihat ke dalam diri mereka sendiri sebelum menuntut perubahan kepada pihak pemerintah. Kalau mereka hanya bisa berteriak menuntut perubahan, mengapa mereka tidak memulai perubahan tersebut dari awal? Yang paling mendasar, paling simpel: datanglah tepat waktu. Semua berawal dari situ untuk melihat profesionalitas seseorang. Jika ia bisa menghargai waktu, ia pasti memiliki kadar profesionalitas lebih tinggi dibanding yang lain.

Mahasiswa adalah kaum terpelajar yang pastinya sudah tahu bagaimana membuat inovasi perubahan. Mengapa ia tidak langsung mempraktekan perubahan tersbut daripada berkoar-koar di pinggir jalan raya Surabaya yang panas? Mengapa mereka tidak coba ukir prestasi daripada hanya berleha-leha ketika kuliah, tapi begitu giat ketika ada ajakan berdemo.

Memang, saya tidak tahu mengenai sejarah hegemoni mahasiswa sehingga bagi sebagian golongan berdemo adalah jalan satu-satunya, atau mungkin untuk melestarikan budaya berdemo itu sendiri. Lantas, mengapa kita tidak mencoba membuat sejarah yang baru. Sejarah yang akan mengatakan bahwa sejak tahun 2011, mahasiswa tidak lagi berdemo, namun sudah teroganisir dengan berpendapat melalui media massa, atau langsung melakukan perubahan inovasi.

Mengapa harus mengikuti tren yang sudah tidak tren kalau sebenarnya kita sendiri bisa mengukir tren yang lebih baru: tidak lagi aksi di jalanan.

No comments:

Post a Comment