Friday, 25 November 2011

New York City

Siang yang tidak begitu panas, aku melangkah seirama dengan yang lain, menghindari terseretnya tubuhku yang kecil nan mungil ini. Dingin, ini sudah musim gugur dan aroma salju siap-siap mampir. Coatku menutupi dari leher hingga mata kaki. Kelabu warnanya dengan aksen seperti gadis-gadis marching band.

Rambutku kukuncir kuda begitu saja. Tak terlalu rapi dan aku tidak peduli. Hingga kini aku lebih memilih flat shoes daripada high heels, menyiksa sekali. Bosku juga tidak melarang aku bersepatu datar seperti ini. Derap langkahku semakin lama melambat. Mataku sibuk menyusuri New York Square, mencari satu bench yang kosong.

Aku sudah siap dengan segelas cappuccino hangat yang kubeli di Starbucks yang berada di lantai dasar dimana aku bekerja. Dan di tangan yang lain, sebuah buku, jurnal perjalanan lebih tepatnya, bersampul kuning seperti daun mapple. Di saku mantel ada sebuah pemutar musik favoritku. Mungil dan tipis, mirip sepertiku. Ya, dan aku mencari sebuah bench kosong agar aku bisa duduk sejenak menikmati istirahat makan siang dengan duniaku yang kecil di kota yang besar ini.

No comments:

Post a Comment