Saturday, 12 November 2011

Mana yang Lebih Tinggi Derajatnya, Pejalan Kaki atau Pengendara Mobil?

Siang itu, aku hendak menyebrang jalan yang sebenarnya tidak terpaut terlalu jauh. Aku terbiasa menoleh ke kiri dan kanan terlebih dahulu sebelum menurunkan kaki ku ke zebra cross. Dari kejauhan terdengar deru mobil yang melaju kencang. Aku segera memperingatkan adik-adikku untuk tidak nyelonong begitu saja. Namun yang terjadi berbeda dengan apa yang aku bayangkan. Ketika melihat kami bertiga sudah diujung trotoar, pengemudi tersebut memperlambat laju mobilnya dan kemudian berhenti. Ia mengangguk, mempersilahkan kami untuk menyebrang terlebih dahulu.

---

Perempatan itu ramai dengan kendaraan bermotor, terutama mobil pribadi, walaupun ada beberapa kendaraan seperti mobil laundry. Orang-orang berkerumun diujung trotoar perempatan jalan tadi. Santai, ada yang bercaka-cakap, bermain dengan gadget-nya, atau sekedar melihat billboard berupa layar pada salah satu pusat perbelanjaan di seberang. Tak lama kemudian lampu lalu lintas berubah. Merah warnanya dan semua pejalan kaki menyebrang dengan tenang. Selang satu menit, kendaraan melaju kembali.

---

Kedua cerita tersebut tepatnya tidak berlokasi di tanah air tercinta. Itu hanya secuil kebiasaan yang sebenarnya sudah berbeda dengan kebiasaan di negeri kita. Di Singapura --tempat dua cerita tersebut--, jika hanya di jalanan yang jarak dengan seberang hanya terpaut sedikit, ketika kita sudah menjatuhkan kaki diatas garis-garis tersebut, secara otomatis mereka menghentikan laju kendaraannya. Membiarkan pengguna jalan tiba di seberang dengan selamat. Tidak ada klakson.

Berbeda dengan tempat dimana aku tinggal kini, Surabaya. Perna ada kejadian menjengkelkan sampai-sampai ayah kesal. Ya, kami bersiap menyebrang dari depan balai pemuda menuju toko es krim Zangrandi. Di antara kedua tempat tersebut terdapat lampu lalu lintas untuk pengguna jalan yang akan menyebrang (jika kita menekan tombolnya, maka lampu akan menjadi merah) plus zebra cross yang melintang. Kami sadar diri bahwa jalan Yos Sudarso termasuk jalanan yang ramai. Jika kami menyebrang ala kadarnya, sudah pasti tertabrak. Jadilah kami menggunakan lampu tersebut dan menyebrang di zebra cross. Setelah lampu berubah menjadi merah dan kami berkesempatan menyebrang, kami berjalan cepat --bukan berlari--. Ternyata, ada sebuah mobil yang melaju kencang dan tidak mau menghentikan mobilnya ketika tahu ada kami yang tengah berjalan. Ia mengklakson kencang hingga ayah kesal dan memukul kap mesin mobil tersebut dengan botol air mineral. Sontak, mobil berhenti dan pengemudinya turun. Ayah tidak mau kalah, beliau bertanggung jawab atas apa yang barusan diperbuat. Si pengemudi memaki dan bertanya mengapa ayah memukul kap mobilnya. Dengan suara lantang dan tegas, ayah menjawab "Anda tidak bisa melihat ada yang menyebrang sedangkan lampu sudah berubah menjadi merah?". Merasa kalah, ia kembali ke mobil dan melaju menghilang diantara banyak mobil lainnya.

---

Signifikan sekali apabila kita melihat bagaimana perbedaan derajat antara sesama pengguna jalan di dua negara yang berbeda. Di Surabaya, anda lelet sedikit sudah beribu klakson menggertak, secara kasar menyuruh anda untuk bergegas. Sedangkan di Singapura, hampir sama sekali tidak terdengar yang namanya klakson! Mereka sabar sekali mengantri. Tak asal main klakson ketika kendaraan di depannya belum juga berbgerak. Mereka pun menghargai pejalan kaki. Bagaimana tidak? Secara spontan mereka menghentikan mobil, membiarkan orang lain menyebrang dengan tenang tanpa ada tekanan berupa suara klakson.

Aku pribadi, tidak suka jika diklakson ketika tengah mengendarai sepeda motor. Selain aku kaget, konsentrasi mendadak terpecah sehingga aku menyetir pun jadi agak "melenceng" dari jalur. Tak hanya dengan pejalan kaki atau sesama pengendara kendaraan motor, kepada mereka yang lebih memilih bersepeda pun tak luput dari yang namanya klakson. Kalau aku boleh berpendapat, sebenarnya derajat pejalan kaki dan pengguna sepeda lebih tinggi ketimbang mereka yang dengan gaya dan sombongnya menggunakan kendaraan bermotor. Mengapa? Kontribusi dua golongan tak bermotor tersebut lebih besar terhadap bumi. Mereka tidak menggunakan BBM sehingga tidak menimbulkan polusi udara dan suara. Tidak menyebabkan hujan asam, lobang pada lapisan ozon.

Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya pada akun micro blogging milik ku, pengendara sepeda dan pejalan kaki jauh lebih keren daripada mereka yang menggunakan mobil dan motor. Jadi, bagi anda, lebih tinggi derajat kaum bermotor atau kaum non-bermotor?

No comments:

Post a Comment