Thursday, 6 October 2011

Workshop LKTI Pustakawan Ideal

Acara yang dihelat pada hari Minggu, 2 Oktober 2011, ini sebenarnya lebih condong ke arah para mahasiswa baru jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan baik dari jenjang S1 maupun D3. Salah satu rankaian acara menuju Kongres Nasional HMPI (Himpunan Mahasiswa Perpustakaan Indonesia) ini bermaksud menuntun mahasiswa yang masih baru untuk menulis esai mengingat Kongres Nasional tersebut merupakan kompetisi esai.

Acara dibuka pada pukul 09.00 WIB oleh Ketua Panitia, Yomi, dan dilanjutkan oleh Muhammad Sholehudin selaku kahima Ilmu Informasi dan Perpustakaan. Tanpa banyak bicara, MC langsung membuka dan mempersilahkan narasumber pertama untuk memberikan pelatihan.

Bapak Karanaji, S.Sos, M.Si memberikan pelatihan pengenai PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa) yang dalam hal ini lebih mengarah untuk bentuk gagasan tertulis (PKM-GT). Bapak Karnaji memberikan cara bagaimana mahasiswa bisa mencari celah untuk mendapatkan masalah sehingga bisa menjadi bahan penelitian lebih lanjut. Salah satunya adalah dengan bertindak peka terhadap sekitar. Tak hanya itu, beliau juga menambahkan, untuk membentuk kepekaan tersebut, mahasiswa harus lebih berpikir skeptis jika mendapat kabar berita. Dari situlah masalah akan bermunculan yang nantinya bisa dilanjutkan dengan penelitian singkat. Mengubah sebuah masalah menjadi judul PKM juga perlu diperhatikan. Karena seleksi tahap awal lebih mengacu pada penilaian judul, apakah judul tersebut menarik atau tidak. Bagaimana caranya agar judul bisa menarik? Beliau juga menuturkan agar kita berpikir out of the box, menggunakan kata-kata yang sering kita temui namun jarang dipakai sehingga menjadi eye catching.

Selanjutnya narasumber berasal dari staf pengajar Ilmu Informasi dan Perpustakaan Universitas Airlngga, Dra. Endang Gunarti. Pada workshop sesi kedua ini beliau menyampaikan topik karakteristik pustakawan ideal. Pustakawan, terutama di Indonesia, sering kali dianggap sebagai wanita paruh baya yang berkacama tebal yang mengawasi setiap pengunjung perpustakaan lekat-lekat. Padahal seorang pustakawan hendaknya memiliki karakter yang ramah, yang menyapa tiap pengunjung sehingga pengunjung akan tetap datang ke perpustakaan. Seperti yang telah diatur dalam UU no 43 tahun 2007 mengenai Perpustakaan, disebutkan bahwa seorang pustakawan adalah seseorang yang telah mendapatkan pelatihan kepustakawanan sehingga bertanggung jawab dan dapat menjalan tugasnya sebagai seorang penyedia jasa informasi. Beliau tak hanya menyampaikan teori bagaimana caranya menjadi pustakawan ideal, namun juga memotivasi para mahasiswa agar mau menjadi pustakawan yang jempolan, mengubah mindset masyarakat Indonesia.

Sesi terakhir ditutup dengan pembicara dari UKM Penalaran yang sudah berulang kali mengahsasilkan beragam PKM, mas Bima Fajar N. Disini, ia memberi tips bagaimana kita mau menulis. Ada tiga cara yang ia sampaikan, yakni: dipaksa sehingga menjadi terpaksa. Dari terpaksa yang terus-menerus itulah menulis akan menjadi sebuah kebiasaan. Untuk menjadi sukses dalam menulis pun selain dibutuhkan niat dan tindakan, sebuah tulisan yang berkesinambungan anatara satu dengan yang lainnya juga menjadi faktor penentu. Ada banyak pertanyaan menghampiri mas Bima, salah satunya adalah bagaimana cara menulis dengan ras, tanpa terpaksa namun berbobot. Mas Bima lantas menjawab yaitu dengan mencoba menulis karena terpaksa terlebih dahulu, karena dari situlah kebiasaan menulis akan terbentuk.

Acara sederhana ini sukses, peserta ternyata tidak hanya datang dari disiplin ilmu topik pembicaraan, ada juga mahasiswa dari fakultas lain yang berminat. Acara ditutup dengan pembagian hadiah kepada para peserta yang beruntung. Walaupun hadiahnya juga sederhana, namun peserta bersemangat untuk menjadi salah satu yang beruntung itu.

No comments:

Post a Comment