Wednesday, 31 August 2011

Saya dan Seni

Ketertarikan saya terhadap seni seharusnya muncul ketika saya berusia 8 tahun. Waktu itu untuk pertama kalinya saya bersentuhan dengan tuts piano dan not balok. Mengapa saya tidak tertarik? Ibu sayalah yang berada dibalik keharusan saya belajar piano. Kelas 3 SD dan jujur saya tidak mengerti apa-apa selain "saya harus datang dan belajar bermain piano.". Saya pun sempat merasa jenuh dan berpikir bahwa sesungguhnya saya tak memiliki bakat di dalam bidang ini. Namun, seiring berjalannya waktu, terbukanya wawasan dan pengetahuan, saya akhirnya merasa enjoy dan merasa berat jika diharuskan berhenti dari bermain piano.

Kini umur saya sudah 18 tahun lebih sekian bulan. Dan saya pun semakin jatuh hati dengan piano, khusunya untuk komposisi piano klasik. Sempat saya belajar bermain piano pop, tapi tak bertahan lama karena saya lebih suka kesepuluh jemari saya ini menari diatas tuts hitam dan putih. Saya pun bertahan dengan berbagai not balik rumit yang kalau dimainkan akan menimbulkan suasana seperti petualangan untuk saya.

Seni tak hanya berkutat dengan musik, untuk yang saya dalami. Seperti yang seperti anda ketahui, seni pun meluas. Pernah saya mendapat pelajaran kesenian semasa di bangku sekolah dulu bahwa seni mempunyai cabang, entah itu seni rupa, seni kriya, maupun seni tari. Tak jauh dari piano yang tentunya bersumber dari seni musik, saya pun juga memiliki ketertarikan dengan seni tari. Hanya saja, untuk ini saya merasa tak ada apa-apanya. Tak punya bakat. Badan pun tidak selentur ibu saya yang sedari kecil sudah menari untuk beberapa tarian tradisional betawi.

Biarlah kata anak muda zaman sekarang bahwa tari tradisional sudah tak ada baunya, sudah kalah dengan berbagai tarian kaku ala robot maupun breakdance yang kini kian menjamur dikalangan pelajar dan mahasiswa. Saya memiliki pandangan, mereka, para pemuda-pemudi yang sudah jatuh hati dengan tari tradisional adalah mereka yang bisa diberi julukan pahlawan. Di tengah globalisasi, mereka masih setia dan tetap mempertahankan milik Indonesia yang sesungguhnya. Di tengah sibuknya perkuliahan (masih akan) saya pun lebih memilih mengikuti UKM Tari dan Karawitan di universitas. Cuek saja apa kata orang, saya, generasi muda pribumi, harusnya lebih tahu mengenai budaya asli Indonesia, bukan?

Bagaimana dengan seni rupa? Entahlah, lagi-lagi saya berucap saya tidak punya kemampuan dalam bidang ini. Saya berbeda jauh dengan saudari-saudari saya yang jago menggambar, memiliki kreatifitas tinggi yang mereka tuangkan di atas kertas gambar A4 yang dibelikan oleh ibu. Tak jarang, semasa SMA nilai seni rupa saya hanya berkutat diangka tujuh. Tidak pernah lebih dan alhamdulillah, tidak berkurang. Sekedar pengakuan, saking putus asanya saya saat itu karena saya tidak bisa menggambar perspektif, saya pun merayu saudari saya untuk menggambar secara sederhana.

Kecintaan saya terhadap seni semakin berkembang dengan adanya seorang kekasih. Sejauh yang saya tahu, dia, adalah seorang fotografer dan desain grafis lepas. Memang belum seprofesional beberapa nama papan atas, namun bisa dibilang sudah lumayan dalam berkarya (ups maaf ya sayang :p). Dialah yang pertama kali mengajak saya datang dan melihat beberapa pameran desain, terutama pameran tugas akhir mahasiswa desain dari universitas mana saja. Disini lah saya merasa bahwa saya jatuh cinta dengannya dan juga dengan seni (:">)

Seperti pengakuan saya pada paragraf sebelumnya, karena saya tidak bisa menggambar, sampai saat ini saya hanya seorang penikmat seni. Senang melihat berbagai macam portofolio milik seniman-seniman grafis atau yang baru belajar. Tak hanya itu, sering saya mengajak pacar saya mendiskusikan sebuah karya atau desain. Dia, yang memang berkutat di bidang ini tentu lebih mengetahui dan memiliki wawasan yang lebih luas.

Mengetahui dia ternyata seorang pembaca salah satu majalah desain grafis Indonesia, membuat saya lebih senang lagi. Iya, saya tak perlu membeli atau memohon kepada ayah saya --karena beliau tahu saya tidak bisa menggambar--. Mata saya mengenai desain pun juga terbuka lebih lebar, sehingga saya tak jarang terkagum-kagum dengan berbagai macam artikel di dalamnya yang mengupas berbagai hal.

Sekarang saya merasa sudah ada sedikit peningkatan. Bukan, bukan untuk menggambar. Melainkan untuk desain. Saya sendiri bingung, entah bagaimana ceritanya, saya ditunjuk langsung oleh -bisa dikatakan- pemred majalah sekolah saya untuk menjadi seorang layouter untuk sebuah lomba. Padahal saya sendiri bukan anggota majalah sekolah. Tanpa ragu lagi, saya menyetujuinya, walaupun pada akhirnya saya meminta bantuan pacar saya :p. Saya juga pernah mengikuti berbagai workshop desain menggunakan adobe photoshop. Dan taddaaa! Akhirnya saya menemukan apa yang cocok dengan kemampuan saya. Saya yang sudah jelas lemah dengan sketsa maupun editing foto, ternyata masih mampu membuat typography sederhana. Alhamdulillah, saya sudah menelurkan beberapa buah karya yang bisa dikatakan sangat pemula, namun saya cukup bangga, saya bisa!

Sayangnya, untuk beberapa bulan belakangan, pekerjaan sampingan saya ini terhambat lantaran perangkat keras dan lunak saya diserang virus. Otomatis, beberapa data hilang, termasuk perangkat lunak saya dalam berkarya.

No comments:

Post a Comment