Wednesday, 31 August 2011

Pop Culture and Dickheads

Ohya, saya teringat kembali ke momen dimana saya menjalani UFO (United FISIP Orientation) beberapa hari lalu. Ada sebuah materi di tengah acara itu yang berjudul "Pop Culture" atau yang disebut "Budaya Pop". Narasumber atau pembicara yang ternyata adalah seorang mahasiswa jurusan sosiologi memaparkan bahwa budaya pop adalah budaya keseharian kita, sebagai individu dan masyarakat, yang secara tidak langsung membuat budaya asli kita berubah. Pada awal perbincangan, beliau memutarkan sebuah video musik --yang entah berdurasi berapa lama-- tentang budaya pop. Pada video tersebut, tak hanya "menusuk" secara langsung, banyak sekali fakta yang sebenarnya tengah terjadi dalam kehidupan anak-anak muda zaman sekarang. Dimulai dari kacamata tanpa lensa, fixie, nongkrong, dan fesyen. TEPAT! Itulah yang saya pikir ketika melihat tayangan tersebut diputar. Tidak dapat dipungkiri lagi, banyak sekali anak muda yang menggunakan kacamata ala nerd hanya untuk bergaya --yang tanpa lensa tentunya--, car free day pun juga ramai gara-gara hip-nya sepeda fixie.

Saya tak mengelak, saya sendiri juga pelaku budaya pop, dimana fesyen saya pun menjadi ala nerd --kacamata, kemeja yang rapi--. Toh, hal itu sah-sah saja. Saya pun sering menyebut diri saya sendiri sebagai seorang nerd atau geek, karena saya merasa saya tidak mengikuti mainstream --padahal saya tengah berada di dalam mainstream itu sendiri--

Setelah video itu diputar, pembicara pun mulai membahas apa yang sebenarnya terjadi diantara anak muda kini. Sudah bukan hal asing lagi ketika muda-mudi lebih sering memegang gadget blackberry ketimbang bacaan. Ia menegaskan kami, para mahasiswa baru, untuk lebih intens membaca apa pun --mulai dari artikel hingga buku kelas berat-- daripada berkutat dengan gadget pintar itu. Tak ada salahnya bersosialiasasi, tetapi sosialisasi yang penting adalah sosialisasi yang nyata, bukan? Terlebih lagi, kami adalah seorang mahasiswa FISIP yang memiliki tagline kritis, kreatif, dan demokratis, sudah tentu dituntut untuk open minded, berwawasan luas, dan berlapang dada menerima berbagai macam perbedaan dalam berpendapat.

Kembali pada kepribadian saya, saya sendiri memiliki paham dimana penampilan sempurna sebagai seorang perempuan tidaklah cukup. Akan lebih bernilai jika saya juga memiliki isi otak yang berbobot, yang bisa nyambung ketika beragam pertanyaan menghampiri. Saya mengakui kalau minat baca saya tidaklah setinggi ayah saya maupun dua orang sahabat saya. Namun, hal itu tidak membuat saya putus asa, berhenti, lalu kembali dengan gadget serba bisa tersebut. Di rumah, orang tua saya selalu menekankan kami, anak-anaknya, untuk membaca paling tidak koran hari ini. Tujuannya apalagi selain membuka mata kami agar kami tidak seperti katak dalam tempurung.

Zaman sekarang, fesyen nerd, fixie, maupun kamera DSLR sepertinya sudah lumrah. Seperti mudah sekali untuk menjadi mereka yang nge-hip. Memang, dimata lawan jenis mereka terlihat keren, cool, atau apalah itu namanya. Eksis dan bisa diajak bersenang-senang. Tapi, apakah itu yang sesungguhnya diperlukan? Saya masih dengan paham saya, isi otak jauh lebih keren daripada barang-barang tersebut --walaupun saya sendiri ingin memilikinya--

Kalau anak muda, khususnya anak FISIP, tidak mau membaca dan malah asik dengan budaya pop, apa jadinya? Tak ada yang salah, masa muda juga perlu diisi dengan kenangan manis. Hendaknya juga diimbangi dengan isi otak yang punya nilai tambah. Jangan menjadi budak teknologi ataupun budak globalisasi. Tolah-toleh ketika ditanya, dan mengatakan bahwa itu bukan bidangnya. Bukan itu! Impress orang lain bahwa generasi kita ini generasi yang worth it, yang tidak cuma bermain-main, tapi open minded dan bisa menerima perbedaan. Jangan mau jadi dickheads.

2 comments:

  1. I like this one Hess :3 Let's we keep our own idealism. That's such a thing that difficult to find on teenager. Keep it up!

    ReplyDelete
  2. thanks (y)
    dimulai dari diri sendiri kemudian "menularkan" ke orang lain :D

    ReplyDelete