Saturday, 13 August 2011

Personality Disorder

Ketemu postingan tentang ini di tumblr milik Kuntawi Aji dan merasa bahwa saya mendekati penyakit ini.

Baca artikel ini sebelum melangkah ke paragraf sebelumnya

Dalam postingan tersebut, oknum N yang bekerja di Yahoo! Indonesia merasa bahwa ada seseorang yang berusaha menjadi dirinya. Mulai dari bio pada akun twitter miliknya, facebook, mengunggah foto yang sama seperti milik oknum N, hingga berpose mirip seperti oknum N.

Nge-fans? Bisa jadi. Tetapi, bukankah hal tersebut menakutkan ketika seorang fans kita berubah menjadi sosok kita yang lain di dunia nyata dan maya. Tidak ada yang melarang kita untuk mengagumi seseorang. Sayangnya, tingkat kekaguman yang berlebihan itulah yang menimbulkan penyakit ini. Dimana sang penderita akan terus menerus mengamati gerak-gerik idolanya hingga terobsesi menjadi seperti dia.

Saya, jujur, pernah melalui momen-momen seperti itu. Kekaguman saya pada seseorang berubah menjadi sebuah keinginan yang kuat untuk menjadi seperti idola saya (biasanya saya menyebutnya role models). Saya biasanya memulai dengan membuka akun-akun pada jejaring sosial, merambah ke tumblr dan blog pribadinya. Tak tanggung-tanggung, saya mengamati tiap post yang ada pada timeline, wall, hingga comments pun tak luput saya baca.

Obsesi saya ini bisa dibilang membunuh karakter asli pada diri saya, membunuh pribadi diri saya sendiri. Bagaimana tidak? Dulu saya berusah menjadi 100% dirinya. Dari gaya berbicara, menulis pada blog, memberi komentar, hingga cara saya berpakaian.

Beruntunglah saya karena setidaknya saya sadar kalau hal ini tidak ada gunanya. Namanya juga remaja, saya sempat merasa goyah dan memutuskan menceritakan hal ini dengan orang-orang terdekat saya. Mereka pun memberi masukan. Tetapi, obsesi yang terlalu kuat ini yang menang hingga akhirnya saya menemukan artikel mengenai personality disorder.

Nadia, salah satu teman saya, pernah mengingatkan saya untuk berhenti bertingkah seperti itu. Dia memberi gambaran bagaiman jika saya berada di posisi yang diidolakan. Bagaimana jika ada orang yang terus memperhatikan dan akhirnya menjadi "kloning" saya? Awalnya saya mengelak. Saya berkata kalau hal itu tidak mungkin. Karena saya pikir, bukankah idola saya akan senang karena telah menginspirasi orang lain. Tetapi ternyata jawaban dan konsep saya salah besar.

Postingan dari oknum N tersebut menyadarkan saya. Keinginan berlebih menjadi seperti idola kita malah menjadi sesuatu yang menakutkan bagi sang idola. Walau oknum N tidak kenal dengan idolanya, tetapi kehadiran oknum N yang lain cukup mengancam kondisi mentalnya. Saya pun jadi menemptakan diri, bagaimana jika sayalah si oknum N tersebut? Yang memiliki seorang pengagum gila dan menjadi "kloning" saya di kehidupan yang sama dengan saya.

Maka dari itu, saya memutuskan untuk segera berhenti. Boleh kok terobsesi asal tidak lupa dengan jati diri sendiri. Bukankah setiap individu adalah pribadi yang limited edition? :--)


1 comment:

  1. hzzz nyata aku juga pernah tau ada cerita kayak gini, masalahnya objek jiplakannya itu gue lhaar tapi lucu juga hahaha

    ReplyDelete