Sunday, 14 August 2011

Komunitas Hijabers Surabaya Aktif Bagikan Ilmu Berjilbab Modern

Hunting Kerudung hingga ke Luar Negeri

Berkembangnya mode membuat banyak perempuan melakukan eksperimen terhadap dirinya. Termasuk pada kerudung penutup aurat. Hijabers Surabaya adalah sebuah komunitas pemakai kerudung modern. Meski baru terbentuk tiga bulan lalu, lebih dari seratus perempuan sudah bergabung.

Antania Febriana menggeser kursi miliknya mendekati meja instruktur. Perempuan 22 tahun itu berpindah posisi dari kursi paling belakang mendekat pada Alvia Enawani Nataprawira, pendiri Hijabers Surabaya. Sore itu para anggota Hijabers Surabaya sedang berkumpul untuk mengadakan kelas khusus. Sebuah diskusi yang membahas cara mengenakan berbagai model kerudung. Bahkan, diskusi merambah permasalahan perempuan lainnya.

Kelas khusus tersebut memang tidak diselenggarakan rutin, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan mayoritas anggota. Kapan pun anggota ingin belajar dan berbagi informasi tentang model terbaru, pertemuan itu bisa langsung diselenggarakan. "Disesuakian dengan hari dan jam anggotanya. Agar pertemuan tidak mubazir, jadi kami upayakan agar semua anggota ikut serta", tambah Alvia.

Sebagai instruktur hijab, Alvia mengaku tidak pernah kehabisan ide. Semua ide itu muncul dari kreativitas berdasar ilmu mode yang pernah dia pelajari di salah satu pusat pendidikan milik artis ternama.

Kata Alvia, mengenakan jilbab yang baik dan menarik perlu disesuaikan dengan beberapa kondisi. Seperti warna pakaian, usia, bentuk muka, dan tempat acara yang dikunjungi. Semua hal itu, menurut Alvia, memengaruhi model kerudung yang dikreasikan. "Kuncinya ada pada percaya diri dan jilbab yang kita kenakan telah menutup seluruh aurat", tuturnya.

Alvia berkisah, seni mengenakan jilbab tersebut dirinya dapatkan dari kursus mode di Jakarta beberapa tahun silam. Setelah menjalani kursus selama tiga bulan, Alvia langsung mengubah penampilan. Terutama dalam memodifikasi aneka kerudung. "Saya awalnya tidak memakai jilbabm jadi kepingin berjilbab. Itu karena melihat keutamaan dan keindahan jilbab itu loh", ungkap ibu dua anak tersebut.

Rupanya komunitas itu tak hanya belajar mengenakan hijab yang benar, namun juga yang tetap menarik. Kegiatan Hijabers lainnya adalah pengajian antar anggota. Jadwal pengajian pun disesuaikan dengan kesibukan anggota. Namun, jadwal pengajian ditetapkan minimal satu bulan sekali, sebagai sarana silaturahmi antaranggota.

Alvia menjelaskan, masih ada fasilitas lain yang didapatkan anggota selain bertemu dengan sesama Hijabers Surabaya. Yakni, berbagi ilmu melalui dunia maya. Pengurus komunitas yang berdiri pada awal Mei 2011 itu berusaha menggelar konsultasi gratis seputar kerudung dan perempuan. Bisa melalui telepon, SMS, website, dan jejaring sosial seperti Facebook (FB) dan Twitter.

Nah, Tania kebagian tugas mengelola konsultasi tersebut. Dia anggota sekaligus putri pertama Alvia. Mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Wijaya Kusuma (UWK) Surabaya itu akhirnya turut terjun dalam anggota Hijabers Surabaya. "Saya melihat penampilan mama berjilbab kelihatan awet muda dan nggak kuno. Saya jadi kepingin dan memang merasa siap untuk berjilbab", ungkapnya.

Mesti belum setahun mengenakan kerudung, Tania tekum mempelajari segala sesuatu tentang jilbab dan permasalahan perempuan lainnya. "Konsultasi yang masuk selalu saya konsultasikan dengan mama", tegasnya.

Karena tugasnya harus berhubungan setiap hari dengan dunia maya, Tania berbagi tugas dengan Anastasia Regina. Keduanya menjawab segala bentuk konsultasi. Juga meng-update situs Hijabers Surabaya yang beralamat di www.hijabers-surabaya.blogspot.com.

Tania dan Tasya pun rela menjawab telepon kapan saja dan dimana saja mereka berada. Untung, telepon tersebut selalu berdering pada saat yang tepat. "Alhamdulillah, belum ada yang minta konsultasi sampai ngganggu jadwal kuliah", katanya.

Meski dering telepon tak sering terdengar, konsultasi via FB, Twitter, dan SMS setiap hari berjumlah puluhan. Pertanyaan seputar jenis kain kerudung yang nyaman serta model terbaru. Serta meningkatkan kepercayaan diri saat berjilbab dan cara mengenakannya dalam acara tertentu.

Semakin banyaknya konsultasi membuat Tania, Tasya, dan Alvia hunting (berburu) jilbab keliling Surabaya. Mulai pasar tradisional hingga mal menjadi sasaran pencarian jilbab. "Beli satu jilbab, pakainya ramai-ramai. Karena kami lebih sering meminjam. Jilbab punya mama, jadi punya kami semua", terang Tania.

Kata Tania, tidak ada jilbab yang mereka kenakan bernilai lebih dari Rp 300 ribu. Di tangan mereka, jilbab sederhana dapat diubah menjadi lebih menarik dan modern saat digunakan. "Tidak perlu jilbab yang mahal. Jangan minder kalau tidak punya jenis jilbab yang banyak. Asalkan pintar memodifikasi, sepuluh jilbab saja bisa dibuat beragam model", tambah perempuan kelahiran Jakarta, 14 Februari 1989 itu.

Pengalaman bergabung dengan Hijabers Surabaya membuat Rosmana Yuliana, anggota lain, makin percaya diri. Meski keputusan mengenakan kerudung sempat ditolak mertua, dirinya tetap mengenakan. "Alasannya, dianggap menghambat karir. Justru saya ingin buktikan bahwa karir saya berkembang dengan mengenakan jilbab", papar ibu tiga anak itu.

Benar saja, sejak berjilbab dan kemudian bergabung dengan komunitas Hijabers Surabaya, perempuan yang berkarir di bidang ekspor impor tersebut justru sering mendapat pujian. "Hampir semua rekan kerja memuji, saya terlihat lebih menarik", katanya.

Pujian itu akhirnya terlontar juga dari mertua, anak, dan suaminya. Bahkan, seorang klien dari Texas, Amerika Serikat, melamarnya. Karena tidak menyangka bahwa orang berkerudung bisa mengepakkan sayapnya di dunia bisnis internasional. "Akhirnya saya jelaskan, saya sudah punya anak dan suami. Dia kaget, lalu meminta maaf", lanjut Rosma lantas tersenyum.

Pengalam itulah yang membuat dirinya lebih sreg untuk mengenakan jilbab dan hijab sekaligus. Pakaian panjang dengan jilbab tertutup membuatnya nyaman saat bekerja. "Menjauhkan hal-hal yang mencelakakan kita", tutus istru Chusaeri itu.

Kegemarannya memodifikasi jilbab tersebut akhirnya ditularkan pula kepada putri pertamanya, Kevin Aurelia Yasmin A. Siswa kelas V SD At-Taqwa itu menjadi salah satu objek eksperimennya. "Kadang saya dengan Kevin sama-sama memodifikasi jilbab sebelum pergi. Karena sibuk dengan jilbab masing-masing, jam berdandan jadi lebih panjang", ucap Rosma.

Cerita lain diungkapkan anggota Hijabers lainnya, Eka Yustika. Perempuan 34 tahun itu rela hunting kain penutup aurat hingga ke Singapura dan Malaysia. Eka mengaku sering berpergian ke dua negara tersebut untuk urusan bisnis. "Sekalian saya cari jenis kain yang bagus di sana", katanya.

Meski jumlah jilbab yang dimilikinya tidak sampai ratusan helai, Eka mengaku lebih banyak belajar memodifikasi model jilbab. Dia juga mengatakan punya lebih banyak ilmu padu padan gaya pakaian dan jilbab untuk keperluan bekerja. "Saya suka yang gaya dan simpel, tapi enak dilihat", papar Eka yang menjabat sekretaris Hijabers Surabaya.

Nungki Kartikasari

Harian JawaPos, Metropolis Weekend 13 Agustus 2011 hlm 33 dan 43

2 comments: