Friday, 22 April 2011

We Were Warned

Nggak perlu ditanya lagi, semua orang di Indonesia sudah tahu tentang tragedi ulat bulu. Yak, kini si ulat tersebut sudah menyebar di Jakarta, Bali, dan tentu tempat tinggalku kini di Surabaya. Awalnya aku mengira hal itu terjadi karena musim kemarau akan segera datang. Tapi mendengar pendapat ibuku mengenai hal ini ternyata ada benarnya juga.
Beliau berpendepat, meledaknya populasi ulat bulu karena terganggunya keseimbangan ekosistem di lingkungannya. Burung yang merupakan predator alami dari si ulat banyak ditembak oleh manusia. Tentu, ulat bulu semakin merdeka dan mereka bertambah banyak dalam waktu sekejap.
Meledaknya mereka pun sebenarnya mengancam kita juga sebagai manusia. Selain karean gatal-gatal yang disebabkan oleh bulu mereka, pepohonan yang menjadi salah satu sumber oksigen dan peredam gas karbonmonoksida pun akan mati, karena dedaunannya dikonsumsi secara besar-besaran oleh ulat bulu ini. Jadilah si pohon tidak punya “lahan” untuk berfotosintesis, sistem pengangkutan zat makanan pun terganggu karena tidak adanya zat makanan yang diedarkan ke seluruh tubuh, kemudian mati.
Fenomena ini seharusnya menjadi renungan, mengapa kita bisa “kalap” hingga keseimbangan alam kita pun mulai berat sebelah. Seperti yang aku sampaikan pada post sebelumnya, PLH ternyata sangat penting dalam kehidupan kita. Sebagai khalifah di muka bumi, kita berkewajiban menjaga apa yang ada di dalam bumi, bukannya malah acuh tak acuh dan menjadi kalap. Toh kebaikannya untuk manusia juga :)
Kita menuai benih yang kita sebar. Benih apa? Salah satunya adalah rasa peduli, tidak hanya dengan manusia, tetapi juga dengan makhluk Tuhan yang lain :)

No comments:

Post a Comment