Tuesday, 8 March 2011

end

Aku datang mencuri-curi waktu yang seharusnya aku sedang berada di ruang kuliah, mendengarkan ceramah bapak dosen mengenai matematika diskrit. Aku sengaja mencomot sedikit waktu itu hanya untuk bertemu dia yang selama ini terus diceritakan oleh adikku. Memang, kami pernah bertemu sebelumnya tapi itu hanya sekedar berkenalan, tidak pernah untuk lebih dekat seperti halnya seorang sahabat.
Masih pukul 11 pikirku ketika aku meletakkan helm coklat vintage pemberian pacarku tergantung di salah satu kaca spion sepeda motorku. Aku tak langsung bergegas masuk, ku rapikan dahulu penampilanku. Entah mengapa aku sedikit gugup. Padahal dia jauh lebih muda dariku, lebih tidak mengerti apa-apa ketimbang diriku. Seraya memeriksa telepon genggam, aku melangkah masuk ke dalam gedung bercat hijau tersebut. Baunya khas, tetap tidak berubah walau aku sudah lama tidak kemari.
Aku melewati begitu saja meja resepsionis karena aku sudah mendapati "alamat" yang benar dimana dia berada. Adikku tidak tahu bahwa aku akan berkunjung untuk menemuinya. Aku hanya tidak ingin dia tahu. Itu saja.
Ketika aku masuk ke dalam ruangan yang bertempat di lantai 3, yang kulihat hanya barisan tirai. Aku tidak tahu di tempat tidur manakah dia terbaring dengan selang infus di tangannya. Perlahan aku menyusuri setiap tirai, membaca nama yang tertera di papan yang terpasung di tiap tempat tidur. Hingga akhirnya aku menemukan satu namanya di balik tirai berwarna krem bermotif bunga tulip kecil. Aku membuka sedikit, mengintip kedalamnya.
Yak, aku yakin itu dia. Rambutnya yang mengombak berwarna hitam menutupi sebagian wajahnya. Dia tidak tertidur. Dia terduduk sambil memangku sebuah buku. Di tangan kanannya dia memegang pensil berwarna merah jambu. Kepalanya menunduk, hidungnya hampir saja berdekatan dengan lembaran buku itu.
"Hai", sapaku menebar senyum, mengganti suasana hening dengan sedikit keramahan.
Dia mengangkat kepalanya seketika. Tersenyum senang ketika tahu itu aku. Ditutupnya buku yang tengah ia baca, meletakkannya diatas meja biru tepat disebelah tempat tidurnya. Menyimpan kembali pensilnya kedalam kotak pensil bergambar tuts piano.
"Kok tahu aku disini?", ia bertanya keheranan. Matanya membulat tanda keheranan.
"Tentu, sudah jamannya internet kan?", kubalas dengan sedikit candaan. Aku ingin melihatnya tertawa karena yang kulihat diwajahnya hanya guratan-guratan tanda kelelahan. Adikku sendiri tak mau meberitahuku kenapa dia sampai harus dirawat inap. Ada apa sebenernya dibalik tubuh mungilnya itu.
Dia balas tertawa. Aku menyodorkan bingkisan kecil yang sudah aku beli di sebuah toserba dekat kampus. Dia kembali kaget. Refleks dia memelukku, mengucapkan terima kasih. Aku tak kalah kagetnya, kubalas pelukan hangatnya itu dan berkata, "sudahlah, itu bukan apa-apa kok."
"Sudah baikan?"
"Yah, seperti yang kau lihat. Mukaku masih pucat.",dia menunduk kembali.
"Ah tidak, bukankah memang wajahmu seperti itu?Atau mungkin karena efek lampu di ruangan ini?", aku mengangkat dagunya dengan telunjukku. Tersenyum agar dia tersenyum lagi.
Kami menghabiskan waktu selama 2 jam dengan obrolan. Ya, aku tahu dari adikku bahwa dia tidak punya banyak teman. Sahabatnya pun ternyata sudah lama pindah ke luar negri. Dari adikku pula lah aku tahu kalau dia mengagumi tulisan ku yang aku pajang di blog pribadiku.
---
"Buat apa kau mengunjunginya?", belum-belum aku sudah ditodong pertanyaan tepat saat aku buka pintu rumah.
"Tidak boleh? Aku hanya penasaran dengannya."
"Baguslah, aku sedang tidak yakin berapa lama lagi dia akan ada disana."
"Ada apa?"
"Kau tidak perlu tahu, kak.", dia melangkah pergi meninggalkanku. Aku masih terpaku dan tak mengerti kata-katanya.
---
Seminggu berlalu. Sudah tiga kali aku mengunjunginya. Dari apa yang aku dapati selama aku berbincang, tampaknya dia juga jarang berada di tengah-tengah keluarganya. Dia lebih sering berada di kamar, dan orang tuanya sibuk dengan urusan masing-masing. Dia memiliki seorang adik perempuan, tapi tampaknya si adik lebih kuat daripada sang kakak yang kini terbaring lemah.
"Dia sakit apa?", aku mencoba bertanya kepada adikku.
"Kau sudah baca yang tertera di papan itu kan?"
"Ya, tipes. Tapi kenapa?"
"Terlalu rumit jika ku katakan padamu. Dan akan lebih rumit jika banyak pihak yang tahu."
Semakin penasaran saja aku dibuatnya. Benar, aku benar-benar ingin tahu apa yang terjadi dengannya.
Hingga akhirnya aku memberanikan diri kembali mengunjunginya keesokan harinya.
"Wow, sudah rindu padaku, kak?"
"Haha, iya nih. Ternyata kamu orang yang menyenangkan ya."
"Tidak ah." , dia tersenyum
Perlahan -lahan aku mencoba mencari tahu siapa dia. Semakin aku bertanya semakin dia menutupi dirinya. Seakan-akan dia memang sengaja membangun pertahanan agar tidak ada orang yang tahu siapa dia.
----
Kudapati rumah sangat sepi malam itu. Aku baru saja pulang dari kampus. Langsung kusambar telepon genggamku dan menghubungi adikku.
"Cepatlah kemari. Kau akan menyesal jika menolaknya. Akan aku kirimkan alamat lengkapnya."
Itu saja yang ia katakan dan tak lama kemudian sudah kupegang alamat yang dimaksud. Tanpa banyak tingkah aku ambil kembali sepeda motorku, segera aku pergi kemana adikku berada.
---
Aku menangis sewaktu aku tahu sedang dimana aku berada.
Aku berada di rumah duka.
Dia yang aku coba cari tahu ternyata sudah tiada.
Adikku berdiri di sudut luar rumah. Dia hanya diam melamun. Aku mengahampirinya.
"Ini cuma bohongan, kan?"
"Lebih bohongan lagi jika kau yang tidak percaya."
Aku tercengang. Ini baru saja 1 minggu aku mengenalnya namun ia sudah pergi begitu saja.
"Nanti aku ceritakan padamu. Kau diam saja disini.", adikku tampak sangat sedih. Bagaimana tidak, mereka sudah menjalin hubungan sejak 2 tahun yang lalu. Mereka sudah begitu dekat.
---
"Dia sengaja membuat itu semua."
"Maksudmu?", aku bertanya tanda aku tidak tahu apa yang dia bicarakan.
"Ya, dia sengaja membuat dirinya jatuh sakit dan berujung seperti tadi."
"Bunuh diri maksudmu?", kembali aku kaget. Benar, aku sangat terkejut.
Adikku diam saja. Raut wajahnya begitu sedih.
"Buat apa? Kenapa dia melakukan hal seperti itu?"
"Kau tidak akan mengerti.", ucapnya sambil memberiku sepucuk surat.
Ada namanya disitu. Kubuka surat itu dan yang ada hanyalah, "karena selama ini, hidupku tidak pernah bertemu dengan kata baik-baik saja."
Aku terdiam, tertegun, dan tanpa aku sadari aku menangis lagi.

No comments:

Post a Comment