Saturday, 22 May 2010

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Guru
Yap, beliaulah yang aku maksud dalam postinganku kali ini
idenya muncul karena kekesalanku terhadap beberapa teman yang nggak bisa menghargai jerih payah dan usaha guru

oya, sebelumnya, yang aku maksud disini adalah guru yang benar-benar niat menjadi guru untuk alasan bentuk pengabdian kepada negara, untuk alasan mendidik tunas bangsa agar menjadi lebih baik.

Aku, hingga postingan ini aku ketik, masih berusia 16 tahun, masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Jelas sudah bahwa pekerjaanku kini adalah sebagai seorang pelajar yang punya kewajiban untuk belajar. Nggak salah juga sih kadang mengeluh karena banyaknya tugas dan pr dalam sehari yang harus dikerjakan. Wajar juga kalau aku ngeluh karena seringnya tes ataupun ulangan harian. Tapi, menurutku, yang lebih capek dan lebih pantas mengeluh adalah beliau yang berprofesi menjadi guru.

Mengapa?
Aku punya beberapa alasan yang menurutku cukup logis.

Beliau, para guru, tentulah menjadikan "guru" sebagai profesinya, mengingat beliau juga punya niat yang lebih mulia, tentulah banyak hal yang harus dipikrkan untuk kehidupan kesehariannya. Tanpa aku beberkan lebih lanjut, anda semua pasti tahu maksudku. Jadi, selain beliau harus memikirkan anak didik mereka yang nggak cuma 1 kelas, beliau juga harus memikirkan bagaimana kehidupan esok harinya. Sedangkan kita? para pelajar? paling mentok ya mikir bagaimana kehidupan tugas dan pr yang sudah menumpuk kan?

Beliau secara tidak langsung membawa beban yang cukup berat. Bagaimana tidak? Seorang guru biasanya dituntut agar siswa didiknya menjadi cerdas, pintar, menguasai materi pelajaran. Tentu beliau memikirkan bagaimana caranya agar materi yang disampaikan mudah diserap oleh siswa. Dan asal anda tahu, hal seperti ini susah juga , karena membutuhkan kreativitas agar siswa tidak mudah bosan dan jenuh.

Beliau juga harus mendapatkan nilai untuk mengisi rapot siswa didiknya. Beberapa sekolah memberikan deadline kapan nilai harus segera dikumpulkan untuk diproses nantinya. Masalah nilai ini juga membuat guru cukup kelimpungan. Tentulah guru tidak mau melihat anak didiknya mendapat nilai jelek, tetapi apabila ditulis apa adanya, rasanya kasihan. Dilema.

Belum lagi dengan adanya komplain dari beberapa orang tua murid yang merasa anaknya telah diintimidasi, yang telah diberlakukan tidak adil (dalam hal ini mungkin nilai sebagai salah satu contohnya). Padahal nilai itu memang benar adanya, memang itulah yang bisa dicapai siswa. Tambah bingung dan rumit saja.

Oleh karena itu, nggak ada salahnya kan kalau kita memang harus menghargai dan menghormati beliau? Nggak ada salahnya kan kalau kita memang harus memperhatikan apa yang sedang beliau sampaikan?

Semua yang diajarkan sewaktu kita masih berada di bangku sekolah pasti berguna untuk kita di masa depan. Entah untuk apa, tapi nggak ada ruginya kita belajar dan memperhatikan guru yang sedang berusaha menjelaskan sejelas-jelasnya agar kita benar-benar memahami dan menguasai.

Guru juga manusia. Guru juga bisa melakukan kesalahan. Jangalah kita menjatuhkannya hanya karena suatu kesalahan yang sebenarnya tidak ada apa-apanya dibandingkan kesalah kita terhadap beliau. Seperti, kita yang sering tidak mengacuhkan guru, berlaku kasar, memotong sewaktu guru mengajar, dkk.

Guru juga manusia. Guru juga punya perasaan. Walaupun terkadang beliau tidak mengungkapkan secara langsung, pasti beliau sakit hati apabila kita tidak memperhatikan, asyik sendiri, bahkan berkata "lapo se? geje wong iki.". Bagaimana kalau anda yang diperlakukan seperti itu? Sakit hati kan?

Mulai sekarang, hargailah mereka, para guru yang benar-benar mengabdikan hidupnya untuk kita agar kita bisa lebih sukses kelak.
Seperti kata guru kita sewaktu SD, "Guru adalah orang tua kedua." hormatilah gurumu seperti anda menghormati kedua orang tua anda.

:)


*ditulis sebagai bentuk terima kasih saya kepada Ibu Dihan W.H , guru pengajar Bahasa Indonesia kelas XI IA 2 09/10 SMAN 4 Surabaya, yang telah sabar mengajar walaupun sebagian besar siswa menganggap remeh pelajaran Bahasa Indonesia :)
Terima kasih banyak, Bu. Semoga Allah selalu melindungi Ibu :)

No comments:

Post a Comment