Friday, 2 October 2009

Umbrella Over Head

hujan lagi.
di setiap rintiknya yang membasahi pucuk daun. jendela berembun. dingin tentu.
ia termenung duduk di dekat jendela kamar sambil menatap ke luar tanpa arah. melamun.
digenggamnya sebuah telepon seluler berwarna merah yang sedari tadi berkedip-kedip, menandakan ada panggilan masuk.
ia tetap melamun. tak menggubris apa yang terjadi.


dilihat siapa yang baru saja menghubunginya. dia hanya diam tak berekspresi. raut mukanya tak menandakan apa-apa. dengan langkah gontai ia berpindah ke depan meja belajar, meletakkan telepon selulernya dan beranjak pergi lagi. kali ini keluar kamar.


entah apa yang ada dibenaknya kali ini. mendung sedari pagi membuat ia muram, senyum tak terkembang di pipinya.dia sama sekali tidak menangis, dan tidak berbicara sedikit pun.


dia kembali. menutup pintu kamar yang berwarna putih dengan hiasan renda ditepinya. menghela nafas panjang seakan ia baru saja melewati halang rintang yang berat. ia menyalakan radio-tape yang ada di meja kecil di sudut kamar. memutar sebuah lagu favoritnya dikala ia sedang tak begitu senang.
kembali ia menatap ke luar. sudah hampir seharian. tak peduli ibu dan adik memanggil namanya, ia tetap tak bergeming dari jendela.


4 bulan yang lalu Luna pindah ke Surabaya. kaget memang. apalagi ia berasal dari kota besar Jakarta. sempat adu mulut dengan ayah karena kepindahannya. Luna tak ingin pergi dari ibukota. ia suka tinggal disana bersama teman-teman yang sudah lama menemaninya. Luna bersikeras untuk tinggal walaupun kedua orangtuanya beserta kaka adiknya pindah ke Surabaya. ibu tak mengijinkan. terlalu beresiko katanya. Luna kalah telak.


telepon genggamnya berbunyi singkat. tanda ada pesan pendek untuknya. tetap ia tak pergi untuk membuka apa isi pesan tersebut. ia masih terhanyut mengikuti arah rintik hujan seraya memaknai setiap lirik lagu itu. apa sih yang sedang dipikirnya? mas Rizky sudah mengajaknya keluar rumah agar ia kembali senang, tapi ia menolak. dek Arel juga sudah mengajaknya membuat kue, tetap ia menolak. ia bilang ia tak ingin diganggu.


"Kenapa ayah harus pindah tugas? Bukankah sudah pasti kita akan menetap di Jakarta seperti apa yang ayah bilang dahulu?"
"Ayahmu hanya pekerja, bukan atasan. Ayahmu hanya menjalankan apa yang diperintahkan untuknya."
"Mengapa sekarang? Mengapa tidak dulu ketika aku masih kecil, ketika aku belum tahu apa-apa?", Luna menangis, pergi dari hadapan ibunya.


itu 4 bulan yang lalu.
kini ia sudah beradaptasi. tapi katanya ia tak diterima. atau memang ia sengaja agar tidak diterima?
sekolah Luna yang sekarang tidak buruk. sama seperti yang dulu namun hanya beda kawan. dia tetap berada di lingkungan orang-orang punya. seharusnya hal itu membuat ia senang. ternyata tidak. Luna makin jarang berkumpul bersama keluarga, ia lebih sering berdiam diri di kamar, mendengarkan lagu-lagu lembut.membiarkan dirinya larut.


oh tentu, aku juga kangen kamu. kangen ketika kita sama-sama menari dibawah hujan sore. akhirnya dibaca juga pesan singkat itu. kita akan menari lagi. tenang saja. ia kembali menghela nafas. kali ini agak panjang. hampir saja ia menangis, buru-buru diseka dengan ujung kain bajunya.


"Mbak. ada yang nyriin tuh.", suara dek Arel didepan pintu. ia tak mengetuk pintu.
Luna membuka pintunya,"Bilang aja aku lagi sakit." ditutup kembali pintu kamar.
"Tapi katanya penting, dia mau ketemu.", dek Arel masih berdiri di depan pintu.
Luna agak kesal tetapi akhirnya dia keluar juga.


wajahnya pucat, tidak bergairah. sedih mengikutinya.
ia menuruni tangga perlahan-lahan. enggan meninggalkan kamarnya yang nyaman dan hangat. enggan meninggalkan suasana kesedihan disana bersama rintik hujan.
Luna membiarkan rambut panjangnya tergerai begitu saja tak disisir. ia hanya mengenakan piyama yang sedari tadi pagi tak digantinya. piyama merah dengan bunga-bunga ungu sebagai motifnya. sangat ia sayang karena pemberian dari yang teristimewa.


ketika ia tiba di ruang tamu yang ia lihat hanyalah punggung seorang lelaki. tampaknya ia datang dari jauh. ia hanya membawa tas ransel biru tua. bajunya sudah agak basah terkena hujan yang tak kunjung berhenti.


"Siapa ya?", Luna bersuara lirih.
laki-laki itu berbalik mengahadap Luna. Luna kaget. ia tersenyum. langsung dipeluknya laki-laki itu. tak peduli betapa lusuhnya mereka berdua.


"Azrel! kapan kamu dateng?"
"Barusan, aku hanya ingin memberi kejutan kecil untukmu.", Azrel nama laki-laki itu,"siap untuk menari?"
Luna mengangguk senang. tak peduli apa yang tengah terjadi, ia langsung menarik lengan Azrel keluar rumah. menuju rintik hujan.


"Tahukah kamu betapa tersiksanya aku?"
"Jangan kau siksa dirimu. itu juga menyakitiku."


Dear Diary,
setelah 4 bulan aku nggak ketemu bestfriendku, Azrel, akhirnya dia dateng juga tepat di hari ketika aku bertemu dengannya di tengah hujan di Jakarta. dia dateng seadanya, tak ada rencana karena hanya ingin melihatku hari ini. sungguh aku tak percaya. seharian aku diam di dekat jendela membayangkan dirinya ternyata ia benar-benar dateng.
kami menghabiskan waktu dibawah hujan lagi. persis seperti saat itu. saat paling indah bagiku.
maaf sudah membuat mas Rizky dan dek Arel khawatir. aku sengaja tak bercerita supaya mereka tak berusaha menghiburku. entah mengapa aku menikmati tersiksanya diriku akan rindu.
semoga aku bisa ketemu Azrel lagi, tepat di hari hujan seperti hari ini.



--fin--

No comments:

Post a Comment